Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Jenis-Jenis Mikroskop yang dibutuhkan Laboratorium

Jenis-Jenis Mikroskop yang dibutuhkan Laboratorium

Tuesday, 02 June 2020

Jenis-Jenis Mikroskop yang dibutuhkan Laboratorium

Mikroskop merupakan alat penting yang digunakan dalam pengujian mikroskopik. Namun mikroskop tidak hanya hadir dalam satu jenis melainkan banyak jenis. Bahkan setiap jenis mikroskop didesain sesuai dengan peruntukannya masing-masing, sehingga pemilihan mikroskop harus dilakukan secara tepat untuk mendapatkan hasil pengamatan yang optimal.

Ditinjau dari sejarahnya, mikroskop yang pertama kali dibuat oleh Zacharias Janssen dan dibantu oleh Hans Janssen pada tahun 1590 memiliki kemampuan perbesaran objek 150 kali dari ukuran asli. Temuan mikroskop saat itu mendorong para ilmuan lain untuk mengembangkannya, seperti Galileo Galilei (Italia) yang menyelesaikan pembuatan mikroskop pada tahun 1609. Setelah itu, seorang berkebangsaan Belanda bernama Antony Van Leeuwenhoek (1632-1723) membuat mikroskop dengan kemampuan perbesaran objek 200 - 300 kali dari ukuran asli. Penemuan-penemuan Leeuwenhoek yang diamatinya dengan mikroskop yang akhirnya melahirkan ilmu baru yang sekarang dikenal dengan mikrobiologi.

Akan tetapi perkembangan mikroskop tidak hanya sampai pada perkembangan penemuan dan pembuatan mikroskop oleh Leewenhook. Perkembangan mikroskop masih terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi hingga sekarang ini maupun kedepannya yang menghasilkan berbagai jenis dan tipe mikroskop untuk digunakan dalam pengamatan objek mikroskopis.

Jenis-Jenis Mikroskop

Gambar 1. Bagian-bagian Mikroskop

 

Bagian Pada Mikroskop Laboratorium

Umumnya mikroskop memiliki bagian berbeda, oleh karena itu terdapat beberapa bagian pada mikroskop laboratorium.

a) Bagian Optik :

  • Lensa Okuler, yaitu lensa yang terdapat di bagian ujung atas tabung pada gambar, pengamat melihat objek melalui lensa ini. Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar kembali bayangan dari lensa objektif. Lensa okuler biasanya memiliki perbesaran 6, 10, atau 12 kali.
  • Lensa Objektif, yaitu lensa yang dekat dengan objek. Biasanya terdapat 3 lensa objektif pada mikroskop, yaitu dengan perbesaran 10, 40, atau 100 kali. Saat menggunakan lensa objektif pengamat harus mengoleskan minyak emersi ke bagian objek, minyak emersi ini berfungsi sebagai pelumas dan untuk memperjelas bayangan benda, karena saat perbesaran 100 kali, letak lensa dengan objek yang diamati sangat dekat, bahkan kadang bersentuhan.
  • Kondensor, yaitu bagian yang dapat diputar naik turun yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan memusatkannya ke objek.
  • Diafragma, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk dan mengenai preparat.
  • Cermin, yaitu bagian yang berfungsi untuk menerima dan mengarahkan cahaya yang diterima. Cermin mengarahkan cahaya dengan cara memantulkan cahaya tersebut. Namun dengan kemajuan perkembangan dan teknologi, fungsi cermin untuk mikroskop modern telah digantikan oleh sumber cahaya berupa lampu.

b) Bagian Mekanik (non-optik)

  • Revolver, yaitu bagian yang berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif yang diinginkan.
  • Tabung mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk menghubungkan lensa objektif dan lensa okuler mikroskop.
  • Lengan mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat pengamat memegang mikroskop.
  • Meja preparat, yaitu bagian yang berfungsi untuk tempat menempatkan objek yang akan diamati, pada meja benda terdapat penjepit objek, yang menjaga objek tetap ditempat yang diinginkan.
  • Makrometer (pemutar kasar), yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tabung secara cepat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari gambaran objek yang diinginkan.
  • Mikrometer (pemutar halus), yaitu bagian yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tabung secara lambat untuk pengaturan mendapatkan kejelasan dari gambaran objek yang diinginkan.
  • Kaki mikroskop, yaitu bagian yang berfungsi sebagai penyangga yang menjaga mikroskop tetap pada tempat yang diinginkan, dan juga untuk tempat memegang mikroskop saat mikroskop hendak dipindahkan.

Jenis Aplikasi Mikroskop Laboratorium

Umumnya mikroskop dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan perbedaan sumber energinya, yaitu mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.

1. Mikroskop Cahaya​

Mikroskop cahaya menggunakan cahaya sebagai media untuk mengirimkan gambar ke mata kita, yang berfungsi untuk mengamati bagian-bagian mikroskopis dan transparan. Sumber cahaya pada mikroskop cahaya bisa didapat dari berbagai sumber seperti cahaya matahari ataupun cahaya lampu penerang. Mikroskop cahaya memerlukan lensa untuk membantu menangkap dan memusatkan cahaya pada objek yang akan diamati. Biasanya mikroskop cahaya memiliki tiga lensa objektif dengan perbesaran lemah (4-10 kali), sedang (40 kali), kuat (100 kali). Sedangkan untuk lensa okuler yang dimiliki oleh mikroskop cahaya memiliki perbesaran 10 kali. Jadi, perbesaran minimum yang dimiliki mikroskop cahaya sebesar 40-100 kali dan perbesaran maksimumnya sebesar 1000 kali.

Berdasarkan jumlah lensa okuler, mikroskop cahaya terdiri dari mikroskop monokuler, binokuler dan trinokuler. Sedangkan berdasarkan aplikasinya, mikroskop cahaya dapat dibedakan juga menjadi beberapa diantaranya yaitu:

a) Mikroskop Medan Terang (Bright field microscope)

Mikroskop compound memerlukan kualitas yang tinggi tidak hanya pada objektif dan okuler tapi juga pada kondensor submeja objek. Mikroskop ini yang paling umum digunakan, objek yang digunakan harus tembus cahaya dan berbentuk 2D apabila pengamatan pada benda yang 3D maka akan ada deepth focus dan ada bagian yang fokus dan ada bagian lain yang blur.

Mikroskop compound dapat digunakan untuk mengamati spesiemen yang lebih kecil, seperti sampel darah, bakteri, mikroorganisme kolam/air, dan benda kecil lainnya. Mikroskop ini memiliki 3 sampai 5 lensa objektif dengan rentang pembesaran 4x hingga 100x. jika diasumsikan pembesaran lensa okuler 10x dan lensa objektif 100x, total pembesaran akan menjadi 1000 kali.

Suatu alat dengan lensa objektif. Lensanya harus berdiameter besar karena diatasnya akan dipasangi sistem lensa lain yang terpisah dalam posisi parallel dan jalur sinar terpisah untuk mata kanan dan kiri. Mikroskop ini tidak memiliki kondensor, tapi memiliki ke dalaman bidang pandang dan jarak kerja yang panjang. Kekurangan utama dari tipe objek mikroskop stereo adalah bahwa aperture numerical dari sistem dibatasi oleh adanya jalur beam/cahaya ganda. Karenanya seseorang harus menggunakan mikroskop majemuk, yang memiliki objektif dengan diameter yang lebih besar dan karenanya meningkatkan aperture numerical.

Mikroskop stereo dapat digunakan untuk mengamati spesiemen yang lebih besar, seperti serangga, daun, batu, permata, fosil, perangko, koin dan lainnya. Biasanya hanya pembesaran 6.5x hingga 45x yang dibutuhkan spesimen untuk diamati.

b) Mikroskop Fluorescence

Mikroskop fluorescence hampir sama dengan mikroskop cahaya biasa dengan tambahan fitur untuk meningkatkan kemampuannya. Pada mikroskop konvensional menggunakan cahaya tampak (400 - 700 nanometer) untuk iluminasi dan menghasilkan gambar sampel yang diperbesar. Sementara mikroskop fluorescence, sebaliknya, menggunakan intensitas cahaya yang lebih tinggi, yang mengeksitasi bagian berpendar pada sampel. Mikroskop fluorescence sering digunakan untuk menggambarkan fitur khusus dari spesimen kecil seperti mikroba. Juga digunakan untuk secara visual meningkatkan fitur 3-D pada skala kecil. Selain itu juga digunakan untuk studi viabilitas pada populasi sel, dan menampikan materi genetik pada sel (DNA dan RNA).

c) Mikroskop Fase Kontras

Mikroskop tersebut merupakan mikroskop cahaya, pada permukaan bawah meja objek dan lensa objektifnya dipasang sebuah perlengkapan pewarnaan fase kontras. Alat digunakan untuk melihat struktur sel dalam keadaan hidup secara teliti tanpa menggunakan bahan pewarna.

d) Mikroskop Inverted (Inverted microscope)

Mikroskop inverted adalah mikroskop cahaya dengan sumber cahaya dan kondensor terletak diatas meja objek (kebalikan dari mikroskop cahaya biasa), digunakan untuk pengamatan biakan jaringan.

2. Mikroskop Elektron

Mikroskop ini memiliki daya pembesaran yang sangat tinggi (100.000 kali). Sumber cahaya berasal dari berkas-berkas elektron suatu lampu katoda. Fungsi mikroskop elektron untuk mikroorganisme yang sangat kecil seperti virus. Mikroskop ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Scannning electron microscope (SEM) dan Transmition electron microscope (TEM).  Komponen utama yang sama antar SEM dan TEM adalah : Sumber elektron, Serangkaian lensa elektromagnetik dan elektrostatik untuk mengendalikan bentuk dan lintasan berkas elektron, Elektron Apertur. Semua komponen ini berada di dalam ruang yang berada di bawah vakum yang tinggi.

Tips Memilih Mikroskop Sesuai Kebutuhan Laboratorium

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih mikroskop sesuai dengan kebutuhan pengamatan di laboratorium adalah sebagai berikut:

  1. Pilihlah jenis mikroskop yang aplikasinya sesuai dengan jenis objek yang akan diamati.
  2. Pembesaran dan resolusi adalah fitur penting yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil pengamatan yang terbaik. Pembesaran dan resolusi ini disesuaikan dengan pemilihan lensa okuler dan objektif yang disesuaikan dengan objek yang diamati. Untuk itu perlu diketahui berapa pembesaran minimum dan maksimum yang dibutuhkan.
  3. Memerhatikan sumber cahaya. Terdapat empat pencahayaan utama dari mikroskop yaitu halogen, LED, flourescent atau neon, dan tungsten. Halogen menghasilkan cahaya putih yang kuat dan dapat disesuaikan. LED dapat digunakan dengan baterai isi ulang. Flourescent Light biasanya terdapat pada mikroskop dengan keperluan penelitian biologi dan aplikasi serupa.
  4. Kualitas optik ditentukan oleh lensa objektif dan lensa okulernya. Untuk standar yang baik, lensa objektifnya berupa lensa akromatik. Selain itu, kebutuhan lensa okuler harus diperhatikan apakah monokuler, binokuler, atau trinokuler. Mikroskop monokuler hanya mampu melihat objek secara dua dimensi yaitu terbatas pada panjang dan lebar objeknya saja, sementara mikroskop binokuler mampu melihat objek secara 3 dimensi: panjang, lebar dan tinggi. Kebanyakan mikroskop monokuler tidak termasuk dalam penggunaan mekanis yang canggih, dan untuk mikroskop binokuler masuk kedalam penggunaan mekanis. Sedangkan trinokuler digunakan untuk keperluan mikrofotografi.
  5. Penggunaan aksesoris tambahan seperti kamera pada mikroskop dapat dijadikan sebagai referensi agar hasil pengamatan lebih optimal. 

 

Baca Juga : Nabertherm Laboratory Muffle Furnace

Referensi:

https://www.kompasiana.com/alatlabor/54f90feca33311ae068b456b/sejarah-penemuan-mikroskop

https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/8328/Pengertian-Fungsi-dan-Bagian-Mikroskop

https://alponsin.wordpress.com/2019/06/12/pengenalan-jenis-jenis-mikroskop/

Previous Article

Moisture Analyzer untuk Kadar Padatan Total (Total Solid) dalam Cat

Tuesday, 26 May 2020
VIEW DETAILS

Next Article

Refraktometer : Analog atau Digital?

Friday, 05 June 2020
VIEW DETAILS