Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Monitoring Suhu dan Kelembaban di Ruang Operasi Rumah Sakit

Monitoring Suhu dan Kelembaban di Ruang Operasi Rumah Sakit

Monday, 10 June 2019

Ruang Operasi Rumah Sakit merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan. Kamar operasi atau kamar bedah adalah ruangan khusus di rumah sakit yang diperlukan untuk melakukan tindakan pembedahan baik elektif maupun akut yang membutuhkan keadaan steril.

Sesuai   dengan   keputusan   Menteri   Kesehatan   RI   Nomor   1204/MENKES/SK/X2004, persyaratan ruang operasi adalah sebagai berikut :

  • Indeks angka kuman 10 CFU/m
  • Indeks pencahayaan 300 – 500 lux
  • Standar suhu 19 – 24˚ C
  • Kelembaban 45 – 60 %
  • Tekanan udara positif
  • Indeks kebisingan 45 dBA

Suhu dan kelembaban

Salah satu persyaratan di ruang operasi adalah suhu.  Suhu dikamar operasi di daerah tropis sekitar 19˚ - 22˚ C.

Suhu dan Kelembaban Kamar Operasi 

Dua   komponen   penting   dari   AC   adalah   suhu   dan   kelembaban.   Setelah   udara  luar melewati filter, udara mengalami pengkondisian untuk suhu dan kelembaban kontrol.

Pengontrolan Suhu

Pengontrolan suhu operasi meliputi pemanasan dan pendinginan system untuk menjaga setpoint temperatur di daerah yang berbeda dari bangunan. Suhu udara yang dingin sekitar 68˚ F -73˚ F. Suhu yang lebih hangat (75˚ F) diperlukan di daerah yang membutuhkan derajat yang lebih besar dari kenyaman pasien. Kebanyakan zona lainnya menggunakan kisaran suhu 70˚ F -75˚ F.

Banyak dokter lebih menyukai suhu dingin di ruang operasi dengan alasan karena selama pembedahan mereka harus memakai 3 lapis baju untuk melindungi diri dari darah. Suhu dingin pada ruang operasi lebih baik bagi dokter dan pasien. The Perioperative Standards and Recommended Practices 2009 menyimpulkan bahwa suhu normal kamar operasi antara 68˚ F sampai 73˚ F (20˚ C - 22˚ C).

Untuk operasi pada bayi atau anak dengan suhu 71˚ F sampai 73˚ F (21˚ C - 22˚ C). Operasi pada dewasa suhu kamar operasi sekitar 68˚ F sampai 71˚ F (20˚ C - 21˚ C). Namun, suhu kamar operasi dibawah 68˚ F (20˚ C) tidak menimbulkan kerugian  maupun ketidaknyamanan pada sebagian pasien. Jadi jika para ahli bedah lebih menyukai suhu dingin di ruang operasi untuk kenyaman dalam operasi yang lama atau untuk beberapa manfaat bagi pasien atau dalam aktualisasi yang lebih baik menurut prosedur.

Pertahanan suhu bayi dan anak saat pembedahan

Ketika terjadi perbedaan antara suhu rektal dengan suhu ruangan pada neonatus sekitar lebih dari 2˚C sampai 3˚C, bayi harus lebih banyak menghasilkan panas untuk mempertahankan suhu tubuh. Hill and Rahimtulla (1965) and Scope (1966) menemukan bahwa konsumsi oksigen pada bayi premature meningkat 25% ketika suhu ruangan turun 2˚C.

Anak lebih mudah kehilangan suhu badan dibandingkan orang dewasa karena mereka relative memiliki wilayah permukaan yang lebih besar dan perlindungan tubuh yang tidak baik terhadap panas. Hal ini sangat penting, karena hipotermia dapat mempengaruhi metabolism obat, anestesi dan koagulasi darah.

  • Cegah hipotermia di ruang bedah dengan mematikan pendingin, menghangatkan ruangan (buat suhu ruangan > 28˚C ketika melakukan pembedahan pada bayi dan anak) dan menyelimuti bagian terbuka tubuh pasien.
  • Gunakan cairan hangat (tetapi jangan terlalu panas)
  • Hindari prosedur yang memakan waktu (>1 jam), kecuali  jika pasien dapat dijaga tetap
  • Observasi suhu badan pasien sesering mungkin sampai selesai pembedahan

Kelembaban Udara

Kelembaban dikondisikan untuk meminimalkan proliferasi dan penyebaran spora jamur dan bakteri ditularkan melalui air di seluruh udara dalam ruangan. Pengendalian kelembaban meliputi dua teknik yaitu humidifikasi dan dehumidifikasi sistem untuk mempertahankan tingkat kelembaban minimum dan maksimum dalam ruangan.

Jika proses operasi membutuhkan kelembaban tingkat yang lebih tinggi (tingkat biasanya RH kurang dari 40%) harus menggunakan sistem dehumidifier desiccant. Untuk mengkondisikan kelembaban dibawah 50% akan sangat sulit menggunakan dengan sistem pendinginan standar. Sistem distribusi udara  di ruang operasi (OR) dapat mengurangi atau meningkatkan frekuensi infeksi pada kamar bedah, tergantung pada desain HVAC yang diterapkan.

 

Sesuai keputusan   Menteri   Kesehatan   RI   Nomor   1204/MENKES/SK/X2004 bahwa suhu pada ruang operasi tidak boleh lebih dari 240C. Jika lebih dari suhu tersebut maka kulit pasien yang ditutup handuk steril akan cenderung berkeringat sehingga memungkinkan terjadi peningkatan jumlah kuman dalam pori-pori kulit. Kelembaban udara ruangan tidak boleh lebih dari 50%, karena jika lebih, jamur akan mudah tumbuh. Maka dari itu, suhu dan kelembaban di ruang operasi harus selalu dipantau minimal tiga kali sehari, dengan alat pengukur tingkat kelembaban dan suhu ruangan, yang disebut thermohygrometer.

Akan lebih efektif lagi apabila thermohygrometer yang ada di dalam ruang operasi dilengkapi dengan adanya penyimpanan data (data logger). Data logging merupakan historical data files untuk setiap kejadian yang terjadi pada sistem, yang berguna untuk keperluan pemeliharaan ataupun review data-data sebelum dan sesudah kejadian. Saat ini periode waktu penyimpanan data-data harus mampu dilakukan selama berbulan-bulan atau dalam waktu tahunan. Data logger  (perekam data)  adalah suatu alat rekam elektronik yang dapat merekam data pada saat waktu yang berlalu, biasanya digunakan untuk penyimpanan data real time. Fungsi utama data logger suhu salah satunya adalah  untuk memonitor suhu secara terus-menerus untuk sistem yang besar. 

Gambar 2. Sistem Data Logger

Dengan adanya penyimpanan data dapat mencegah kehilangan data suhu dan kelembaban pada hari itu, dimana suhu dan kelembaban harus dipantau minimal 2 atau 3 kali sehari di ruang operasi. Data suhu dan kelembaban tersebut nantinya akan di arsipkan dan digunakan sebagai salah satu persyaratan penting untuk akreditasi rumah sakit setiap tiga tahun sekali. Dengan adanya thermohygrometer yang dilengkapi dengan penyimpanan data, user dapat melihat suhu dan kelembaban ruangan pada saat itu dan data-data suhu dan kelembaban akan tersimpan rapi tanpa harus mencatat namun akan tetap bisa terpantau. Apabila suhu dan kelembaban terpantau maka penyebaran infeksi yang disebabkan jamur di ruangan operasi dapat dicegah dan tingkat kerusakan alat akibat suhu dan kelembaban dapat berkurang.

 

EBRO EBI 20-TH1 merupakan data logger yang cocok digunakan untuk memonitoring suhu dan kelembaban ruang operasi di rumah sakit.  Range suhu pada data logger ini -300C hingga +700C dan kelembabannya berkisar antara 0% rH hingga 100%rH.

Gambar 2. EBI 20-TH1 

 

 

Referensi:

https://dokumen.tips/documents/pengaturan-suhu-kamar-operasi-referat.html

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/15967/BAB%20I.pdf?sequence=6&isAllowed=y

http://www.saka.co.id/news-detail/data-logger-sebagai-alat-ukur-suhu-pada-oven-

mudanews.com

Previous Article

Metode Praktis untuk Pengecekkan Minyak dan Lemak dalam Air limbah (Oil and Grease in Wastewater)

Tuesday, 28 May 2019
VIEW DETAILS

Next Article

Elektrokimia : Deionized water atau distilled water?

Friday, 14 June 2019
VIEW DETAILS