Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
PENENTUAN KADAR FENOL DALAM AIR LIMBAH

PENENTUAN KADAR FENOL DALAM AIR LIMBAH

Tuesday, 06 April 2021

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau yang disebut juga dengan Wastewater Treatment Plant (WWTP)  adalah rangkaian proses yang dilakukan untuk menghilangkan zat organik dan anorganik dari air, baik itu untuk pengolahan air limbah pertanian, pengolahan air limbah perkotaan, dan pengolahan air limbah industri, termasuk juga aktivitas pertambangan. Air limbah biasanya mengandung zat-zat yang sangat bervariasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengolahan air limbah sebelum dibuang ke lingkungan dan digunakan kembali. Secara umum, karakteristik air limbah dibagi menjadi karakteristik fisik, kimiawi dan biologi, seperti yang telah dijabarkan dalam artikel-artikel sebelumnya. Salah satu parameter kimia yang penting untuk dimonitoring dalam air limbah adalah kadar fenol, hal ini juga tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah dan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 06-6989.21 Tahun 2004 Tentang Cara Uji Kadar Fenol dalam Air dan Air Limbah.

Senyawa Fenol dalam Air Limbah

Senyawa fenol seringkali dijumpai dalam lingkungan perairan yang berasal dari aliran air lumpur pemboran minyak bumi, buangan limbah rumah tangga, dan industri tekstil, perekat, obat dan lainnya. Fenol dikenal juga sebagai monohidroksibenzena yang merupakan kristal putih yang dapat larut dalam air pada suhu ruang. Fenol (C6H5OH) merupakan senyawa organik  yang berbau khas dan bersifat racun serta korosif terhadap kulit (dapat menimbulkan iritasi).

Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis senyawa fenol yang teridentifikasi dalam limbah, yaitu  fenol, 4-kloro fenol, 2-kloro4,5-dimetilfenol, dan 4-metil-2,6-di-tbutilfenol. Keempat jenis senyawa fenol tersebut pada umumnya termasuk kelompok zat yang karsinogenik bagi manusia.  Selain terhadap manusia, senyawa fenol juga karsinogenik terhadap makhluk hidup di air lainnya seperti ikan.

Adapun ambang batas kadar fenol dalam air limbah pada beberapa industri yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Ambang batas kadar fenol dalam air limbah industri

Industri

Kadar paling tinggi (mg/L)

Kayu lapis

0,25

Pengolahan obat tradisional atau jamu

0,2

Rokok dan/atau cerutu

0,5

Elektronika

0,5

Petrokimia hulu

0,5

Asam tereftalat (PTA)

1

Cat

0,20

Farmasi

1,0

Pestisida

2

Tekstil

0,05

Fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun

0,5

Sedangkan untuk batas maksimum kadar fenol dalam perairan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air adalah 2,00 mg/L. Oleh karena itu, monitoring kadar fenol dalam air limbah dilakukan agar tidak melebihi ambang batas yang telah dianjurkan atau ditetapkan oleh pemerintah, sehingga dapat menjaga kualitas air yang telah diolah dari limbah cair.

Monitoring Kadar Fenol dalam Air Limbah

Senyawa fenol yang diketahui bersifat karsinogenik untuk manusia maupun makhluk hidup lainnya ini meskipun senyawa fenol dapat dengan cepat hilang diudara, namun di dalam air senyawa fenol dapat bertahan selama seminggu atau lebih. Selain itu, senyawa fenol yang tertinggal di dalam tanah dapat terdegradasi oleh bakteri atau mikroorganisme lain. Sehingga monitoring dalam air limbah penting untuk dilakukan.

Monitoring kadar fenol dalam air limbah dapat dilakukan dengan menggunakan larutan standar yang komersial dan/atau tanpa larutan standar komersial. Dalam memonitoring kadar fenol dalam air limbah tanpa menggunakan larutan standar fenol komersial, pengujian dilakukan dalam 4 langkah/step yang dirangkum dalam skema pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Skema Langkah/Step Pengujian Kadar Fenol dalam Air limbah

Step 1 yaitu membuat kurva kalibrasi dengan larutan standar fenol.

Step 2 yaitu larutan fenol didestilasi dengan instrumen destilasi semi-automatic.

Step 3 selanjutnya hasil desitilasi diencerkan dengan air tipe II, dan ditambahkan larutan amonium klorida 2% dan pH larutan menjadi 10,0 ± 0,2 dengan menambahkan amonia 25%. Kemudian larutan ditambahkan larutan Aminoantipyrine dan larutan kalium ferricyanide yang dilakukan di dalam corong pemisah dan setelah 5 menit ditambahkan kloroform dan dibiarkan hingga fase organik mengendap. Kemudian disaring dan diambil filtratnya.

Step 4 filtrat yang telah didapatkan pada Step 3 dihitung dengan menggunakan spektrofotometer pada kurva kalibrasi yang telah dibuatkan.

Sedangkan untuk lebih memudahkan dalam memonitoring kadar fenol dalam air limbah, pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan larutan standar  komersial dan dilakukan pengujian yang sesuai dengan prosedur yang telah disediakan oleh pabrik dan disesuaikan dengan range kadar fenol yang diinginkan dalam pengujian dengan menggunakan spektrofotometer.

Previous Article

Ultrapure Water dalam Analisis pada Industri Cat

Monday, 29 March 2021
VIEW DETAILS

Next Article

Kadar Abu pada Kertas

Tuesday, 13 April 2021
VIEW DETAILS