Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Pengujian Climatic dan Temperatur dalam Tekstil

Pengujian Climatic dan Temperatur dalam Tekstil

Monday, 01 July 2019

Istilah “tekstil” berasal dari bahasa Latin “textilis”; yang merupakan derivasi (penurunan) dari kata “textere”, yang berarti “menenun”. Kemudian, Brown dengan rinci mendiskusikan metode penyilangan atau pengkaitan benang menjadi sebuah kain (fabric). Secara teknis, elemen dasar tekstil adalah serat, benang, kain tenun  (kemudian ketiganya disebut “substrate”) dan bahan pewarna (colourant) yang biasa digunakan pada tahap penyempurnaan (finishing treatment). Substrat yang kebanyakan berserat/berserabut (fibrous) dan bersusun (texture atau fabricate) adalah sebagai akseptor bahan pewarna. Sedangkan bahan pewarna adalah zat atau substansi yang memiliki warna, baik yang larut maupun tidak larut dalam medium pelarut (yang biasanya air). Menurut Indictor, tekstil historis dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu: kondisi fisik materi, kualitas dan sifat yang tertentu (peculiarity) pada proses manufaktur (produksi dengan tangan atau mesin) dan kegunaannya.

 

Seperti halnya barang organik pada umumnya, tekstil sangat rentan atau mudah mengalami kerusakan. Proses kerusakan tekstil dapat terjadi secara fisik ataupun kimiawi, seperti: robek, noda, pelapukan/ pembubukan dan korosi. Pengaruh lingkungan seperti cahaya, kelembaban, suhu udara dan polusi merupakan penyebab utama terjadinya proses kerusakan itu. Kadangkala bahan pembentuk tekstil, seperti: unsur logam yang berwujud mordan atau garam logam dalam proses pencelupan, atau benang logam juga merupakan faktor internal kerusakan. Apalagi kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis, serta jenis bahan tekstil yang merupakan sumber makanan (nutrin) bagi organisme hidup telah menjadikan tekstil sebagai sasaran serangga atau jamur.

Sifat-sifat serat tekstil dalam banyak kasus sangat kuat dipengaruhi oleh kadar air atmosfer. Banyak fiber khususnya, yang alami bersifat higroskopis, mereka mampu menyerap uap air dari suasana lembab dan untuk menyerahkan air ke atmosfer kering. Jika waktunya cukup maka, keseimbangan akan tercapai. Jumlah kelembaban yang mengandung serat tersebut sangat mempengaruhi sifat fisik mereka.

Kelembaban relative (relative humidity (RH)) mempengaruhi bagian dari bahan tekstil  dan karena itu sifat bahan tekstil dipengaruhi oleh bagiannya. Perlu untuk menentukan kondisi atmosfer dalam melakukan suatu  pengujian tekstil. Perubahan penting yang terjadi pada sifat tekstil adalah sebagai perubahan kadar air, hal itu diperlukan untuk menentukan kondisi atmosfer dalam melakukan pengujian. Oleh karena itu, kondisi standar telah disetujui untuk tujuan pengujian dan didefinisikan sebagai hubungan kelembaban relatif  65% dan suhu 20˚C. Untuk tujuan praktis, toleransi tertentu dalam nilai-nilai ini diizinkan sehingga untuk atmosfer pengujian, RH adalah 65% ± 2%, 20˚C ± 2˚C. Untuk wilayah tropis suhu 27˚C ± 2˚C dapat digunakan.

Karena paparan tekstil sebelumnya terhadap kelembaban tinggi atau rendah dapat memengaruhi kesetimbangan kelembaban, maka untuk melakukan pengujian sifat fisik tekstil terdapat prosedur untuk mengkondisikan material saat pengujian. Menurut American Standard Testing and Material (ASTM), peralatan yang akan digunakan dalam pengkondisian dan pengujian tekstil harus mencakup ruang pengkondisian atau chamber, psikrometer berventilasi dengan aspirasi, kabinet prakondisi, ruang, atau wadah yang sesuai, keseimbangan, dan beberapa rak pendingin rak. Ruang atau ruang pengkondisian harus terdiri dari peralatan untuk mempertahankan atmosfer standar untuk pengujian tekstil di seluruh ruangan atau ruang dalam toleransi yang diberikan dan termasuk fasilitas untuk sirkulasi udara di atas semua permukaan sampel yang terpapar atau spesimen dan peralatan untuk merekam suhu dan kelembaban relatif dari udara di ruang atau ruang pendingin. Sampel atau spesimen yang membutuhkan prekondisi harus dibawa ke kadar air yang relatif rendah di atmosfer tertentu. Sampel atau spesimen yang memerlukan pengkondisian harus dibawa ke kesetimbangan kelembaban untuk pengujian di atmosfer standar untuk pengujian tekstil, atau bila diperlukan.

Untuk melakukan pengujian tersebut terhadap material tekstil, environmental test chamber CTC 256 adalah pilihan yang tepat. Duo uji lingkungan untuk uji suhu dan uji iklim mensimulasikan suasana sempurna sesuai dengan standar dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk proses tertentu melalui perubahan suhu yang cepat.

Gambar 1. CTC 256 Climatic Test Chamber

 

 

Referensi:

https://www.academia.edu/19594852/Konservasi_Tekstil_2017

https://www.astm.org/Standards/D1776.htm

https://www.memmert.com/products/climate-chambers/environmental-test-chambers/#!filters=%7B%7D

rumahulin.com

Previous Article

Pengukuran Dissolved Oxygen (DO) pada Air Limbah menggunakan Probe dengan Teknologi Luminescence

Sunday, 30 June 2019
VIEW DETAILS

Next Article

Analisa Neutral Detergent Fiber pada Pakan

Wednesday, 31 July 2019
VIEW DETAILS