Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Pengukuran Partikel Di Dalam Obat

Pengukuran Partikel Di Dalam Obat

Friday, 09 October 2015

     Kemampuan distribusi obat dalam tubuh untuk obat berbentuk tablet, inhaler bentuk kering, supensi maupun krim (gel) sering berhubungan langsung dengan ukuran partikel di dalam komponen obat tersebut.

      Salah satu contohnya, pengaruh distribusi ukuran partikel dalam struktur tablet berpengaruh terhadap kekuatan tablet (Alderborn, 1982), dengan adanya perbedaan ukuran partikel menyebabkan perbedaan perilaku kompleks senyawa di dalam struktur tablet, sehingga mempengaruhi kekuatan mekanik di dalam tablet yang menyebabkan ketidakstabilan dan kekuatan bentuk dari tablet pada saat penyimpanan (Frauke Fichtner, Ake Rasmuson, Go¨ran Alderborn,2005).

       Bagi kebanyakan obat tablet, partikel yang lebih kecil dapat menghasilkan tablet yang lebih kuat karena partikel yang lebih kecil memberikan total area yang lebih besar untuk ikatan dari partikel yang lebih besar (Changquan Sun, David J.W. Grant ,2001),  namun efek dari ukuran partikel awal terhadap kekuatan tablet bergantung pada sifat mekanik bahan awal, misalnya, obat yang berbahan dasar natrium klorida, kekuatan tablet meningkat dengan meningkatnya ukuran partikel karena pembentukan ikatan yang kuat (Alderborn dan Nystrom, 1982).

     Fungsi lain pengukuran partikel di dalam obat lainnya adalah untuk mengetahui bentuk kristal organik penyusun obat, yang nanti akan berhubungan langsung dengan tingkat kemurnian dari obat, contohnya obat parasetamol yang tersusun dari dua bentuk kristal organik yaitu bentuk monoklin dan bentuk orthorombik (Di Martino, et all., 1996; Joiris et al, 1998), kristal monoklin merupakan adalah jenis kristal yang ada pada obat parasetamol yang biasa digunakan dalam pembuatan tablet yang banyak di konsumsi oleh masyarakat, ukuran partikel pada parasetamol akan mempengaruhi bentuk kristal yang yang akan terbentuk, sehingga berpengaruh terhadap hasil akhir formulasi obat. 

       Dari keterangan diatas, menunjukan bahwa ukuran partikel dari obat, dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas dari obat yang dihasilkan. Saat ini pengukuran banyak terdapat metode pengukuran partikel, teknologi yang cocok dengan pengukuran partikel di dalam obat diantaranya adalah teknologi dynamic light scattering  dan laser diffraction .

     Dynamic light scattering merupakan teknologi yang mampu mengukur partikel hingga ukuran nano, dengan metode ini, nilai dari zeta potensial dari sampel juga dapat terukur yang salah satu fungsinya adalah mampu mengetahui ketahanan sampel. DelsaMax Pro merupakan instrument dari Beckman yang menggunakan metode Dynamic Light Scattering dan Zeta Potensial untuk membaca ukuran partikel.

Gambar 1. Delsa Max Pro 

     Berbeda dengan teknologi dynamic light scattering, teknologi laser diffraction sudah lama di gunakan untuk menentukan ukuran partikel, sesuai dengan standar ISO 13 320, teknologi ini mampu mengukur sampel baik dalam bentuk liquid (viscous atau non viscous), aqueous, ataupun solid. LS 13 320 adalah instrument dari Beckman yang menggunakan metode Laser difracttion sesuai dengan standar ISO 13 320. Dilengkapi dengan berbagai modul sampel, sehingga user mampu mengukur ukuran partikel dari sampel yang berwujud padatan, cairan, ataupun suspensi.

Gambar 2. LS 13 320 

Bagaimana cara memilih teknologi yang cocok untuk mengukur partikel dalam obat anda ?

     Dynamic Light Scattering (DLS) merupakan pengukuran partikel yang didasarkan pada difusi dari gerak Brown, partikel didalam gerakan Brown terjadi perbedaan elektrisitas, yang mana perbedaan elektrisitias ini akan yang menjaga volum partikel. Mobilitas elektrositas tersebut di monitor dengan sinar dan hasil sinar yang dihamburkan di korelasikan sebagai hasil. atau bisa dikatakan kecepatan dari partikel yang terdifusi karena gerakan Brown terukur sebagai intensitas cahaya yang tersebar (light scattering), semakin besar partikel yang diukur maka semakin lambat gerak Brown yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya semakin kecil partikel yang diukur maka akan semakin cepat gerakan Brown nya (gambar 3)

Gambar 3. prinsip dasar pengukukuran dynamic light scattering

Kemampuan untuk mengukur sampel hingga ukuran nanopartikel (gambar 4). Jenis obat yang umum di pasaran memiliki ukuran partikel mikron; misalnya, parasetamol, ibuprofen, dan sejenisnya. Untuk jenis obat injeksi  juga, ukuran nya biasanya kurang dari 5 mikron, yang akan cocok dan terbaik untuk menggunakan teknologi dynamic light scattering. 

gambar 4. perbadingan ukuran diameter

Laser diffraction adalah  teknologi yang memanfaatkan sinar laser melewati partikel, yang akanmenghasilkan sinar yang di hamburkan, baik itu dari hamburan sinar yang terserap atau hamburan dari sinar yang diteruskan, yang nantinya penjumlahan dari hamburan tersebut akan di baca oleh detektor, sehingga ukuran dari partikel dari sampel dapat diketahui (gambar 5)

gambar 5. Prinsip dasar pengukuran menggunakan teknologi laser diffraction

Partikel besar akan menghamburkan cahaya pada sudut yang sempit dengan intensitas tinggi sedangkan partikel kecil akan menyebar di sudut yang lebih luas tetapi dengan intensitas rendah, sehingga grafik fluktuasi dari partikel yang lebih kecil akan lebih rapat dibandingan dengan partikel yang lebih besar. Sedangkan untuk sinar yang dipancarkan dari panjang gelombang yang lebih kecil memberikan peningkatan sensitivitas terhadap partikel sub-mikron, sedangkan panjang gelombang yang lebih besar digunakan untuk mengukur partikel yang lebih besar. Untuk quality control (QC) dari obat, metode laser diffraction banyak digunakan, dikarenakan jenis sampel yang dapat diukur lebih bervariasi, dari mulai padatan, larutan ataupun cairan viskos.-OR-

 

Daftar Pustaka

Alderborn, G., Nystro¨m, C., 1982. Studies on direct compression of tablets. IV. The effect of particle size on the mechanical strength of tablets. Acta Pharm. Suec. 19, 381–390.

Beckman Coulter Life Sciences, How to Improve your Particle Analysis by Switching from Sieves to Laser Diffraction, 2014,  Beckman Coulter Life Sciences

Changquan Sun, David J.W. Grant., Effects of initial particle size on the tableting properties of L-lysine monohydrochloride dihydrate powder, International Journal of Pharmaceutics 215 (2001) 221–228.

Di Martino, P., Guyot-Hermann, A.-M., Conflant, P., Drache, M., Guyot, J.-C., 1996. A new pure paracetamol for direct compression: the orthorhombic form. Int. J. Pharm. 128, 1–8.

Frauke Fichtner, Ake Rasmuson, Go¨ran Alderborn., Particle size distribution and evolution in tablet structure during and after compaction, International Journal of Pharmaceutics 292 (2005) 211–225.

Joiris, E., Di Martino, P., Berneron, C., Guyot-Hermann, A.-M., Guyot, J.-C., 1998. Compression behaviour of orthorhombic paracetamol. Pharm. Res. 15, 1122–1130.

www.beckmancoulter.com/wsrportal/wsr/industrial/applications/pharmaceuticals/index.htm, diunduh pada tanggal 5 Oktober 2015. 

 

 

Previous Article

Penentuan Ukuran Dan Konsentrasi Partikel Di Dalam Minyak

Monday, 05 October 2015
VIEW DETAILS

Next Article

Jenis Sampel Menentukan Tipe Elektroda pH

Monday, 26 October 2015
VIEW DETAILS