Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Turbiditas dalam Akuakultur

Turbiditas dalam Akuakultur

Tuesday, 16 February 2021

Turbiditas (turbidity) atau kekeruhan merupakan indikator penting dari jumlah sedimen yang tersuspensi dalam air, yang dapat memiliki banyak efek negatif pada kehidupan akuatik. Sedimen tersuspensi yang menyebabkan kekeruhan dapat menghalangi cahaya ke tanaman air, mematikan organisme air, serta membawa kontaminan dan patogen, seperti timbal, merkuri, dan bakteri. Selain sedimen atau padatan tersuspensi, kekeruhan dapat disebabkan oleh banyak zat, termasuk alga mikroskopis (fitoplankton), zat organik terlarut, dan padatan koloid. Parameter kekeruhan ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 tahun 2001 dan diklasifikasikan sebagai Kelas Dua dan Kelas Tiga dengan standar nilai berkisar 2-30 NTU.

 

Kekeruhan

Kekeruhan adalah parameter kualitas optik air yang menggambarkan seberapa jernih atau keruh air tersebut. Tentunya hal ini disebabkan oleh adanya keberadaan partikel-partikel terlarut yang menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air. Jika nilai kekeruhan rendah, maka air akan terlihat transparan dan sinar matahari dapat menyinari air dalam garis lurus ke bawah dasar air sehingga dapat dimanfaatkan oleh organisme akuatik.

Adapun faktor yang dapat menyebabkan kekeruhan dalam air adalah terlalu berlebihnya fitoplankton dan tanah liat yang tersuspensi. Fitoplankton merupakan organisme yang menyebabkan kekeruhan yang diinginkan dalam budidaya ikan atau kolam tambak rekreasi daripada yang lain. Dalam jumlah sedang, fitoplankton menyediakan makanan untuk hewan mikroskopis (zooplankton) dan ikan pemakan saringan, dan meningkatkan kualitas air dengan memproduksi oksigen terlarut dan menghilangkan senyawa yang berpotensi beracun seperti amonia. 

Kekeruhan yang disebabkan oleh tanah liat tersuspensi cenderung paling sering terjadi di perairan yang lunak, dengan tingkat alkalinitas yang rendah. Kekeruhan yang disebabkan oleh partikel tanah liat ini umumnya tidak diinginkan karena membuat cahaya yang diperlukan untuk pertumbuhan alga tidak dapat menembus air. Pada konsentrasi yang sangat tinggi, partikel tanah liat (lumpur) juga dapat menyumbat insang ikan dan mematikan telur ikan. 

Cara paling efektif untuk mencegah kolam "berlumpur" adalah dengan mengendalikan erosi baik di daerah aliran sungai maupun di dalam kolam. Namun, jika pasokan air keruh tidak dapat dihindari, waduk sedimentasi harus dibersihkan dari kekeruhan yang berlebihan sebelum dialihkan ke kolam. Untuk beberapa kasus,  mungkin kolam tetap keruh setelah semua tindakan pengendalian erosi dan penghilangan kekeruhan yang dilakukan telah diterapkan. Guna mengatasi kekeruhan pada air kolam budidaya ikan, dapat dilakukan pengendalian kekeruhan yang akan dibahas di bawah ini.

 

Pengendalian dan Monitoring Kekeruhan

1. Pengendapan Partikel

Kekeruhan yang mengganggu biasanya dihasilkan dari tanah liat atau partikel lanau halus. Partikel-partikel ini dalam bentuk suspensi yang menyebabkan kekeruhan berkepanjangan karena tiga alasan dasar, yaitu badan air yang mungkin memiliki turbulensi yang cukup untuk mencegah partikel halus mengendap, laju resuspensi partikel yang melebihi laju sedimentasi, selain itu, tanah liat koloid mengendap dengan kecepatan yang sangat lambat.

Partikel tanah liat memiliki muatan negatif sehingga diperlukan kation untuk menetralkan muatan negatif pada partikel tanah liat dan memungkinkannya untuk berflok. Kapasitas kation untuk berflok dengan partikel tanah liat meningkat dengan meningkatnya valensi.

Kation yang dapat digunakan untuk berflok dengan partikel tanah liat yaitu monovalen (natrium dan kalium) yang jauh lebih efektif sebagai flokulan dibandingkan kation divalen (kalsium dan magnesium). Kation trivalen seperti aluminium dan besi besi merupakan dapat juga digunakan sebagai  flokulan, tetapi konsentrasi alaminya dalam air sangat rendah. Tingkat pengendapan partikel tanah liat koloid dari air menjadi lebih besar dengan meningkatnya konsentrasi total padatan terlarut (konduktivitas atau salinitas). Kecenderungan ini jauh lebih kuat jika kesadahan air (konsentrasi kalsium dan magnesium lebih besar) juga meningkat pada konsentrasi total padatan terlarut yang lebih tinggi.

Proses biologis juga dapat menyebabkan partikel tanah liat mengendap. Bakteri, fitoplankton, dan partikel bahan organik yang membusuk memiliki permukaan berlendir tempat partikel tanah liat menempel, memungkinkan terjadinya flokulasi. Selain itu, perubahan pH air akibat aktivitas fotosintesis atau dekomposisi bahan organik terkadang mengubah kondisi pada atau di sekitar partikel tanah liat dan memungkinkannya untuk mengendap.

2. Alkalinitas

Ketika air masih tidak jernih setelah sumber kekeruhan dihilangkan, total alkalinitas harus diuji. Jika alkalinitas rendah atau kurang dari 30 mg / L maka batu kapur pertanian harus digunakan pada 2.000 hingga 3.000 kg / ha. Alternatif lain, kapur dapat diterapkan, tetapi jika kolam telah ditebar, kapur tidak boleh diterapkan lebih dari 50 kg / ha untuk menghindari pH tinggi. Dosis kapur berulang dapat dibuat dengan interval mingguan.

Di kolam yang memiliki alkalinitas di atas 40 mg / L, atau jika pengapuran tidak menghilangkan kekeruhan, ada dua opsi: Mencoba membersihkan kekeruhan menggunakan pupuk atau mengolah kolam dengan koagulan. Pendekatan umum adalah mencoba pupuk dan menggunakan koagulan sebagai pilihan terakhir.

3. Koagulan

Kebanyakan kolam akuakultur dengan kekeruhan yang berlebihan menjadikan pupuk kandang, pupuk kimia atau pakan sebagai koagulan. Di kolam yang diberi pupuk kandang atau diberi makan, satu atau lebih aplikasi urea dan tripel superfosfat atau pupuk nitrogen dan fosfor lainnya dapat menyebabkan partikel tanah liat mengendap. Selain itu, bahan kimia yang dapat dijadikan koagulan yaitu kalsium sulfat (gipsum), kalsium klorida, aluminium sulfat (tawas), aluminium klorida, besi sulfat, besi klorida dan polimer organik tertentu. Namun, dua koagulan yang paling umum digunakan di kolam akuakultur adalah gipsum dan tawas. Untuk mengevaluasi proses koagulasi ini biasanya digunakan alat jartest floculattor.

Pengolahan dengan koagulan, terutama tawas, hampir selalu menghilangkan kekeruhan dari kolam. Namun, kekeruhan dapat kembali karena sumber kekeruhan belum dikontrol, atau karena spesies budidaya menyebabkan bioturbasi. Arus yang dihasilkan aerator menyebabkan kekeruhan, dan gelombang normal serta aksi angin cukup untuk secara terus-menerus menangguhkan partikel dan menyebabkan kekeruhan.

Pendekatan terbaik adalah selalu menghilangkan sumber kekeruhan, dan menggunakan tawas jika kekeruhan tetap ada.

 

Setelah dilakukannya pengendalian, penting untuk dilakukannya juga pengukuran kekeruhan dalam memonitoring kualitas air kolam. Oleh karena itu, kekeruhan dapat diukur dengan menggunakan peralatan optik khusus di laboratorium atau di lapangan yang disebut dengan turbidimeter. Cahaya diarahkan melewati sampel air, dan jumlah cahaya tersebar diukur. Unit pengukuran disebut Nephelometric Turbidity Unit (NTU), atau satuan kekeruhan lainnya (seperti FAU, FNU, dll). Semakin besar hamburan cahaya, maka semakin tinggi kekeruhan. Nilai kekeruhan rendah menunjukkan tinggi kejernihan air; nilai yang tinggi menunjukkan kejernihan air yang rendah.

 

Referensi:

How to achieve good water quality management in aquaculture | The Fish Site (https://thefishsite.com/articles/how-to-achieve-good-water-quality-management-in-aquaculture)

Control of Clay Turbidity in Ponds (uky.edu) (https://wkrec.ca.uky.edu/files/muddyponds.pdf)

Turbidity removal from pond waters « Global Aquaculture Advocate (aquaculturealliance.org)

 

Previous Article

Uji Protein pada Pakan Ternak

Wednesday, 10 February 2021
VIEW DETAILS

Next Article

PENENTUAN KADAR AIR DALAM BAHAN KIMIA TEKNIS

Thursday, 25 February 2021
VIEW DETAILS