Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Uji Kadar Kanji pada Bahan dan Produk Tekstil

Uji Kadar Kanji pada Bahan dan Produk Tekstil

Monday, 28 September 2020

Pakaian atau sandang adalah salah satu kebutuhan primer manusia yang merupakan produk tekstil. Dalam proses pembuatan tekstil, khususnya pembuatan kain dari benang, terdapat proses yang sangat penting yaitu sizing atau penganjian. Misalnya, pada benang kapas tanpa perlakuan sizing akan menjadi mudah putus ketika ditenun dengan mesin berkecepatan tinggi mengakibatkan kualitas produksi menjadi menurun. Dengan demikian, proses sizing menjadi suatu hal yang harus mendapatkan perhatian karena mempunyai dampak yang besar bagi kualitas kain yang dihasilkan. Salah satu standar pengujian kualitas atau mutu bahan dan produk tekstil adalah uji kadar kanji yang dicantumkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 8107:2016. Untuk itu, Artikel ini akan membahas penganjian dan pengujian kadar kanji pada bahan dan produk tekstil.

 

Penganjian (Sizing) pada Tekstil

Proses penganjian merupakan proses pelapisan benang-benang arah memanjang (benang lusi) dengan campuran bahan kimia seperti Polyvinil Alcohol (PVA), dextrin, teepol dan lemak hewan agar benang-benang tersebut memiliki daya tenun yang sesuai dengan harapan dan memenuhi syarat dalam proses tenun (weaving).

Penggunaan larutan kanji dalam proses sizing bertujuan untuk meningkatkan daya tenun di antaranya:

  1. Meningkatkan kekuatan tarik rata-rata benang
  2. Meningkatkan daya tahan gesek benang, antar benang dengan benang dan benang dengan bagian-bagian mesin pada kecepatan tinggi.
  3. Menidurkan bulu-bulu (haireness) pada permukaan benang.
  4. Mempertahankan kelembutan (soft surface) dan fleksibilitas benang.
  5. Menyimpan kandungan air yang cukup sehingga mencegah terjadinya listrik statis (static electricity).

Proses sizing memiliki kontribusi yang besar dalam meningkatkan daya tenun (weave-ability) terhadap efisiensi dan produktifitas pada unit proses weaving. Bahan kanji yang digunakan pada tahap persiapan proses sizing dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu bahan kanji alam dan bahan kanji sintetis. Bahan kanji alam yang digunakan biasanya adalah golongan yang meliputi pati dari singkong, jagung, kentang, gandum, garut dan umbi gadung, sedangkan bahan kanji sintetis yang sering digunakan antara lain Poly Vinyl Alcohol (PVA), turunan selulosa seperti tylose (CmC), hidroksil etil selulosa dan metil selulosa serta turunan kanji seperti starch ester, starch ether. Semua bahan-bahan tersebut akan menghasilkan limbah cair yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuag ke lingkungan

Proses penganjian pada tekstil dianggap baik apabila:

  1. Mampu meningkatkan ketahanan gesek benang.
  2. Mampu meningkatkan kekuatan tarik benang (standart: meningkat 75%)
  3. Mampu mempertahankan kelembutan (soft surface) dan fleksibilitas
  4. Mampu menidurkan sebagian besar bulu-bulu serat benang 
  5. Mampu mempertahankan daya mulur (standard elongation 75% dari aslinya)
  6. Mampu menyimpan kandungan air yang cukup untuk mencegah static electricity
  7. Mampu dihilangkan kanjinya dengan mudah (cukup dengan air panas +NaOH atau enzim)
  8. Mampu bertahan dari jamur dan cendawan.

 

Penganjian yang gagal akan menyebabkan produktivitas dan kualitas yang rendah pada kain dikarenakan benang lusi terus-menerus putus pada saat ditenun dan timbulnya  nep atau butiran-butiran kasar pada permukaan kain yang terjadi karena adanya bulu-bulu serat. Sehingga perlu dilakukannya pengujian kadar kanji pada bahan dan produk tekstil.

 

Pengujian Kadar Kanji pada Bahan dan Produk Tekstil

Pengujian kadar kanji pada bahan dan produk tekstil yang dilakukan membutuhkan alat dan bahan yang ditampilkan pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam pengujian kadar kanji pada bahan dan produk tekstil

No.

Alat

No.

Bahan

1.

Botol timbang tertutup asah 100 ml berbahan kaca atau alumunium

1.

Ammonium peroxodisulfat [(NH4)2S2O8]

2.

Beaker glass

2.

Natrium hidroksida (NaOH)

3.

Neraca analitik

3.

Zat pembasah (wetting agent)

4.

Desikator

4.

Enzim pelarut kanji

5.

Oven

6.

Hot plate

 

Pengujian kadar kanji dilakukan dengan cara sampel uji dipanaskan pada suhu 105 ⁰C sampai 110 ⁰C hingga berat tetap untuk mendapatkan berat kering oven contoh uji semula (A), kemudian dihilangkan kanjinya. Setelah seluruh kanji hilang, sampel uji dikeringkan kembali pada suhu 105 ⁰C sampai 110 ⁰C hingga berat tetap untuk mendapatkan berat kering oven contoh uji (B). kemudian dilakukan perhitungan kadar kanji yang dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:

Keterangan:

A adalah berat kering oven sampel uji semula

B adalah berat kering oven sampel uji setelah proses penghilangan kanji

 

Menurut penelitian, sekarang permintaan konsumen untuk tekstil tidak hanya terletak pada tampilan maupun stabilitas kain, tetapi juga dalam rasa nyaman saat dipakai. Misalnya kain yang tidak menyusut dan tidak mudah abrasi dan pilling lebih stabil, memperpanjang siklus penggunaan yaitu kain yang tidak mudah pudar dan kusut dapat menyoroti desain tekstil, dapat terjadinya sirkulasi udara pada kain dan dehumidifikasi memungkinkan konsumen menjadi lebih nyaman dan sehat. Untuk itu, hal-hal ini yang membuat pengujian kadar kanji penting untuk dilakukan dalam menjaga kualitas atau mutu tekstil.

 

Referensi:

Standard Nasional Indonesia (SNI) 8107:2016 Tentang Tekstil: Cara Uji Kadar Kanji

Subagyo, Asmanto & Tuasikal Mohammad Amin. 2015. POTENSI TAPIOKA SEBAGAI AGEN BIOSIZING PADA BENANG KAPAS (The Potential of Tapioca as Biosizing Agent for Cotton Yarn). D i n a m i k a K e r a j i n a n d a n B a t i k , Vol. 32, No. 1, Juni 2015, 9-22.

http://miwitiingsun.blogspot.com/2013/01/sizing-process-proses-penganjian.html

Previous Article

Uji pH pada Makanan

Wednesday, 23 September 2020
VIEW DETAILS

Next Article

Penentuan Kadar Nitrogen dalam Tanah

Thursday, 01 October 2020
VIEW DETAILS