Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

News & Article Result for "DR3900" 6 posts

  • Limbah Cair Industri

    Monday, 26 October 2015

    Limbah cair industri adalah buangan hasil proses/sisa dari suatu kegiatan/usaha industri yang berwujud cair dimana kehadirannya pada suatu saat dan tempat tidak dikehendaki lingkungannya. Karakteristik dari limbah cair di bagi menjadi 3, yaitu karakteristik limbah cair fisik, kimia dan biologis.

    Karakteristik fisik

     

    a. Total Solid (TS) merupakan padatan didalam air yang terdiri dari bahan organik maupun anorganik yang larut, mengendap, atau tersuspensi dalam air.

    b. Total Suspended Solid (TSS) merupakan total padatan tersuspensi di dalam air

    c. Warna , pada dasarnya air bersih tidak berwarna, tetapi seiring dengan waktu dan meningkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari yang abu– abu menjadi kehitaman.

    d. Kekeruhan disebabkan karena ada partikel koloid yang terdiri dari kwartz, tanah liat, sisa bahan-bahan industri, protein dan ganggang yang terdapat dalam limbah. 

    e. Temperatur merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan efeknya terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan penggunaan air selanjutnya untuk berbagai aktivitas sehari – hari.

     f.  Bau merupakan parameter yang subjektif. Sifat bau limbah disebabkan karena zat-zat organik yang telah terurai dalam limbah dan mengeluarkan gas-gas seperti Sulfida dan Amoniak.

    2. Karateristik Kimia

    a. BOD  (Biochemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l yang dipergunakan untuk menguraikan bahan organik oleh mikroorganisme. (secara biokimiawi). Pada pengujian sampel BOD perlu dilakukan inkubasi  minimal 5 hari.

    b. Chemical Oxygen Demand (COD) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik secara kimiawi. Metode analisa ini lebih singkat waktunya dibandingkan dengan analisa BOD. Pengukuran COD dilakukan dengan cara memanaskan sampel di dalam  reaktor khusus COD selama 2 jam.

    c. Dissolved Oxygen (DO) adalah kadar oksigen terlarut. Oksigen terlarut digunakan sebagai derajat pengotoran limbah yang ada. Semakin besar oksigen terlarut, maka derajat pengotoran semakin kecil

    d. Ammonia (NH3) adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan mengganggu proses desinfeksi dengan chlor (Soemirat, 1994). Ammonia terdapat dalam larutan berupa senyawa ion ammonium atau ammonia. tergantung pada pH larutan

    e. Derajat keasaman (pH) dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air. Bila terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mematikan kehidupan mikroorganisme. Ph normal untuk kehidupan air adalah 6– 8.

    f. Logam Berat,  bila konsentrasinya berlebih dapat bersifat toksik sehingga diperlukan pengukuran dan pengolahan limbah yang mengandung logam berat.

    g. Gas Methan,  terbentuk akibat penguraian zat-zat organik dalam kondisi anaerob pada air limbah. Gas ini dihasilkan lumpur yang membusuk pada dasar kolam, tidak berdebu, tidak berwarna dan mudah terbakar

    h. Lemak dan minyak , yang terdapat dalam limbah bersumber dari industri yang mengolah bahan baku mengandung minyak bersumber dari proses klasifikasi dan proses perebusan. Limbah ini membuat lapisan pada permukaan air sehingga membentuk selaput

    3. Karakteristik Biologi

    Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Parameter yang biasa digunakan adalah banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah.

    a. Virus menyebabkan penyakit polio myelitis dan hepatitis. Secara pasti modus penularannya masih belum diketahui dan banyak terdapat pada air hasil pengolahan (effluent) pengolahan air.

    b. Vibrio Cholera menyebabkan penyakit kolera asiatika dengan penyebaran melalui air limbah yang telah tercemar oleh kotoran manusia yang mengandung vibrio cholera.

    c. Salmonella Spp dapat menyebabkan keracunan makanan dan jenis bakteri banyak terdapat pada air hasil pengolahan limbah.

    d. Shigella Spp adalah penyebab disentri bacsillair dan banyak terdapat pada air yang tercemar. Adapun cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan kotoran manusia maupun perantaraan makanan, lalat dan tanah.

    e. Basillus Antraksis adalah penyebab penyakit antrhak, terdapat pada air limbah dan sporanya tahan terhadap pengolahan.

    f. Mycobacterium Tuberculosa adalah penyebab penyakit tuberculosis dan terutama terdapat pada air limbah yang berasal dari sanatorium.

               Sedangkan untuk pengolahan limbah cair industri itu sendiri dapat dilakukan menjadi 3 tahap, yaitu :

    1. Pengolahan fisika

    Pengolahan secara fisika dilakukan pada limbah cair dengan kandungan bahan limbah yang dapat dipisahkan secara mekanis langsung tanpa penambahan bahan kimia atau tanpa melalui penghancuran secara biologis

    2. Pengolahan kimia

    Pengolahan secara kimia merupakan proses pengolahan limbah dimana penguraian atau pemisahan bahan yang tidak diinginkan berlangsung dengan adanya mekanisme reaksi kimia (penambahan bahan kimia ke dalam proses)

    3. Pengolahan biologis

    Pengolahan secara biologi merupakan sistem pengolahan yang didasarkan pada aktivitas mikroorganisme dalam kondisi aerobik atau anaerobik ataupun penggunaan organisme air untuk mengabsorbsi senyawa kimia dalam limbah cair.

     

    Read more »

  • monitoring kualitas air limbah industri (online products)

    Friday, 26 February 2016

           Air buangan industri berasal dari berbagai jenis industri akibat proses industri. Zat –zat yang terkandung sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang digunakan oleh industri. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan air limbah sebelum air hasil produksi dialirkan ke lingkungan. Karakteristik air limbah sangat penting untuk mengetahui jenis pengolahan limbah yang akan digunakan. Karakteristik air limbah sendiri di bagi secara umum menjadi :

    1.   Karakteristik fisik

    Bahan padat dalam bentuk suspensi padat (suspended solid), atau suspensi padat telarut di dalam air

    2.    Karakteristik kimiawi

    Biasanya air limbah mengandung campuran zat-zat kimia anorganik dan zat organik. Zat organik biasanya di bagi menjadi 2 golongan, yaitu gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya urea, protein, asam amino, phospat, nitrat dan nitrit dan yang ke dua adalah gabungan yang tidak mengandung nitrogen misalnya minyak, lemak dan karbohidrat.

    3.    Karakteristik biologi

    Bakteri di dalam air limbah industri terdiri atas bakteri yang digunakan untuk menyeimbangkan DO dan BOD dan menghilangkan bakteri pathogen. Limbah industri tidak banyak mengadung bakteri, kecuali dari proses produksi memang berhubungan dengan potensi adanya bakteri diantaranya industri, makanan/minuman, pengalengan ikan dan daging.

    Pengolahan limbah cair secara biologis melibatkan transformasi kimiawi yang ditimbulkan oleh tindakan organisme hidup seperti bakteri, jamur, avertebrata, dan tanaman air yang dikenal dengan metode bioteknologi (bioremediasi). Bioremediasi merupakan suatu upaya pemulihan kondisi lingkungan dengan menggunakan aktivitas biologis untuk mendegradasi dan/atau menurunkan toksisitas dari berbagai senyawa pencemar. Mikroorganisme dari kelompok bakteri, khamir, dan kapang merupakan kelompok utama yang berperan penting dalam bioremediasi limbah pencemar di lingkungan.

    Umumnya parameter yang dimonitoring dalam pengolahan air limbah adalah :

    1.    Kandungan zat padat (Total Suspended Solids (TSS), Total Dissolved Solids (TDS))
    2.    Kandungan zat organic (mis :nitrat, nitrit, ammonia, KMnO4)
    3.    Kandungan zat anorganik (mis : Pb, Cd, Fe, Mg)
    4.    Kandungan gas (mis: O2, N2, CO2)
    5.    Kandungan pH dan Konduktivitas
    6.    Suhu.

    Dalam melakukan pengolahan maka diperlukan instrument pendukung untuk memonitoring kualitas air limbah, sehingga dapat mengetahui apakah proses pengolahan yang telah dilakukan berjalan dengan benar dan baik sesuai yang diharapkan. Berikut beberapa instrument yang digunakan untuk memonitoring air limbah :

    Monitoring Kandungan zat padat 

    A.  Total suspended solids

    Total Suspended Solids (TSS) merupakan banyaknya jumlah padatan yang mengendap di dalam air limbah. TSS dapat dimonitoring secara online, sehingga hasil pengukuran yang diperoleh sesuai dengan nilai nyata dari sampel

    Gambar 1 . TSS online

    TSS online dilengkapi dengan pengukuran total suspended dan turbiditi. Perawatan alat serta kalibrasi yang mudah menjadikan nya sebagai salah satu pilihan tepat dalam melakukan pengukuran TSS.

    B.    Total Dissolved Solids

    TDS merupakan parameter yang menunjukan banyaknya padatan yang terlarut dalam air, parameter ini sebagai patokan dalam banyaknya jumlah koagulan yang harus ditambahkan ka dalam proses pengolahan limbah. Pembacaan TDS selaras dengan nilai konduktivitas, untuk itu biasanya alat pengukuran TDS sama dengan alat pengukuran konduktivitas dan salinitas.

    Gambar 2. Elektroda Konduktivitas

    C.    Turbidity (kekeruhan)

    Tubiditi atau ukuran derajat kekeruhan pada air terjadi dikarenakan adanya koloid yang barada di dalam air. Beberapa industri hanya mengukur total padatan, namun pengukuran turbiditi melengkapi sistem untuk mendapatkan kualitas air yang jernih.

    Gambar 3. Ultraturb Plus sc

    D.    Lumpur Aktif

    Lumpur aktif saat ini banyak di gunakan dalam sistem pengolahan limbah, ketinggian dalam lumpur dapat digunakan sebagai parameter untuk menunjukan kadar/jumlah lumpur dalam sistem. 

    Gambar 5. Sonatax sc plus SC 200

    Sedangkan untuk mengukur kandungan oxygen di dalam air limbah, beberapa parameter :

    A.    Dissolved Oxygen (oksigen terlarut)

          Dissolved Oxygen merupakan parameter untuk mengukur banyaknya jumlah oksigen dalam satuan part per million (ppm) di dalam air, Oksigen terlarut di gunakan sebagai tanda kadar pengotor pada.

    Gambar 6. Elektroda DO menggunakan teknologi LDO (no membrane)

    B.    COD (Chemical Oxygen Demand)

          COD merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel air atau banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi CO2 dan H2O. Menurut Metcalf and Eddy (1991), COD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik dalam air, sehingga parameter COD mencerminkan banyaknya senyawa organik yang dioksidasi secara kimia. Tes COD digunakan untuk menghitung kadar bahan organik yang dapat dioksidasi dengan cara menggunakan bahan kimia oksidator kuat dalam media asam.

    Gambar 7. Instrument untuk menganalisa COD (Spektrofotometer Vis DR 3900+DRB200+Reagent COD)

    C.    BOD (Biochemical Oxygen Demand)

    Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagai zat-zat organis yang tersuspensi dalam air. analisis empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air.maka dengan itu angka BOD wajib di monitoring nilainya.

    Gambar 8. Instrumen untuk menganalisa BOD (BOD TRAK II dan Inkubator BOD)

    Parameter lain :

    A.    Hardness

    Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Hardness sendiri dibagi dalam dua tipe yaitu :
          1.    Kesadahan umum (General hardness)
          Kesadahan air (hardness) adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium  (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Ion-ion lain sebenarnya ikut pula  mempengaruhi nilai GH, akan tetapi pengaruhnya diketahui sangat kecil dan relatif sulit diukur sehingga diabaikan.
           2.    Kesadahan Karbonat
           Kesadahan karbonat atau KH merupakan besaran yang menunjukkan kandungan ion bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO32-) di dalam air.

    Gambar 9. SP 510 Hardness analyzer

    B.    Desinfektan

    Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran oleh jasad renik atau obat untuk membasmi kuman penyakit. Pengertian lain dari disinfektan adalah senyawa kimia yang bersifat toksik dan memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh disinfektan. Desinfektan yang banyak digunakan untuk pengolahan limbah adalah klorin dan untuk air minum adalah ozon.

    Gambar 10. CL17 Chlorine analyzer untuk total atau Free Cl

    C.    pH

        pH merupakan tingkat derajat keasaman (H+). Besar kecilnya nilai pH pada suatu sampel digunakan sebagai parameter utama untuk mengetahui keadaan /sifat baik buruknya sampel. Kadar pH dinilai dengan ukuran antara 0-14. Sebagian besar persediaan air memiliki pH antara 7,0-8,2 namun beberapa air memiliki pH di bawah 6,5 atau diatas 9,5.

    Gambar 11. DPD1P1 Elektroda pH untuk aplikasi general

    D.    Koagulasi dan flokulasi

          Proses koagulasi – flokulasi merupakan salah satu cara pengolahan limbah cair untuk menghilangkan partikel-partikel yang terdapat didalamnya. Koagulasi diartikan sebagai proses kimia fisik dari pencampuran bahan koagulan ke dalam aliran limbah dan selanjutnya diaduk cepat dalam bentuk larutan tercampur. Flokulasi adalah proses pembentukan flok pada pengadukan lambat untuk meningkatkan saling hubung antar partikel yang goyah sehingga meningkatkan penyatuannya (aglomerasi) . Koagulan yang biasa digunakan adalah alumina, FeCl3, dan PAC. Jumlah dari koagulan yang di tambahkan pada sistem biasanya diukur dengan menggunakan jartest di laboratorium, namun hach memiliki alat untuk memonitoring koagulan yang dimasukan ke dalam sampel.

    Gambar 12. AF700 Streaming monitoring instrument

    E.    Nutrient (nitrat, nitrit dan phosphate)

          Pengujian nutrient seperti nitrat , nitrit atau phosphate tergantung dari jenis limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut. Contoh untuk industry pupuk, makanan, minuman ringan. Nitrat merupakan hasil denitrifikasi dari nitrit. Dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil, maka pengukuran secara online dapat dilakukan dengan membaca konsentrasi nitrat.

    Gambar 13. ISE Nitrat

    F. Oil in water

     Beberapa industri yang memproduksi atau menggunakan minyak sebagai bahan produksinya, membutuhkan pengolahan limbah minyak sebelum limbah dialirkan ke lingkungan. Karena minyak tidak dapat menyatu dengan air  maka minyak dalam air dapat menutupi permukaan air sehingga dapat mengganggu ekosistem di air. Minyak dapat berasala dari air limbah yang dihasilkan ataupun dari lumpur pengolahan limbah.

    Gambar 14. elektroda Oil in Water (FP 360 sc sensor)

    Beberapa parameter diatas merupakan sebegian kecil dari beberapa parameter yang harus diukur di pengoilahan limbah. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

    Read more »

  • Analisa Protein dengan Metode Kjeldahl

    Monday, 09 May 2016

    Protein merupakan senyawa organik kompleks yang memiliki bobot molekul tinggi yang tersusun dari monomer-monomer asam amino dimana dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Dalam struktur molekulnya, protein terdiri dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen, terkadang ada beberapa yang berikatan dengan sulfur dan fosfor. Protein dalam tubuh mahluk hidup berfungsi sebagai unit penyusun struktur dan fungsi sel. [1]

    Analisa protein kebanyakan dilakukan pada industri makanan, baik makanan untuk manusia maupun makanan untuk keperluan ternak. Analisa protein penting sekali karena bertujuan untuk mengetahui  jumlah kandungan protein dalam suatu makanan. Selain itu, untuk memenuhi standard baku mutu makanan dari setiap negara.

    Salah satu analisa protein yang sering digunakan adalah metode Kjeldahl, yaitu makanan didigesti dengan asam kuat maka ikatan peptida akan terurai sehingga melepas atom nitrogen, yang kadarnya dianalisis dengan teknik titrasi. Kebanyakan protein dianalisa berdasarkan pada banyaknya ikatan nitrogen. Kadar nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan faktor pengkali berdasar asam amino penyusun protein tersebut. Berikut contoh faktor untuk beberapa jenis makanan. (Tabel 1)

    Analisa protein dengan metode Kjeldahl dilakukan dengan 3 tahapan proses, diantaranya :

    Step 1 : Digesti

    Proses digesti bertujuan untuk memecah ikatan kompleks polipeptida pada makanan menjadi ikatan peptida yang lebih sederhana dan menghasilkan molekul air, karbondioksida dan amonium sulfat. Digesti dilakukan dengan memanaskan sampel dalam suasana asam pada temperatur tinggi. Dalam reaksi ditambahkan katalis seperti potasium sulfat, selenium,titanium, copper dll. Hasil akhir yang diinginkan adalah amonium sulfat.

    Reagent yang dibutuhkan [2]:

    1. 12 – 20 ml Asam sulfat 96-98%
    2. Hidrogen peroksida (katalis)
    3. Copper sulfat (katalis)

    Instrument yang digunakan[2]:

    1. Digestion apparatus
    2. Aspirator (vacuum pump)
    3. Scrubber

    Digestion apparatus, DK series, memanaskan dan mendigesti sampel dari temperatur ambient hingga 450oC tergantung dengan metode standar yang digunakan. Pada proses reaksi akan menghasilkan gas/uap yang bersifat korosif dari asam, gas ini akan dinetralkan dengan SMS Scrubber dan JP pump. Kedua alat ini menghindari terjadiny kontaminan gas pada operator, sehingga dapat diletakkan bila laboratorium tidak memiliki fume hood. Hasil dari proses ini adalah larutan berisi amonium sulfat yang kemudian dilakukan proses distilasi.

    Step 2 : Distilasi

    Distilasi merupakan proses pendidihan sampel menggunakan air dan larutan alkali, dimana uap yang terbentuk didinginkan dalam kondensor kemudian ditampung sebagai destilat. Tujuan proses distilasi adalah mengubah amonium sulfat yang terbentuk dalam proses digesti menjadi gas amonia, gas amonia ditangkap menggunakan asam sehingga menghasilkan larutan amonium yang siap untuk dianalisa kadar nitrogennya.

    Reagent yang dibutuhkan[2] :

    1. Air suling bebas nitrogen
    2. Larutan Sodium hidroksida 35%
    3. 25-30 ml Asam Borat

    Instrument yang digunakan [2]:

    1. Distilator
    2. Erlenmeyer (penampung destilat)

    Distilator, UDK series merupakan instrument distilasi automatik. Air suling/akudes dan sodium hidroksida (NaOH) dialirkan autometik ke tabung sampel sehingga sampel larut dan proses pemisahan nitrogen oleh steam destilasi serta perubahan pH menjadi lebih basa oleh NaOH menjadikan terjadinya perubahan NH4+ (solid) menjadi NH3 (gas). Amonia yang diperoleh kemudian dapat dilakukan proses penghitungan kadar dengan metode titrasi atau colorimetrik.

    Step 3 : Titrasi atau Colorimetrik

    Proses ini adalah tahapan akhir metode Kjeldahl, menganalisa kadar protein dengan menghitung banyaknya kandungan nitrogen. Titrasi dilakukan dengan menggunakan larutan asam (asam sulfat, H2SO4 atau asam hidroklorida, HCl) sedangkan colorimetrik menggunakan spektrofotometer

     

    Referensi :

    [1] Cozzone, Alain J, 2002, Proteins: Fundamental Chemical Properties, Institute of Biology and Chemistry of Proteins, CNRS, Lyon, France, http://www-sop.inria.fr

    [2] Velp Scientifica, 2013, Kjeldahl method, www.velp.com

    [3] AOAC (1984) Official methods of analysis of the Association of Official Analytical Chemists. 14th ed. Washington, DC

    Read more »

  • Produk Hach

    Thursday, 20 April 2017

    Hach adalah perusahaan Amerika yang bergerak dalam penyediaan instrumen laboratorium dan reagen yang digunakan untuk menganalisa kualitas air. Berbagai instumen dan reagen hasil produksi Hach menjadi pilihan dalam analisis yang dilakukan oleh pengguna instrumen dan reagen tersebut. Kustomer dapat memiliki instrumen dan reagen yang diproduksi Hach melalui distributor Hach Indonesia. Distributor Hach Indonesia menjadi sarana khususnya bagi para kustomer yang ada di Indonesia untuk mendapatkan instrumen atau reagen yang diinginkan untuk proses analisis yang sedang dilakukan.

    Produk Hach diantaranya :

    Spektrofotometer

    Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur konsentrasi sebuah larutan dengan mengukur absorbansi cahaya terhadap larutan. Instrumen ini menggunakan sumber cahaya berupa cahaya visible atau ultraviolet, atau keduanya. Prinsip kerja spektrofotometer menggunakan hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa ada hubungan linearitas antara konsentrasi sebuah larutan dengan absorbansi cahaya terhadap larutan tersebut sehingga melalui pengukuran absorbansi pada larutan yang dianalisa, dapat diketahui konsentrasinya.

    Produk Hach spektrofotometer terdiri atas

    DR3900 Benchtop Spectrophotometer

    Spektrofotometer Visible dari Hach ini dilengkapi dengan sumber cahaya berupa gas-filled tungsten (visible) yang memiliki jangkauan panjang gelombang yang berkisar dari 320 - 1100 nm (penjelasan lanjut tentang DR3900.......)

    DR6000 UV-Vis Spectrophotometer

    Spektrofotometer UV-Vis yang diproduksi oleh Hach memiliki sumber cahaya berupa tungsten (memiliki jangkauan visible) dan deuterium (memiliki jangkauan UV) yang memiliki panjang gelombang yang berkisar dari 190 - 1100 nm. Dengan jangkauan panjang gelombang yang lebih luas, maka analisa air secara kualitas dan kuantitas dengan ruang lingkup lebih luas dapat tercapai. (penjelasan lanjut tentang DR6000.......)

    DR1900 Portable Spectrophotometer

    Spektrofotometer portable dari Hach memiliki sumber cahaya berupa xenon flash. Sumber cahaya dari instrumen ini memiliki panjang gelombang yang berkisar dari 340 - 800 nm. Spektrofotometer tipe ini dilengkapi dengan wadah untuk penyimpanan, akan sangat berguna bagi penggunaan di lapangan dan mendukung pengambilan data secara cepat (penjelasan lanjut tentang DR1900......)

    Distributor Hach Indonesia

    PT. SAKA (Sumber Aneka Karya Abadi) adalah distributor Hach Indonesia. Kami tidak hanya menyediakan produk Hach saja, tetapi sebagai distributor Hach, kami juga menyediakan after sales service dimana pengguna dapat bertanya perihal produk Hach yang digunakan. Kami berharap melalui keberadaan distributor Hach Indonesia, kebutuhan para kustomer terhadap barang-barang laboratorium yang diperlukan untuk analisa lingkungan dapat terpenuhi

    Read more »

  • Limbah Cair Industri Tekstil

    Monday, 17 September 2018

    Limbah tekstil (garmen) merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan.  Limbah-limbah yang dihasilkan suatu industri tekstil ini akan dialirkan ke kolam-kolam penampungan dan selanjutnya dibuang ke sungai. Untuk memperoleh kualitas air yang lebih baik sebelum air tersebut dibuang ke perairan, maka suatu industri tekstil harus memenuhi baku mutu air limbah sesuai dengan  PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH .

    Tabel 1. Permen LH No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil

    Parameter

    Kadar paling Tinggi

    (mg/L)

    Beban pencemaran paling tinggi

    (Kg/ton)

    BOD5

    60

    6

    COD

    150

    15

    TSS

    50

    5

    Fenol Total

    0,5

    0,05

    Krom Total (Cr)

    1,0

    0,1

    Amonia Total (NH3-N)

    8,0

    0,8

    Sulfida (sebagai S)

    0,3

    0,03

    Minyak dan Lemak

    3,0

    0,3

    pH

    6,0-9,0

    Debit Limbah paling tinggi

    100m3/ton produk tekstil

     

    Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton.

    Gambar 1. Limbah Cair Industri tekstil

    (Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/ivann/2016/08/20/dibalik-warna-indah-kain-batik/)

     

    Sumber Limbah Industri

    Limbah dan emisi merupakan non product output dari kegiatan industri tekstil. Khusus industri tekstil yang di dalam proses produksinya mempunyai unit Finishing- Pewarnaan (dyeing) mempunyai potensi sebagai penyebab pencemaran air dengan kandungan amonia yang tinggi. Pihak industri pada umumnya masih melakukan upaya pengelolaan lingkungan dengan melakukan pengolahan limbah (treatment). Dengan membangun instalasi pengolah limbah memerlukan biaya yang tidak sedikit dan selanjutnya pihak industri juga harus mengeluarkan biaya operasional agar buangan dapat memenuhi baku mutu.

    Air limbah yang dibuang begitu saja ke lingkungan menyebabkan pencemaran, antara lain menyebabkan polusi sumber-sumber air seperti sungai, danau, sumber mata air, dan sumur. Limbah cair mendapat perhatian yang lebih serius dibandingkan bentuk limbah yang lain karena limbah cair dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dalam bentuk pencemaran fisik, pencemaran kimia, pencemaran biologis dan pencemaran radioaktif.

    Limbah tekstil merupakan limbah cair dominan yang dihasilkan industri tekstil karena terjadi proses pemberian warna (dyeing) yang di samping memerlukan bahan kimia juga memerlukan air sebagai media pelarut. Industri tekstil merupakan suatu industri yang bergerak dibidang garmen dengan mengolah kapas atau serat sintetik menjadi kain melalui tahapan proses : Spinning (Pemintalan) dan Weaving (Penenunan).Limbah industri tekstil tergolong limbah cair dari proses pewarnaan yang merupakan senyawa kimia sintetis, mempunyai kekuatan pencemar yang kuat. Bahan pewarna tersebut telah terbukti mampu mencemari lingkungan. Zat warna tekstil merupakan semua zat warna yang mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serat tekstil dan mudah dihilangkan warna (kromofor) dan gugus yang dapat mengadakan ikatan dengan serat tekstil (auksokrom).

     

    Karakteristik Air Limbah Industri Tekstil:

    Karakteristik air limbah dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

    1. Karakteristik Fisika

    Karakteristik fisika ini terdiri daribeberapa parameter, diantaranya :

    a. Total Solid (TS): Merupakan padatan didalam air yang terdiri dari bahan organik maupunanorganik yang larut, mengendap,atau tersuspensi dalam air.

    b. Total Suspended Solid (TSS): Merupakan jumlah berat dalam mg/l kering lumpur yang ada didalam airlimbah setelah mengalamipenyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron.

    c. Warna.: Pada dasarnya air bersih tidak berwarna, tetapi seiring dengan waktu dan menigkatnya kondisi anaerob, warna limbah berubah dari yang abu–abu menjadi kehitaman.

    d. Kekeruhan: Kekeuhan disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang bersifat organik maupun anorganik.

    e. Temperatur: Merupakan parameter yang sangat penting dikarenakan efeknya terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan penggunaan air untuk berbagai aktivitas sehari – hari.

    f. Bau: Disebabkan oleh udara yang dihasilkan pada proses dekomposisi materi atau penambahan substansi pada limbah. Pengendalian bau sangat penting karena terkait dengan masalah estetika.

    2. Karateristik Kimia

    a. Biological Oxygen Demand (BOD)

    Menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk menguraikan atau mengoksidasi bahan–bahan buangan di dalam air

    b. Chemical Oxygen Demand (COD)

    Merupakan jumlah kebutuhan oksigen dalam air untuk proses reaksi secara kimia guna menguraikan unsur pencemar yang ada. COD dinyatakan dalam ppm (part per milion) atau ml O2/ liter.(Alaerts dan Santika, 1984).

    c. Dissolved Oxygen (DO)

    adalah kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk respirasi aerob mikroorganisme. DO di dalam air sangat tergantung pada temperature dan salinitas.

    d. Ammonia (NH3)

    Ammonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan mengganggu proses desinfeksi dengan chlor (Soemirat, 1994). Ammonia terdapat dalam larutan dan dapat berupa senyawa ion ammonium atau ammonia.tergantung pada pH larutan.

    e.Sulfida

    Sulfat direduksi menjadi sulfida dalam sludge digester dan dapat mengganggu proses pengolahan limbah secara biologi jika konsentrasinya melebihi 200 mg/L. Gas H2S bersifat korosif terhadap pipa dan dapat merusak mesin.

    f. Fenol

    Fenol mudah masuk lewat kulit.Keracunan kronis menimbulkan gejala gastero intestinal, sulit menelan, dan hipersalivasi, kerusakan ginjal dan hati, serta dapat menimbulkan kematian).

    g. Derajat keasaman (pH)

    pH dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air. Bila terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mematikan kehidupan mikroorganisme.Phnormal untuk kehidupan air adalah 6–8.

    h. Logam Berat

    Logam berat bila konsentrasinya berlebih dapat bersifat toksik sehingga diperlukan pengukuran dan pengolahan limbah yang mengandung logam berat.

    Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia yang dalam skala tertentu membantu kinerja metabolisme tubuh dan mempunyai potensi racun jika memiliki konsentrasi yang terlalu tinggi. Berdasarkan sifat racunnya logam berat dapat dibagi menjadi 3 golongan :

    1. Sangat beracun, dapat mengakibatkan kematian atau gangguan kesehatan yang tidak pulih dalam jangka waktu singkat, logam tersebut antara lain : Pb,Hg, Cd, Cr, As, Sb, Ti dan U.

    2. Moderat, mengakibatkan gangguan kesehatan baik yang dapat pulih maupun yang tidak dapat pulih dalam jangka waktu yang relatif lama, logam tersebut antara lain : Ba, Be, Au, Li, Mn, Sc, Te, Va, Co dan Rb.

    3. Kurang beracun, namun dalam jumlah yang besar logam ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan antara lain :Bi, Fe, Mg, Ni, Ag, Ti dan Zn .

    3. Karakteristik Biologi

    Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Parameter yang biasa digunakan adalah banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah.

    Penentuan kualitas biologi ditentukan oleh kehadiran mikroorganisme terlarut dalam air seperti kandungan bakteri, algae, cacing, serta plankton. Penentuan kualitas mikroorganisme dilatarbelakangi dasar pemikiran bahwa air tersebut tidak akan membahayakan kesehatan. Dalam konteks ini maka penentuan kualitas biologi air didasarkan pada analisis kehadiran mikroorganisme indikator pencemaran.

     

    Di sekitar pabrik pada umumya sungai digunakan untuk tempat pembuangan limbah, tanpa instalasi pengolahan limbah terlebih dahulu. Dalam kegiatan industri, air yang telah digunakan (air limbah industri) tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan, tetapi air limbah industri harus mengalami proses pengolahan sehingga dapat digunakan lagi atau dibuang ke lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran.  Dengan pengolahan tersebut limbah tekstil yang dibuang ke sungai di duga dapat mengurangi bahan pencemar.

    Larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam. Penghilangan kanji biasanya memberi kan BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Proses-proses ini menghasilkan limbah cair dengan volume besar, pH yang sangat bervariasi dan beban pencemaran yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan. Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam.DiIndonesia zat warna berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai. Proses pencetakan menghasilkan limbah yang lebih sedikit daripada pewarnaan.

    PT  Sumber Aneka Karya Abadi sebagai salah satu distributor alat laboratorium menyediakan alat-alat untuk mengukur parameter yang dibutuhkan Industri Tekstil dalam pengontrolan limbah cairnya.

    1. pH

    Karena karakteristik limbah cair industri tekstil yang beragam seperti mengandung senyawa organik, sulfida dan logam berat, maka diperlukan elektroda yang memiliki performance tinggi di segala macam sampel seperti Thermo Scientific Orion 8172BNWP. Sedangkan untuk meter pengukur pH dapat digunakan Thermo Scientific Orion “VERSA STAR VSTAR90” Multiparameter Benchtop Meter.

     

    Gambar 2. 8172 BNWP

    Gambar 3. VSTAR90

    2. BOD5

    BOD Sensor System 6 dari VELP atau BOD Trak II dari HACH dapat digunakan untuk mengukur nilai BOD berdasarkan metode manometrik.

    Gambar 4. BOD Sensor System 6 Velp

    Gambar 5. BODTrak II Apparatus

    3. COD, Fenol Total, Amonia Total, Krom Total dan Sulfida

    Hach DRB200 dapat digunakan sebagai reaktor untuk membantu analisa COD pada limbah industri tekstil. Untuk reaktor DRB200 ini tersedia single block maupun dual block. Kemudian untuk mengukur nilai COD beserta Fenol Total, Krom Total, Amonia Total dan Sulfida dapat digunakan spektrofotometer HACH (DR1900, DR3900 atau DR6000).

    Gambar 6. DRB200 Single Block

    Gambar 7. DRB200 Dual Block

    Gambar 8. DR1900 Portable SPectrophotometer

    Gambar 9. DR3900 Laboratory Vis Spectrophotometer

    Gambar 10. DR6000 UV-VIS Spectrophotometer

     

     

     

     

    Daftar Pustaka:

    Dwioktavia., 2011, Pengolahan Limbah Industri Tekstil.  https://dwioktavia.wordpress.com/2011/04/14/pengolahan-limbah-industri-tekstil/.

    Habibi, Islam. 2012. TINJAUAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL PT. SUKUN TEKSTIL KUDUS. SKRIPSI. Universitas Negeri Yogyakarta.

    PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH .

    http://www.in.dirtwave.com/inggris-tertarik-pada-usaha-baru-dalam-industri-tekstil-dan-garmen/

    hach.com

    velp.com

    thermofisher.com

     

     

    Read more »

  • Kontrol Hardness dan Konsumsi Phosphate pada Boiler Feed Water

    Tuesday, 30 October 2018

    Boiler merupakan alat penting dalam power plant yang difungsikan sebagai penghasil energi. Namun pemanasan air pada suhu dan tekanan tertentu pada boiler dapat mengakibatkan beberapa kasus yang berujung pada kerusakan sistem. Untuk itu dibutuhkan treatment untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal tersebut.

    Air digunakan untuk media pemanas karena ketersediaannya yang melimpah, aman, murah dan memiliki pemanasan yang spesifik. Hanya saja, air bukanlah material yang sepenuhnya baik untuk pemanasan pada boiler, hal ini karena air mengandung banyak zat yang dapat memunculkan masalah pada boiler, salah satu contohnya adalah keberadaan ion Ca2+ dan Mg2+ pada air yang menyebabkan Hardness (kesadahan)1. Jika kadar Hardness terlalu tinggi maka akan menyebabkan terjadinya kerak pada boiler dan jika berlanjut akan merusak sistem boiler itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan solusi untuk mengatasi hal ini, yaitu dengan menambahkan zat kimia seperti softener untuk mengurangi kesadahan air tersebut2.

    Salah satu kontrol yang dapat dilakukan adalah melakukan tes terlebih dahulu pada tap water yang akan digunakan. Berdasarkan standard Method for water & wastewater nomor 2340, pengecekkan hardness dilakukan menggunakan metode titrimetri dengan EDTA sebagai complex agent3. Namun, terdapat metode lainnya yaitu spektrofotometri hach method 8030 yang memiliki beberapa keunggulan ketimbang metode titrasi. Perbandingan kedua metode ini dapat dilihat pada Tabel 1.

     

    Tabel 1. Perbandingan Metode Titrimetri dan Spektrofotometri/Kolorimetri

    Perlakuan

    Titrimetri4

    Spektrofotometri Hach 80305

    Waktu Preparasi Reagen lebih Lama Tidak memerlukan waktu, menggunakan reagen Hach

    Sampel yang digunakan dalam sekali tes

    25 mL

    10 mL

    Reagen EDTA yang digunakan

    Estimasi 15 mL EDTA /test

    1 tetes/ test

    Perhitungan hasil

    Perhitungan dilakukan secara manual

    Dilakukan secara digital

    Berdasarkan tabel Perbandingan tersebut, terdapat beberapa kelemahan dari metode ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

    1. Tidak memerlukan waktu preparasi reagen.

    2. Waktu analisa yang lebih cepat karena perhitungan dilakukan secara digital

    3. Reagen yang diperlukan relatif lebih sedikit

    4. Sampel yang dibutuhkan dalam sekali tes relatif lebih sedikit

     

    Pengontrolan hardness pada air tidak mungkin lepas dari penambahan zat lain untuk mengurangi ion-ion penyebab kesadahan pada air tersebut, beberapa caranya dalah dengan menambahkan softener, zat aditif yang dapat mengendapkan ion-ion Ca2+ menjadi Ca3(PO4)2 6. Tentunya penambahan ini haruslah dalam dosis tertentu, sehingga parameter phosphate perlu dikontrol juga. Pengecekkan phosphate dilakukan dengan menggunakan metode colorimetri dengan menggunakan reagen Molybldates untuk mendeteksi keberadaan orthophosphate.

    Untuk kasus ini alat yang dapat membantu Anda adalah spektrofotometer DR3900 keluaran Hach. Spektrofotometer ini dilengkapi dengan stored program lebih dari 240 program serta dapat membuat 100 program, termasuk analisa hardness dan phosphate. Berbagai kelebihan disajikan oleh alat ini untuk membantu analisa Anda. Hach juga menyediakan closed reagent untuk yang diproduksi oleh Hach khusus untuk analisa Hardness, Phosphate, maupun parameter lainnya pada air. Selain itu, alat ini dapat menampilkan hasil berupa Absorbansi, Transmisi, dan konsentrasi dengan range panjang gelombang dari 320 – 1100 nm.

     

     

    Reference :

    1. Boiler Water Treatment Handbook Chapter 39. http://ssu.ac.ir/cms/fileadmin/user_upload/Daneshkadaha/dbehdasht/markaz_tahghighat_olom_va_fanavarihaye_zist_mohiti/e_book/pasmand/water/58723_39a.pdf

    2. ASTM committee on Standards. Standard Test Method For Hardness in Water, An American Standard. Www.astm.org

    3. APHA (American Public Health Association) , AWWA (American Water Works Association), WED (Water Environtment Federation). 2005. Standard Methods For The Examination of Water and wastewater 21th Edition. United State America : Continental Edition

    4. Boyes, P.N, Method For The Analysis Of Boiler Water. https://pdfs.semanticscholar.org/8517/f565cdb41fa663098b1afc24672244ba0f17.pdf

    5. Hach Company, Hardness, Ca and Mg, Calmagite Method, www.hach.com

    6. American Water Works Association. 2016. Phosphate in Boiler Water Conditioning [with Discussion), Journal (American Water Works Association). Hal 79-200

    Read more »