Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Monitoring Nilai Konduktivitas Air Dialisis di Rumah Sakit

Monitoring Nilai Konduktivitas Air Dialisis di Rumah Sakit

Wednesday, 07 January 2026

Kualitas air dialisis merupakan faktor krusial dalam menjamin keselamatan dan kenyamanan pasien hemodialisis. Air yang digunakan harus memiliki kandungan ion terlarut yang sangat rendah agar tidak menimbulkan gangguan elektrolit maupun efek toksik. Untuk memastikan hal tersebut, conductivity meter menjadi alat penting yang tidak terpisahkan dari sistem pengendalian mutu air dialisis di rumah sakit.

 

Konduktivitas sebagai Indikator Kualitas Air Dialisis

Konduktivitas mencerminkan kemampuan air dalam menghantarkan listrik, yang secara langsung dipengaruhi oleh jumlah ion terlarut di dalamnya. Semakin rendah nilai konduktivitas, semakin murni air tersebut. Dalam praktik hemodialisis, nilai konduktivitas air hasil reverse osmosis (RO) digunakan sebagai indikator cepat dan efektif untuk memastikan bahwa sistem pengolahan air bekerja dengan optimal.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 disebutkan bahwa air untuk pemakaian khusus adalah air yang dibutuhkan untuk kegiatan yang bersifat khusus di rumah sakit yang memerlukan persyaratan tertentu dan berbeda dengan air minum, seperti air untuk hemodialisis. Oleh karena itu, air yang digunakan perlu untuk mengontrol atau memastikan kualitasnya. Nilai konduktivitas air RO untuk dialisis yang direkomendasikan secara operasional adalah ≤ 10 µS/cm.

 

Peran Conductivity Meter dalam Unit Hemodialisis

Conductivity meter dirancang untuk memberikan pengukuran konduktivitas yang cepat, stabil, dan akurat. Dengan alat ini, tenaga teknis dan petugas laboratorium dapat mendeteksi sejak dini adanya peningkatan kadar ion akibat penurunan kinerja membran RO, kebocoran sistem, atau gangguan pada unit pengolahan air.

Pemantauan yang konsisten menggunakan conductivity meter membantu rumah sakit dalam:

  • Menjaga air dialisis tetap sesuai standar
  • Mencegah risiko klinis pada pasien
  • Mendukung kepatuhan terhadap standar AAMI (Association for the Advancement of Medical Instrumentation) /ISO (International Organization for Standardization)
  • Mengurangi downtime mesin dialisis akibat masalah kualitas air

Conductivity meter modern untuk aplikasi medis dan laboratorium umumnya dilengkapi dengan fitur unggulan, seperti:

  • Rentang pengukuran luas dengan resolusi tinggi
  • Kompensasi suhu otomatis (ATC) untuk hasil yang lebih akurat
  • Respon cepat dan stabil, ideal untuk monitoring harian
  • Desain sensor tahan lama dan minim perawatan
  • Kemudahan kalibrasi dengan larutan standar konduktivitas

Fitur-fitur tersebut menjadikan conductivity meter sebagai solusi praktis dan andal dalam sistem manajemen mutu air dialisis.

Langkah-langkah pengukuran nilai konduktivitas pada air dialisis dengan menggunakan conductivity meter adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan conductivitiy meter beserta probe nya dan lakukan kalibrasi dengan menggunakan larutan standar conductivity.
  2. Bilas probe dengan menggunakan air deionisasi dan keringkan dengan menggunakan tisu kering setelah dilakukan kalibrasi.
  3. Siapkan sampel air dialisis yang akan diukur.
  4. Lakukan pengukuran dengan merendam probe pada sampel.
  5. Tekan tombol atau pilih measure pada conductivity meter yang digunakan.
  6. Tunggu hingga pengukuran stabil dan menunjukkan lambang check list atau tertulis Stabil pada display conductivity meter yang digunakan.
  7. Catat hasil pengukuran sampel. 

Selain cara pengukuran yang tepat, conductivity meter dan probe nya memegang peranan vital dalam monitoring kualitas air dialisis. Dengan kemampuan mendeteksi perubahan konduktivitas secara cepat dan akurat, alat ini membantu rumah sakit menjaga air RO tetap berada dalam batas aman, yaitu ≤ 10 µS/cm.

Contoh conductivity meter yang dapat digunakan dalam memonitoring kualitas air dialisis di rumah sakit dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Rangkain conductivity meter 

 

Referensi:

Association for the Advancement of Medical Instrumentation (AAMI). (2014). ANSI/AAMI/ISO 13959: Water for hemodialysis and related therapies. Arlington, VA: AAMI.

International Organization for Standardization. (2019). ISO 23500 Series: Guidance for the preparation and quality management of fluids for hemodialysis and related therapies. Geneva: ISO.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Previous Article

Cara Menentukan Dosis pada Jar Test

Tuesday, 23 December 2025
VIEW DETAILS

Next Article

Baku Mutu Air Limbah Industri Minyak dan Gas Bagian 4 : Parameter COD

Tuesday, 13 January 2026
VIEW DETAILS