| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364480 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Dalam analisa air limbah, pengujian metode jar test sangat umum digunakan untuk menentukan dosis optimal zat koagulan yang harus digunakan seperti yang telah di jelaskan pada Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 19-6449 Tahun 2000. Zat koagulan yang biasa digunakan adalah poli aluminum klorida (Poly Aluminum Chloride/PAC), alumunium sulfat, besi (II) sulfat dan besi (III) sulfat, yang tentunya penentuan zat koagulan ini bergantung pada karakteristik air limbah yang diolah. Selain zat koagulan, analis juga perlu mempertimbangkan alat flokulator yang tepat untuk hasil yang optimal. Apa saja yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat flokulator? Bagaimana cara perawatannya? Artikel ini akan membahas seputar metode jar test yang mencakup analisa, pemilihan alat dan cara perawatan alat analisa.
Jar test adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi proses flokulasi dan koagulasi pada saat penambahan koagulan/flokulan pada sampel air limbah. Prinsip pengujian metode jar test adalah dengan menambahkan koagulan dengan dosis tertentu yang disertai dengan pengadukkan dan mengevaluasi hasilnya dengan mengamati koagulan atau flokulan yang terbentuk. Tujuan dari pengadukkan ialah untuk mempercepat homogenasi zat koagulan pada sampel yang diolah. Dalam hal ini, beberapa aspek perlu diperhatikan dalam penentuan dosis koagulan seperti jenis koagulan yang cocok dengan karakteristik air limbah, pH campuran, dan suhu. Penjelasan lebih lanjut terkait dari aspek ini dijabarkan sebagai berikut :
Jenis Koagulan/ Flokulan
Koagulasi - flokuasi adalah salah satu proses kimia dalam pengolahan air limbah yang bertujuan untuk menghilangkan polutan yang tersuspensi ataupun dalam bentuk koloid. Proses koagulasi berjalan dengan terbentuknya flok - flok akibat penambahan zat koagulan. Perbedaan yang dilakukan antara tahap koagulasi dan flokulasi adalah kecepatan pengadukan. Pada tahap koagulasi dilakukan pengadukan dengan cepat (flash mixing) agar flok atau gumpalan yang terbentuk secara merata, sedangkan pengadukan lebih lambat diberikan pada tahap flokulasi. Hal ini dimaksudkan agar flok-flok yang telah terbentuk dapat disatukan menjadi flok - flok dengan ukuran lebih besar secara optimal. Beberapa zat koagulan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Alumunium Sulfate (Alum)
Alumunium sulfat [Al2(SO4)3.18H2O] adalah salah satu zat koagulan yang umum digunakan karena kemudahannya untuk didapat serta harganya yang murah. Reaksi yang terjadi antara zat ini dengan alkalinitas dalam air ditunjukkan pada persamaan :

b. Ferrous Sulfate [Fe2(SO4)3]
Zat koagulan ini termasuk pada zat koagulan golongan logam yang membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida untuk mempercepat reaksinya. Biasanya dibutuhkan penambahakan senyawa kalsium hidroksida dan natrium hidroksida (NaOH) untuk meningkatkan pH sehingga ion Fe3+ dapat mengendap menjadi Fe(OH)3. Persamaan reaksi yang terjadi dapat ditulis :

c. Ferric Sulfate atau Ferric Chloride (FeSO4 atau FeCl3)
Secara garis besar penggunaan ferric sulfate sama seperti ferrous sulfate namun,hanya sedikit berbeda pada mekanisme reaksi yang terjadi.

2. pH
pH adalah parameter yang sangat penting dalam reaksi proses pembentukan flok, hal ini karena setiap zat koagulan memiliki pH optimalnya masing - masing. Beberapa pH optimal dari zat koagulan ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Beberapa Zat Koagulan dan pH optimumnya

Alat analisa adalah salah satu bagian yang penting dalam penentuan dosis. Pasalnya alat analisa jar test telah dilengkapi lampu LED untuk mengamati dan mengevaluasi pembentukan flok yang terjadi ketika proses koagulasi-flokulasi berlangsung. Selain keberadaan lampu LED, apa saja yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat analisa Jar Test? Berikut penjelasan dan tips pemilihannya.
1. Jumlah Posisi analisa
Umumnya, jumlah posisi yang banyak ditawarkan oleh vendor berjumlah antara 4 sampai 6. Seperti yang telah diketahui, semakin banyak posisi yang dipilih, maka semakin banyak sampel yang dapat diuji. Namun, jika memilih posisi yang lebih banyak dari yang dibutuhkan, hal ini karena posisi yang tidak terpakai lambat laun dapat dihinggapi debu sehingga dapat menyebabkan masalah ketika sistem pengadukan aktif. Tips : Pilih alat flokulator dengan posisi analisa yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Spindle pengaduk
Spindle pengaduk adalah bagian paling penting dalam proses homogenasi. Namun, proses koagulasi dan flokulasi yang tidak lepas dari penampahan zat alkalis ataupun asam mengharuskan analis untuk memilih alat flokulator / jar test dengan spindel yang terbuat dari bahan yang tahan terhadap korosif. Tips : Pilih alat jar test dengan bahan spindle yang terbuat dari stainless steel. Sebagai tambahan, pilihkan alat jar test yang memiliki spindle fleksibel, yakni dapat diangkat ke atas langit - langit alat jika posisi tidak sedang digunakan. Hal ini akan mencegah kontaminasi atau kotornya spindle posisi yang kosong.
3. Jangkauan kecepatan dan waktu analisa
Alat flokulator biasanya dilengkapi dengan knob atau display pengatur kecepatan dan waktu analisa. Knob dalam bentuk putaran atau dalam bentuk sakelar. Namun, penggunaan alat flokulator dengan tombol dan display digital akan jauh lebih memudahkan analis dalam analisa dibandingkan dengan alat flokulator yang menggunakan knob putar ataupun sakelar. Tentunya, pemilihan jangkauan kecepatan dan durasi waktu pada spek alat menjadi hal yang paling utama untuk dilihat.
4. Material penyusun Alat
Dalam hal ini, material penyusun alat juga dapat berpengaruh pada keberlangsungan analisa. Oleh karena itu, analis direkomendasikan untuk memilih alat yang tahan korosi dan tahan terhadap zat kimia. Tips : Alat flokulator dengan bahan badan berupa logam yang dilapisi epoksi dapat menjadi salah satu rekomendasi.
Setiap analisa pasti membutuhkan perlakuan tersendiri untuk menjaga agar alat selalu dalam performa terbaiknya. Untuk alat jar test, penyimpanan dan perawatannya cukup mudah untuk dilakukan oleh analis, yakni dengan menyimpan alat pada ruangan dengan suhu dan kelembaban tidak melebihi 40oC dan 80% RH, serta usahakan agar alat terhindar dari debu. Hal ini dapat dilakukan dengan menutup alat jar test dengan sarung anti debu jika alat tidak digunakan. Untuk perawatannya, analis direkomendasikan untuk membersihkan alat baik sebelum maupun sesudah pemakaian, pembersihan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kain basah dan deterjen non agresif yang tidak mudah terbakar. Contoh tampilan alat jar test ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Tampilan Alat Jar test (a) Portable (b) Benchtop 4 Posisi (c) Benchtop 6 Posisi
Referensi :
Badan Standardisasi Nasional. 2000. Standar Nasional Indonesia Nomor 19-6449 "Metode Pengujian Koagulasi - Flokulasi dengan Cara Jar"
Risdianto, Dian. 2007. Optimasi ProsesKoagulasi Flokulasi untuk Pengolahan Air Limbah Industri Jamu. Semarang : Universitas Diponegoro
www.velp.com