Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001363984{main}( ).../news-detail.php:0
Uji pH pada Produk Pakan

Uji pH pada Produk Pakan

Wednesday, 20 March 2024

Mengapa pH penting diuji pada produk pakan hewan? Pakan yang dikonsumsi akan menentukan keadaan perut hewan dan juga kesehatannya. Jika pH pakan terlalu asam, keadaan sistem pencernaan hewan akan cenderung asam dan dapat membunuh bakteri baik yang ada. Tentunya hal ini tidaklah baik untuk hewan ternak tersebut, terutama pada hewan ruminansia, karena dapat mengakibatkan gangguan pencernaan bahkan hingga kematian hewan tersebut. Selain itu, pH juga berpotensi menumbuhkan keadaan yang spesifik untuk tipe bakteri tertentu seperti Salmonella dan juga sekaligus menjadi kunci cara pendeteksian serta pemusnahannya.  

Salmonella, kebanyakan spesies bakteri ini memang samar keberadaannya pada sampel pakan dan bahan pakan karena adanya proses desikasi, pemanasan dalam proses pengkondisian (conditioning) ataupun pencetakan pellet (pellet). Hal ini pernah menjadi kajian menarik yang ditulis oleh Linden, 2013. Dalam artikelnya, penulis mengemukakan bahwa diperlukan pengkondisian tersendiri agar bakteri Salmonella dapat dideteksi dan dimusnahkan secara akurat dari bahan baku ataupun produk pakan dan pangan. Tanpa adanya pengkondisian khusus, akan sulit untuk dideteksi karena jumlahnya yang telah berkurang karena proses - proses manufaktur. Oleh karena itu dilakukan memperkaya nutrisi pada sampel - sampel yang dijadikan sebagai titik kritis. Beberapa zat yang digunakan yakni buffered peptone water (BPW), lactose broth (LB), minimal salts medium (M-9), or universal pre-enrichment (UP) dengan variasi pH yang digunakan 6.1 - 7.2 dan waktu inkubasi pada suhu 37oC selama 18, 24 dan 48 jam.

Dalam kasus umum, pH juga merupakan salah satu parameter atau titik kritis dalam perencanaan HACCP suatu manufaktur, terutama pada bidang makanan dan pakan hewan. Bahkan menurut FDA (Food Drugs Administrations) hal ini merupakan hal yang wajib dalam merencanakan HACCP. Pada kasus lain, pengendalian parameter pH juga dilakukan untuk mencegah kontaminasi mikroba pada kulit telur hasil panen ternak, dengan melakukan kontrol pH pada air pembersih yang berkisar pada 11.0 - 12.5. Dalam hal ini pihak CFIA menyatakan bahwa nilai toleransi jumlah bakteri tidaklah melebihi 5 cfu/mL. Berdasarkan FDA, pengukuran pH dianjurkan untuk menggunakan sensor pH dan alat pH meter

 

Alat pH Meter dan Bagiannya

pH meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur derajat keasaman dari suatu analit berdasarkan prinsip elektrokimia. Alat ini terdiri dari 2 komponen yaitu meter dan elektroda pH. Cara pakainya cukup mudah, analis hanya perlu mencelupkan atau merendam elektroda pH yang telah bersih pada sampel dengan ketinggian tertentu. Setidaknya, bagian balb dari elektroda serta sensor suhu* terendam dengan optimal pada sampel. 

Gambar 1. Contoh Tampilan Alat pH Meter dan kelengkapannya

 

Balb adalah salah satu bagian dari elektroda pH. Bagian ini memiliki membran yang memungkinkan terjadinya pertukaran antar ion hidrogen (H+), yakni ion yang ada dalam sistem elektroda dan ion hidrogen (H+) yang terkandung dalam sampel. Selain balb, elektroda juga memiliki bagian lainnya seperti elektrolit yang berfungsi sebagai medium dalam sistem sehingga interaksi terjadi secara optimal. Bagian lainnya adalah badan elektroda (body material) yang berfungsi untuk melindungi dan membungkus keseluruhan sistem. Bagian terpenting yang menjadi jalur peredaran ion dalam sistem pada elektroda yaitu jembatan garam atau yang dikenal dengan junction. Bagian ini amat sangat perlu diperhatikan terutama dalam pemilihan elektroda. Ilustrasi bagian - bagian elektroda dapat dilihat pada Gambar 2. 

Gambar 2. Bagian - Bagian Elektroda

 

Tips Pemilihan Elektroda pH untuk Aplikasi Industri Pakan

Telah dijelaskan pada artikel sebelumnya bahwa terdapat banyak variasi elektroda pH yang beredar secara komersial yang perlu dikenali oleh analis. Hal ini karena sifat sampel pakan sama halnya seperti sampel makanan, yakni memerlukan elektroda pH khusus agar tidak terjadi sumbatan (clogging) pada elektroda pH saat pengukuran berlangsung. Berikut beberapa tips yang dapat kami rekomendasikan untuk memilih elektroda pH untuk aplikasi pakan:

  1. Elektroda tipe kombinasi sangat dianjurkan dalam aplikasi ini;

  2. Untuk kebutuhan analisa pH pada pakan dapat digunakan elektroda dengan material badan yang terbuat dari plastik ataupun kaca. Jika sampel hendak diukur dalam keadaan panas, maka elektroda dengan material kaca lebih direkomendasikan;

  3. Karena sampel pakan merupakan sampel dengan konsentrat tinggi, maka disarankan untuk memilih elektroda tipe refillable yakni dengan tipe elektrolit cairan;

  4. Pilihlah elektroda pH dengan elektroda referensi setidaknya Ag/AgCl. Namun elektroda referensi ROSS ataupun ROSS Ultra lebih advance dengan pembacaan yang lebih cepat.

  5. Jika elektroda pH belum dilengkapi dengan sensor suhu, maka analis perlu menggunakan sensor suhu tambahan yang dapat mengkoreksi nilai pH secara akurat. Hal ini karena suhu memiliki pengaruh yang signifikan pada nilai pH

  6. Karena sampel pakan termasuk pada sampel yang banyak mengandung padatan, maka tipe junction yang paling tepat adalah tipe sure-flow, sleeve, ceramic dan open;

  7. Jika sampel berbentuk padatan cake (kue) maka elektroda pH dengan ujung tajam (spear tip) dapat digunakan untuk mencegah dan meminimalisir adanya rongga udara dapa saat pengukuran. 

  8. Sebagai tambahan, dianjurkan untuk memilih pH meter yang telah dilengkapi dengan sistem pengunci (lock), perekaman atau arsip data (data logger), kemampuan pembacaan buffer secara otomatis (auto buffer recognition) dan fitur ATC (automatic temperature compensation).


Baca juga :

Mengenal Tipe Elektroda pH

Pengaruh Suhu pada pH

 

Referensi 

APEC. 2019. How to Make a HACCP Plan for Food and Animal Feed Manufacturers, https://www.apecusa.com/blog/how-to-make-a-haccp-plan-for-food-and-animal-feed-manufacturers/ diakses pada Tanggal 19 Maret 2024

Cerf., O, dkk. 2011. Application of hazard analysis – Critical control point (HACCP) principles to primary production: What is feasible and desirable?, Food Control, Vol 22 (12), hal. 1839-1843

Jim. 2021. Designing a Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) Plan for Shell Eggs, https://www.poultryproducer.com/designing-a-hazard-analysis-and-critical-control-point-haccp-plan-for-shell-eggs/ diakses pada Tanggal 18 Maret 2024

Linden, Jackie. 2013. Variations in Pre-enrichment pH of Poultry Feed and Feed Ingredients, https://www.thepoultrysite.com/articles/variations-in-preenrichment-ph-of-poultry-feed-and-feed-ingredients#:~:text=The%20media%20from%20broiler%20and,and%20M%2D9%20were%20similar. Diakses pada Tanggal 15 Maret 2024

Thermo Scientific. 2014. Application Note : Measuring pH of Non Aqueous and Mixed Samples.

Thermo Scientific. 2014. PH Measurement Handbook.

U.S Food and Drugs Administration. 2007. Approximate pH of Foods and Food Products. https://www.webpal.org/SAFE/aaarecovery/2_food_storage/Processing/lacf-phs.htm diakses pada Hari Selasa Tanggal 1 November 2022 Pukul 13.39

,

Previous Article

Penentuan Protein dalam Susu

Wednesday, 13 March 2024
VIEW DETAILS

Next Article

Pemantauan Kebutuhan Oksigen Air Kolam Budidaya (Aquaculture)

Monday, 25 March 2024
VIEW DETAILS