| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364192 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Berapa lama suatu produk dapat disimpan? Pertanyaan tersebut adalah salah satu indikator dasar yang penting untuk kualitas suatu produk dairy. Umur simpan (shelf life) tidak hanya memberikan informasi tentang kualitas kepada konsumen, tetapi memberikan juga informasi seperti keamanan dan kenyamanan produk. Oleh karena itu, shelf life merupakan salah satu informasi yang wajib dicantumkan oleh produsen pada kemasan produk dairy dan peraturan ini telah dicantumkan dalam UU No. 7 tahun 1996 dan PP Nomor 69 tahun 1999.
Shelf Life: Tanggal Kadaluarsa (Expiration Date) vs Baik digunakan sebelum (Best before
Sebelum memahami metode untuk menentukan umur simpan makanan, kita harus mempertimbangkan dua konsep dasar: tanggal kadaluarsa (expiration date) dan baik digunakan sebelum (best before). Tanggal kadaluarsa ditunjukkan pada produk yang mudah rusak dengan risiko biologis, yang berarti konsumsinya setelah tanggal tersebut dapat menyebabkan keracunan makanan pada tingkat tertentu. Tanggal ini sangat tergantung pada faktor-faktor seperti kondisi penyimpanan yang optimal, aktivitas air, kriteria mikrobiologi atau oksidasi. Di sisi lain, best before, berlaku untuk produk yang lebih tahan lama dan stabil, menunjukkan kapan suatu produk mulai kehilangan kualitas fisiknya seperti warna, bau atau rasa, tetapi konsumsinya tetap aman dan tidak menimbulkan risiko mikrobiologis untuk konsumen. Penggunaan antioksidan dapat membantu menunda best before suatu produk.
Shelf life pada Produk Dairy
Setiap kategori produk dairy memiliki umur simpan yang berbeda-beda berdasarkan kualitas susu mentah, langkah-langkah pengolahan produk dairy, tingkat kontaminasi ulang setelah pasteurisasi, teknologi dan bahan pengemasan, kondisi penyimpanan, perawatan selama pengangkutan, penanganan oleh perdagangan eceran dan penanganan oleh konsumen. Hampir semua produk susu perlu disimpan di lemari es. Pengecualian termasuk produk susu bubuk, dan produk seperti produk UHT (Ultra-High Temperature), yang dapat disimpan di ruang penyimpanan (pantry), atau es krim yang perlu disimpan di freezer. Berikut ini daftar umur simpan khas produk dairy di lemari es.
| Produk dairy | Umur Simpan | Suhu |
|---|---|---|
| Susu pasteurisasi | 12-14 hari | Lemari Pendingin |
| Susu skim dan beraroma | <12-14 hari | Lemari Pendingin |
| Yoghurt | 4-6 minggu | Lemari Pendingin |
| Keju Keras dan Semi Keras | beberapa minggu hingga berbulan-bulan | Lemari Pendingin |
|
Keju cottage, ricotta dan krim keju
|
1 - 2 Minggu | Lemari Pendingin |
| Mentega (asin) | 4 minggu | Lemari Pendingin |
| Mentega (tawar) | 2 - 3 Minggu | Lemari Pendingin |
| Es krim dan yoghurt beku | 2 - 6 Bulan | Freezer |
Umur simpan yang dapat diterima dari suatu produk ditentukan oleh saat produk tersebut mulai kehilangan kualitas sensorik dasar dan gizinya. Selama penyimpanan, suatu produk mungkin menjadi tidak enak dalam arti toksisitas akibat kontaminasi mikroorganisme berbahaya. Kualitas mikroba dan fisik bahan mentah seringkali menentukan umur simpan suatu makanan. Parameter saat proses pengolahan seperti pada jenis dan tingkat pemanasan dan pendinginan, sejauh mana makanan terkonsentrasi, fermentasi, penggabungan dan distribusi bahan-bahan seperti garam, sanitasi peralatan dan lingkungan, pengemasan, suhu penyimpanan, kelembaban dan paparan bau juga dapat mempengaruhi umur simpan dari produk dairy.
Metode Penentuan Umur Simpan
Hingga saat ini telah banyak metode dikembangkan untuk menduga umur simpan produk pangan. Secara umum penentuan umur simpan suatu produk didasarkan pada pendeteksian perubahan mikroba yang diiringi dengan perubahan fisik, kimia dan sensori bahan pangan seiring lamanya waktu penyimpanan. Metode yang paling banyak digunakan saat ini untuk memperkirakan umur simpan makanan yaitu: direct method dan indirect method (predictive microbiology dan accelerate shelf life tests).

Gambar 1. Metode Penentuan Umur Simpan
1. Direct method
Metode ini paling banyak diterapkan dengan cara meletakkan produk pada sebuah ruang penyimpanan dengan kondisi tertentu selama waktu tertentu (lebih dari waktu perkiraan shelf life). Produk kemudian dicek secara berkala untuk melihat perubahan yang mungkin terjadi (baik secara quality maupun safety).
Tahapan Penentuan Umur Simpan dengan Direct Method :
Tahap 1. Identifikasi penyebab kerusakan dan produk menjadi tidak aman
Setiap produk memiliki faktor yang mempengaruhi batas umur simpannya. Memahami faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerusakan produk akan membantu cara memperpanjang umur simpan. Jangan lupa untuk mempertimbangkan keseluruhan proses, dari pembelian bahan-bahan, proses pengemasan hingga sampai kepada konsumen saat digunakan. Pertimbangkan juga kondisi cuaca sepanjang tahun, perubahan cuaca akan menyebabkan perubahan temperatur, intensitas cahaya dan kelembapan lingkungan.
Tahap 2. Tentukan pengujian yang akan dilakukan
Banyak metode pengujian umur simpan yang bisa digunakan seperti evaluasi sensor, pengujian mikroba, pengujian kimia dan fisik, namun demikian tidak semua metode bisa cocok bila digunakan untuk semua jenis produk.
Tahap 3. Rancangan percobaan pengujian shelf life
Sebelum melakukan rancangan percobaan pengujian shelf life rencanakan:
a. Jenis pengujian apa yang akan digunakan/dipilih
b. Berapa suhu ruangan pengujian
c. Berapa lama proses pengujian, dan seberapa sering pengujian akan dilakukan (termasuk waktu pengambilan sampel). Pengujian sebaiknya dilakukan saat diawal, diakhir dan 3x diantaranya. Jika perlu tambahkan sampel yang akan diuji melewati batas akhir pengujian untuk memastikan batas akhir umur simpan
d. Berapa banyak sampel yang akan digunakan setiap kali pengujian (setidaknya ada 3 sampel yang akan diuji setiap kali pengujian)
e. Berapa banyak jumlah sampel yang digunakan selama keseluruhan periode pengujian
f. Kapan anda akan melakukan pengujian. Idealnya lakukan pada pengujian lebih dari 1x untuk memastikan tingkat kevalidan hasil.
Tahap 4. Jalankan Rancangan percobaan pengujian umur simpan
Selama periode pengujian, sampel harus diletakkan pada kondisi yang sama dimana produk tersebut disimpan digudang atau didistribusikan ke pasar.
Tahap 5. Penentuan umur simpan
Umur simpan ditentukan dengan mempertimbangkan semua hasil pengujian. Produsen harus menentukan kualitas dan tingkat keamanan standart untuk produk yang dihasilkannya. Jika hasil pengujian sudah melewati nilai standart tersebut maka produk sudah turun kualitasnya. Penentuan umur simpan harus dibuat lebih cepat dari hasil pengujian untuk menggaransi kualitas pada konsumen.
Tahap 6. Monitoring umur simpan
Monitoring umur simpan harus tetap dilakukan dengan mengambil beberapa sampel pada saat didistribusikan atau berada di retail. Pengujian umur simpan harus diulang jika ada perubahan proses pengolahan maupun perubahan lingkungan.

Gambar 2. Contoh Ruang Penyimpanan untuk Shelf Life
2. Indirect method
Metode ini dilakukan dengan menempatkan produk pada suatu produk pada sebuah ruang penyimpanan yang mungkin bisa mempercepat proses perusakan bahan pangan.
Tahapan Penentuan Umur Simpan dengan Indirect Method.
Tahap 1. Pengujian dengan Accelerated Storage Shelf Life
Secara umum penentuan shelf life dapat dilakukan dengan menggunakan Extended Storage studies (ESS). yaitu dengan metode Accelerated Storage Shelf Life atau biasa disebut dengan metode ASLT (Accelerated Shelf Life Testing) dilakukan dengan cara menyimpan produk pada kondisi lingkungan yang bisa mempercepat penurunan kualitas produk (suhu dan kelembaban (RH)). Periode pengujian dengan metode ini bisa dilakukan dengan lebih cepat dengan nilai keakuratan yang relatif tinggi. Tingkat keakuratan perhitungan umur simpan dapat dilihat dari seberapa besar penyimpangan data dengan ESS dengan ASLT.
Tahap 2. Pengujian dengan Predictive Modelling
Pendugaan umur simpan produk pangan dengan predictive modelling dilakukan dengan cara membuat korelasi parameter-parameter kualitas produk yang berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan kualitas produk terhadap waktu penyimpanan.
Kemudian, data perubahan yang didapat digunakan untuk memprediksi waktu umur simpan pada kondisi penyimpanan yang dikehendaki.
Dari metode-metode di atas produsen dapat memilih salah satu metode yang paling sesuai untuk dijadikan panduan dalam menetapkan umur simpan (shelf life) produk dairy yang dimiliki.
Dairy Food Safety Victoria. 2018. Shelf life of Dairy Products. Dairy Safe: Victoria, Australia.
IDF. 2012. Shelf-life of Dairy Products. International dairy Federation: Brussels.
Asiah, Nurul, dkk. 2018. Panduan Praktis Pendugaan Umur Simpan Produk Pangan. Universitas Bakrie: Jakarta.
Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999.
Undang-Undang Tentang Pangan UU No. 7 Tahun 1996.