Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Analisa Protein dengan Metode Kjeldahl

Analisa Protein dengan Metode Kjeldahl

Monday, 09 May 2016

Protein merupakan senyawa organik kompleks yang memiliki bobot molekul tinggi yang tersusun dari monomer-monomer asam amino dimana dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Dalam struktur molekulnya, protein terdiri dari atom karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen, terkadang ada beberapa yang berikatan dengan sulfur dan fosfor. Protein dalam tubuh mahluk hidup berfungsi sebagai unit penyusun struktur dan fungsi sel. [1]

Analisa protein kebanyakan dilakukan pada industri makanan, baik makanan untuk manusia maupun makanan untuk keperluan ternak. Analisa protein penting sekali karena bertujuan untuk mengetahui  jumlah kandungan protein dalam suatu makanan. Selain itu, untuk memenuhi standard baku mutu makanan dari setiap negara.

Salah satu analisa protein yang sering digunakan adalah metode Kjeldahl, yaitu makanan didigesti dengan asam kuat maka ikatan peptida akan terurai sehingga melepas atom nitrogen, yang kadarnya dianalisis dengan teknik titrasi. Kebanyakan protein dianalisa berdasarkan pada banyaknya ikatan nitrogen. Kadar nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan faktor pengkali berdasar asam amino penyusun protein tersebut. Berikut contoh faktor untuk beberapa jenis makanan. (Tabel 1)

Analisa protein dengan metode Kjeldahl dilakukan dengan 3 tahapan proses, diantaranya :

Step 1 : Digesti

Proses digesti bertujuan untuk memecah ikatan kompleks polipeptida pada makanan menjadi ikatan peptida yang lebih sederhana dan menghasilkan molekul air, karbondioksida dan amonium sulfat. Digesti dilakukan dengan memanaskan sampel dalam suasana asam pada temperatur tinggi. Dalam reaksi ditambahkan katalis seperti potasium sulfat, selenium,titanium, copper dll. Hasil akhir yang diinginkan adalah amonium sulfat.

Reagent yang dibutuhkan [2]:

1. 12 – 20 ml Asam sulfat 96-98%
2. Hidrogen peroksida (katalis)
3. Copper sulfat (katalis)

Instrument yang digunakan[2]:

1. Digestion apparatus
2. Aspirator (vacuum pump)
3. Scrubber

Digestion apparatus, DK series, memanaskan dan mendigesti sampel dari temperatur ambient hingga 450oC tergantung dengan metode standar yang digunakan. Pada proses reaksi akan menghasilkan gas/uap yang bersifat korosif dari asam, gas ini akan dinetralkan dengan SMS Scrubber dan JP pump. Kedua alat ini menghindari terjadiny kontaminan gas pada operator, sehingga dapat diletakkan bila laboratorium tidak memiliki fume hood. Hasil dari proses ini adalah larutan berisi amonium sulfat yang kemudian dilakukan proses distilasi.

Step 2 : Distilasi

Distilasi merupakan proses pendidihan sampel menggunakan air dan larutan alkali, dimana uap yang terbentuk didinginkan dalam kondensor kemudian ditampung sebagai destilat. Tujuan proses distilasi adalah mengubah amonium sulfat yang terbentuk dalam proses digesti menjadi gas amonia, gas amonia ditangkap menggunakan asam sehingga menghasilkan larutan amonium yang siap untuk dianalisa kadar nitrogennya.

Reagent yang dibutuhkan[2] :

1. Air suling bebas nitrogen
2. Larutan Sodium hidroksida 35%
3. 25-30 ml Asam Borat

Instrument yang digunakan [2]:

1. Distilator
2. Erlenmeyer (penampung destilat)

Distilator, UDK series merupakan instrument distilasi automatik. Air suling/akudes dan sodium hidroksida (NaOH) dialirkan autometik ke tabung sampel sehingga sampel larut dan proses pemisahan nitrogen oleh steam destilasi serta perubahan pH menjadi lebih basa oleh NaOH menjadikan terjadinya perubahan NH4+ (solid) menjadi NH3 (gas). Amonia yang diperoleh kemudian dapat dilakukan proses penghitungan kadar dengan metode titrasi atau colorimetrik.

Step 3 : Titrasi atau Colorimetrik

Proses ini adalah tahapan akhir metode Kjeldahl, menganalisa kadar protein dengan menghitung banyaknya kandungan nitrogen. Titrasi dilakukan dengan menggunakan larutan asam (asam sulfat, H2SO4 atau asam hidroklorida, HCl) sedangkan colorimetrik menggunakan spektrofotometer

 

Referensi :

[1] Cozzone, Alain J, 2002, Proteins: Fundamental Chemical Properties, Institute of Biology and Chemistry of Proteins, CNRS, Lyon, France, http://www-sop.inria.fr

[2] Velp Scientifica, 2013, Kjeldahl method, www.velp.com

[3] AOAC (1984) Official methods of analysis of the Association of Official Analytical Chemists. 14th ed. Washington, DC

Previous Article

Analisa Lemak Pada Produk Pangan

Monday, 02 May 2016
VIEW DETAILS

Next Article

Metode Filtrasi Vakum

Tuesday, 31 May 2016
VIEW DETAILS