| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364624 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Telah dibahas pada Artikel sebelumnya bahwa uji lemak dan minyak (oil and grease) pada air limbah dapat dilakukan dengan cara metode ekstraksi - gravimetri. Wajibnya uji untuk parameter ini sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah dan hasil revisinya yakni P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019. Hasil revisi tersebut menyatakan perubahan nilai dan parameter baku mutu untuk industri tekstil. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa nilai ambang batas untuk parameter minyak dan lemak berkisar pada 3.0 mg/L. Hanya saja, tidak semua uji laboratorium dilakukan optimal. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi akurasi dan presisi dari suatu uji, terutama pada uji minyak dan lemak yang terdiri dari beberapa tahapan. Faktor - faktor apa saja yang dimaksud? Mari simak penjelasan berikut ini.
Melalui SNI Nomor 06-6989 Bagian 10 Tahun 2004 dan Standard Methods For The Examinations of Water and Wastewater Treatment Nomor 5520D, kadar minyak dan lemak pada air limbah dapat ditentukan melalui kombinasi metode dari metode ekstraksi secara sokletasi dan metode gravimetri. Terkhusus untuk sampel air limbah, diperlukan perlakuan awal (pre-treatment) terlebih dahulu sebelum proses ekstraksi dilakukan seperti penyaringan (filtration). Hasil residu kemudian diambil untuk perlakuan lanjutan yakni tahap ekstraksi.

Gambar 1. Ilustrasi Alat Sokletasi
Pada tahap ekstraksi, sampel hasil penyaringan direndam pada pelarut organik secara sokletasi. Sistem soklet akan bekerja dengan perendaman bersiklus dan mengulangi siklusnya jika pelarut telah turun pada wadah pelarut seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1. Hanya saja, proses ini memakan waktu berjam - jam dengan estimasi waktu ekstraksi mencapai 4-5 jam. Semakin pelarut berubah warna menandakan semakin banyak minyak dan lemak yang telah terekstrak. Hasil ini kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 103oC dan didinginkan dalam desikator untuk mencegah adanya uap air yang tertahan pada hasil residu. Setelah bobot stabil, residu ditimbang pada Alat neraca analitik. Keseluruhan tahapan ini dirangkum pada Gambar 2.
Gambar 2. Tahapan Uji Lemak secara Solvent Extraction-Gravimetric

Keterangan :
A adalah bobot residu hasil ekstraksi dan pengeringan (g);
B adalah bobot blanko (g);
mL sample adalah Volume sampel yang digunakan untuk analisa (mL)
Dari setiap tahap uji minyak dan lemak yang diilustrasikan pada Gambar 2, dapat dilihat bahwa setiap tahapnya terdiri dari perlakuan yang berbeda sehingga kendala bisa saja terjadi karena setiap proses yang dilakukan tidak optimal dalam pelaksanaannya. Tentunya, faktor - faktor yang dapat menyebabkan kegagalan pun dapat bersumber dari setiap langkah yang dilakukan. Oleh karena itu, penting bagi analis untuk memahami setiap faktor yang berpengaruh terhadap tingkat akurasi dan presisi dari uji yang dilakukan.
Tidak optimalnya hasil uji yang dilakukan bisa dimungkinkan karena cara pengambilan sampel yang kurang tepat atau justru terjadi kontaminasi yang berasal dari wadah penampung. Analis diharapkan melakukan pengambilan contoh uji sesuai dengan yang tercantum pada SNI Nomor 8990 Tahun 2021. Teruntuk sampel yang dapat diekstraksi (yang mengandung minyak dan lemak), disarankan untuk menggunakan wadah berbahan gelas dengan kapasitas penampungan 1 Liter. Pengambilan sampel diharuskan untuk mengisi wadah hingga penuh. Dalam hal ini pengambilan dapat dilakukan secara manual atau jika tidak memungkinkan dapat menggunakan alat bantu pengambil contoh uji yang berbahan dasar stainless steel.
Tidak disarankan untuk menggunakan wadah plastik untuk mengumpulkan sampel tipe ini. Penggunaan wadah plastik justru dapat mengakibatkan nilai minyak dan lemak pada air limbah bertambah akibat meluruhnya polimer pada wadah.
Tercantum pada APHA 5520D bahwa sampel perlu disaring terlebih dahulu. Penyaringan ini dilakukan dengan menggunakan kertas saring yang khusus. Ukuran kertas saring yang direkomendasikan adalah kertas saring Whatman Nomor 40 atau dengan menggunakan kain Muslin lingkaran dengan diameter 11 cm. Mengapa? Kedua spesifikasi material ini mencegah lolosnya partikel - partikel yang terkandung dalam air limbah dan hanya meloloskan air saja, sehingga material yang hendak diekstrak tidak lolos dan dapat diekstrak dengan optimal.

Gambar 3. Ilustrasi Alat Filtrasi
Dalam melaksanakan suatu uji, pastinya keadaan analis termasuk dalam faktor utama. Tidak sedikit terjadi bahwa analis kurang teliti dalam melihat meniskus volume, ataupun menimbang bobot suatu sampel. Hal ini pastinya akan mempengaruhi nilai ketidakpastian pengujian yang dilakukan.
Terdapat banyak sekali pelarut organik yang dapat digunakan untuk mengekstrak minyak dan lemak dari suatu sampel. Oleh karena itu analis dan operator disarankan untuk melakukan uji kecocokan pelarut. Berdasarkan APHA 5520 sub bagian D dan E, pelarut n-heksana direkomendasikan untuk ekstraksi minyak dan lemak dalam air limbah.
Metode ekstraksi sokletasi memang masih banyak digunakan dan masih banyak yang melibatkan sistem konvensional untuk menjalankannya. Alhasil, analis harus menunggu ekstraksi hingga 20 siklus atau lebih yang dapat memakan waktu 4 - 5 jam. Jika ditinjau dari segi waktu, hal ini sangat tidak efisien apalagi untuk industri yang memiliki banyak sampel, akan amat sangat membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan uji ini. Sebagai alternatif dengan semakin majunya teknologi, metode sokletasi bahkan telah diimprovisasi menjadi metode Randall.
Perbedaan yang sangat mencolok antara metode sokletasi dan metode Randall adalah durasi waktu ekstraksi yang dibutuhkan. Jika metode sokletasi membutuhkan waktu 4 - 5 jam untuk ekstraksi, metode Randall justru hanya membutuhkan waktu berkisar 1 jam untuk tahap ekstraksi. Bahkan pelarut yang telah digunakan pun dapat dipulihkan dan dipakai kembali sehingga sangat menghemat biaya. Selain itu, tidak banyak pelarut yang digunakan pada metode Randall. Jika pada metode sokletasi menggunakan 100 mL pelarut, metode Randall hanya memerlukan 40 mL pelarut untuk mengekstrak sampel dengan hasil yang optimal.
Faktor terakhir yakni instrumentasi yang digunakan, terdapat 3 sub bahasan yang berkaitan dengan poin ini. Hal tersebut yaitu pemilihan instrumentasi yang hendak digunakan, kondisi instrumen serta mekanisme perawatannya.
Jika menggunakan metode sokletasi, tidak sedikit analis yang masih menggunakan alat konvensional seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1. Sistem ini memang masih relevan untuk digunakan dan masih dipertimbangkan oleh banyak pelaku industri. Hanya saja, sistem konvensional dengan glassware seringkali sulit dilepas ketika selesai analisa dan merangkainya pun juga tidaklah mudah, sehingga penggunaan instrumen modern lebih dipilih untuk menggantikan sistem ini. Bahkan telah hadir Instrumen Ekstraktor Otomatis yang mampu menghitung nilai minyak dan lemak secara otomatis dengan hasil data dapat direkam dan dikirimkan melalui device USB, komputer, laptop ataupun device lainnya. Tentunya hal ini sangat direkomendasikan untuk memenuhi standar GLP (good laboratory practice) dan GMP (good manufacturing practice).

Gambar 4. Tampilan Instrumen Ekstraktor (a) Semi Otomatis dan (b) Sepenuhnya Otomatis
Setiap instrumen pasti memiliki masa pakainya masing - masing dimana performa instrumen - instrumen tersebut akan turun seiring berjalannya waktu. Penting bagi analis dan operator untuk mengevaluasi kinerja dari setiap instrumentasi yang digunakan.
Berdasarkan ISO 17025, setiap alat ukur dan instrumen analisa perlu dikalibrasi dengan jangka waktu yang disesuaikan dengan keperluan. Untuk uji minyak dan lemak, kalibrasi dapat dilakukan pada instrumen yakni pada parameter bobot untuk neraca analitik dengan menggunakan anak timbang, suhu untuk Alat oven dan hot plate pada instrumen ekstraksi yang ditambah dengan waktu durasi. Disisi lain, verifikasi pada instrumen ekstraksi modern pun dapat dilakukan dengan menggunakan CRM yang disediakan oleh vendor terkait yang telah diketahui nilai maupun angka akurasinya.
Dari penjabaran diatas, diharapkan analis dan operator dapat mempertimbangkan faktor - faktor yang telah disebutkan agar analisis yang dilakukan lebih optimal, efisien dan relatif hemat.
Referensi :
American Public Health Associations. 2004. Standard Methods For The Examinations of Water and Wastewater Treatment. USA
Badan Standardisasi Nasional. 2004. SNI Nomor 06-6989.10 tahun 2004 tentang “Air dan Air Limbah - Bagian 10 : Cara Uji Minyak dan Lemak secara Gravimetri”
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2014. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2014 tentang “Baku Mutu Air Limbah”,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2019. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah , https://peraturan.bpk.go.id/Details/286527/permen-lhk-no-16-tahun-2019 diakses pada 16 Oktober 2024