| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0002 | 364648 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Sejauh mana konsentrasi amoniak dalam air budidaya dapat memengaruhi pertumbuhan, kesehatan, dan tingkat kelangsungan hidup ikan? Pertanyaan ini penting karena dalam kegiatan budidaya, kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan produksi. Salah satu parameter krusial yang harus diperhatikan adalah kandungan amoniak. Senyawa ini terbentuk dari sisa pakan, kotoran ikan, dan proses penguraian bahan organik di dalam kolam. Jika tidak dikendalikan, amoniak dapat menjadi racun yang membahayakan kesehatan dan mengancam kelangsungan hidup ikan.
Amoniak yang larut dalam air hadir dalam dua bentuk, yaitu amoniak bebas (NH3) dan amonium (NH4+). Amoniak bebas sangat beracun bagi ikan, sementara amonium relatif lebih aman. Perbandingan kedua bentuk ini sangat dipengaruhi oleh pH dan suhu air. Pada kondisi pH tinggi dan suhu yang meningkat, proporsi amoniak bebas akan semakin besar, sehingga risiko keracunan pada ikan juga meningkat.
Dampak Amoniak (NH3) terhadap Ikan Budidaya
Keberadaan amoniak (NH3) dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah. Pada kadar 0,02 mg/L NH3 bebas, ikan sudah mulai mengalami stres. Jika konsentrasi meningkat hingga 0,05 mg/L, pertumbuhan ikan dapat terhambat dan organ pernapasan, terutama insang, mulai rusak. Pada konsentrasi ≥ 0,2 mg/L, kondisi menjadi sangat berbahaya karena dapat memicu kematian massal. Tanda-tanda ikan yang terpapar amoniak antara lain berenang megap-megap di permukaan, nafsu makan menurun, pertumbuhan lambat, serta perubahan warna pada insang yang tampak merah tua atau rusak.
Penelitian menunjukkan bahwa amoniak memberikan dampak serius pada budidaya ikan. Zhang et al. (2023) melaporkan paparan kronis pada ikan lele kuning menghambat pertumbuhan dan meningkatkan mortalitas, sedangkan Huang et al. (2024) menemukan pada ikan nila bahwa amoniak memperlemah sistem imun sehingga lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Pada ikan laut longfin yellowtail, Benetti et al. (2021) menunjukkan bahwa konsentrasi NH3-N 0,58 mg/L sudah mampu membunuh 50% populasi hanya dalam 96 jam. Kasus-kasus ini menegaskan bahwa pemantauan kadar amoniak secara rutin sangat penting untuk menjaga kesehatan ikan dan mencegah kerugian budidaya.
Adapun baku mutu parameter Amoniak (NH3) pada air budidaya ikan seperti ikan lele, Nila, Mas, Patin, dan lainnya dapat dilihat pada Standar Naisonal Indonesia, SNI Nomor 8228 Bagian 4 Tahun 2015 untuk dijadikan patokan dalam memantau kualitas air budidaya ikan.
Metode Uji Kandungan Amoniak
Bagaimana cara memastikan kadar amoniak pada air budidaya tidak membahayakan ikan? Jawabannya adalah dengan melakukan uji kandungan amoniak menggunakan metode yang tepat. Beberapa metode uji yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1. Metode Kolorimetri dan/atau Spektrofotometri Menggunakan Reagen Salisilat
Metode kolorimetri dan/atau spektrofotometri untuk pengujian amonia menggunakan reagen salisilat didasarkan pada reaksi kimia yang menghasilkan senyawa berwarna hijau. Dalam prosesnya, amonia bereaksi dengan reagen salisilat dan katalis tertentu, membentuk kompleks berwarna. Intensitas warna hijau yang terbentuk berbanding lurus dengan konsentrasi amoniak dalam sampel. Kolorimeter atau spektrofotometer kemudian digunakan untuk mengukur intensitas warna tersebut pada panjang gelombang sekitar 650 nm. Semakin tinggi kadar amoniak, semakin pekat warna hijau yang terbaca oleh alat, sehingga nilai absorbansi yang diperoleh meningkat. Dengan membandingkan hasil absorbansi sampel terhadap kurva kalibrasi standar, konsentrasi amoniak dalam sampel dapat dihitung secara akurat dan kuantitatif.
2. Metode Kolorimetri dan/atau Spektrofotometri Menggunakan Reagen Nessler
Metode Nessler mengukur amoniak berdasarkan reaksi antara amonia (NH3) dengan larutan Nessler yang menghasilkan warna kuning hingga cokelat. Intensitas warna ini sebanding dengan kadar amoniak dalam sampel dan diukur menggunakan kolorimeter atau spektrofotometer pada panjang gelombang sekitar 425 nm. Semakin tinggi konsentrasi amoniak, semakin kuat warna yang terbaca, sehingga kadar amoniak dapat ditentukan secara akurat melalui kurva kalibrasi standar.
3. Metode Ion Selective Electrode (ISE)
Elektroda selektif ion amoniak (Ammonia ISE) mengukur konsentrasi amonia berdasarkan perubahan potensial listrik. Ketika sampel ditambahkan basa kuat, ion amonium (NH4+) berubah menjadi gas amonia (NH3) yang kemudian berdifusi melewati membran elektroda dan berinteraksi dengan lapisan elektrolit. Interaksi ini menimbulkan perubahan potensial yang sebanding dengan kadar amonia dalam sampel, sehingga konsentrasi amonia dapat diketahui secara langsung dan cepat.
4. Metode Color Disc dengan Reagen Nessler dan/atau salisilat
a. Dengan Reagen Salisilat
Amoniak dalam sampel bereaksi dengan reagen salisilat dan katalis tertentu, membentuk senyawa berwarna hijau. Intensitas warna hijau yang dihasilkan sebanding dengan konsentrasi amoniak dalam air. Warna sampel kemudian dibandingkan secara visual dengan color disc (cakram warna) yang memiliki gradasi hijau sesuai skala konsentrasi, sehingga diperoleh perkiraan kadar amoniak.
b. Dengan Reagen Nessler
Amonia bereaksi dengan larutan Nessler (kalium merkuri iodida dalam kondisi basa) membentuk senyawa berwarna kuning hingga cokelat. Semakin tinggi konsentrasi amoniak, semakin pekat warna yang terbentuk. Hasil warna sampel lalu dicocokkan dengan color disc (cakram warna) yang menampilkan gradasi kuning-cokelat pada berbagai tingkat konsentrasi amoniak.
Metode Color disc ini memiliki kelebihan yaitu cepat dan mudah digunakan di lapangan tanpa alat elektronis yang kompleks, peniliaian secara visual dan langsung dapat memberikan hasil konsentrasi amonia. Namun metode ini juga memiliki keterbatasan yaitu pengukurannya bersifat subyektif karena mengandalkan pencocokan warna oleh user atau analis, memerlukan sumber cahaya yang cukup dan kontras agar warna dapat terbaca dengan baik. Selain itu, sensitivitas dan akurasi terbatas pada rentang warna pada disc.
Contoh gambar alat uji Amoniak (NH3) berdasarkan metode yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.
Gambar 1. Alat Uji Amoniak (NH3) Berdasarkan Metode yang Digunakan
Berbagai Metode diatas dapat digunakan dalam pengujian Amoniak pada air budidaya ikan, sehingga petani ikan dapat memilih metode uji yang sesuai dengan skala budidaya yang dilakukan, mulai dari penggunaan test kit sederhana di lapangan seperti color disc hingga analisis kolorimetri dan/ atau spektrofotometri di lapangan dan/atau laboratorium. Pemantauan rutin memungkinkan deteksi dini sebelum kadar amoniak mencapai tingkat berbahaya, sehingga kualitas air tetap terjaga dan ikan tumbuh optimal.
Referensi:
Benetti, D. D., Partridge, G. J., Stieglitz, J. D., Hoenig, R., Zink, I., & Welch, A. W. (2021). Toxicity of unionized ammonia (NH?-N) to the marine fish Seriola rivoliana: Implications for aquaculture. Aquaculture Research, 52(12), 6071–6081. https://doi.org/10.1111/are.15502
Boyd, C. E. (1990). Water Quality in Ponds for Aquaculture. Auburn University, Alabama.
Boyd, C. E., & Tucker, C. S. (2012). Pond Aquaculture Water Quality Management. Springer Science & Business Media.
Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.
Emerson, K., Russo, R. C., Lund, R. E., & Thurston, R. V. (1975). Aqueous ammonia equilibrium calculations: Effect of pH and temperature. Journal of the Fisheries Research Board of Canada, 32(12), 2379–2383. https://doi.org/10.1139/f75-274
FAO. (2019). Water Quality and Fish Health. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Huang, Y., Zhang, L., Sun, S., Chen, J., & Li, H. (2024). Ammonia exposure compromises immunity and increases bacterial susceptibility in Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture, 574, 739791. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2023.739791
SNI 8228-4:2015. Produksi Ikan Konsumsi – Bagian 4: Ikan air tawar. Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Zhang, M., Wang, Y., Li, J., & Xu, Q. (2023). Chronic ammonia exposure impairs growth performance, induces oxidative stress, and increases mortality in yellow catfish (Pelteobagrus fulvidraco). Aquatic Toxicology, 258, 106600. https://doi.org/10.1016/j.aquatox.2023.106600