| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364624 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Tahukah Anda bahwa penting untuk memerhatikan kandungan serat kasar pada pakan? Penentuan serat kasar pada pakan wajib untuk dilakukan karena kebutuhan serat pakan bergantung pada jenis ternak yang mengonsumsi. Pada jenis ternak non-ruminansia seperti jenis unggas dan babi, serat kasar yang dikonsumsi berfungsi sebagai pengisi perut, membantu gerak peristaltik usus, mencegah penggumpalan pakan pada seka, mempercepat laju digesta dan memacu perkembangan organ pencernaan. Selain berguna bagi ternak, serat kasar juga dapat berdampak negative jika dikonsumsi dengan kandungan yang tinggi. Tingginya serat kasar pada pakan ruminansia dapat menyebabkan tertinggalnya pakan dalam rumen lebih lama dan meninggalkan rasa kenyang pada ternak sehingga asupan pakan menjadi rendah. Sama halnya dengan ruminansia, tingginya serat kasar pada non-ruminansia menjadikan laju pencernaan dan penyerapan nutrisi menjadi lambat. Untuk itu, sangat penting untuk mengetahui kandungan serat kasar pada pakan ternak.
Serat Kasar pada Pakan
Serat kasar adalah bagian struktur sel pada jaringan tanaman yang mengandung selulosa, hemiselulosa, polisakarida dan lignin. Serat kasar sukar dicerna oleh organ hewan. Untuk itu, penentuan serat kasar diperhitungkan banyaknya zat-zat yang tidak larut dalam asam encer ataupun basa encer dengan kondisi tertentu. Residu yang diperoleh dalam pelarutan menggunakan asam dan basa merupakan serat kasar yang mengandung 97% selulosa, lignin dan sisanya adalah senyawa lain yang belum dapat diidentifikasi secara pasti.
Presentase serat kasar pada pakan berbahan biji namun yang belum di proses akan lebih tinggi dibandingkan dengan bahan pakan berbahan biji yang telah dipisahkan dari kulitnya, karena kulit biji mengandung fraksi serat kasar untuk melindungi biji dari faktor lingkungan. Fraksi serat kasar seperti selulosa, hemiselulosa dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia dengan adanya aktivitas mikrobiologi di dalam rumen menghasilkan enzim yang dapat mendegradasi serat kasar sehingga menghasilkan asam lemak volatil. Sedangkan untuk ternak non-ruminansia seperti unggas memiliki keterbatasan dalam pemanfaatan serat kasar, kandungan nutrisi dalam serat kasar yang tergolong rendah sehingga biasa digunakan dalam jumlah yang relatif sedikit.
Berdasarkan kandungan serat kasarnya bahan pakan ternak dapat dibagi kedalam dua golongan yaitu:
Bahan penguat (konsentrat) Berasal dari bahan pangan atau tanaman seperti serealia (misalnya jagung, padi, dan gandum), kacang kacangan (misalnya kacang hujau, kedelai), umbi-umbian (misalnya ubi kayu dan ubi jalar) dan buah-buahan (misalnya kelapa dan kelapa sawit). Kosentrat juga berasal dari hewan seperti tepung daging dan tepung ikan. Disamping itu juga dapat berasal dari industri kimia seperti limbah atau hasil ikutan dari produksi bahan pangan seperti dedak padi dan hasil ikutan proses ekstraksi seperti bungkil kelapa dan bungkil kedelai.
Bahan hijauan dapat berasal dari hijauan limbah pangan (jerami padi, jerami kedelai, pucuk tebu) atau yang berasal dari pohon-pohonan seperti daun gamal dan daun lamtoro.
Metode Weende untuk Penentuan Serat Kasar
Penentuan serat kasar dengan metode Weende dilakukan dengan mengacu pada standar AOAC 978.10 Fiber (Crude) in Animal Feed and Pet Food, ISO 6865:2000 Animal feeding stuffs - Determination of crude fibre content, dan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dapat disesuaikan dengan jenis pakannya. Prinsip metode Weende dalam menentukan serat kasar; pendidihan dan penyaringan dilakukan sebanyak 2 kali namun dengan reagen yang berbeda. Untuk tahapan awal, sampel diekstraksi dalam keadaan asam menggunakan asam sulfat agar pati dan gula terekstrak sempurna. Ekstrasi ini dilakukan selama 30 menit pada titik didih dan hasilnya disaring.
Sampel perlu ditambahkan larutan kalium hidroksida untuk menghilangkan protein, dan beberapa hemiselulosa serta lignin. Pencucian dilakukan hingga sampel menjadi netral. Pencucian ini dilakukan dengan menggunakan aseton guna untuk menghilangkan lemak pada sampel. Pada tahap akhir, sampel hasil ekstraksi kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C dan diabukan dalam furnace pada 550°C selama 3 jam dan disimpan pada dessicator. Serat kasar kemudian dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

dengan,
F1 adalah berat setelah proses pengeringan;
F2 adalah berat setelah proses pengabuan;
F0 adalah berat sampel yang digunakan.
Penentuan serat kasar pada pakan dapat dengan mudah dilakukan dengan menggunakan automatic-fiber analyzer yang telah terverifikasi metode Weende. Penggunaan automatic-fiber analyzer dapat memudahkan analis dalam menentukan serat kasar pada pakan secara akurat, dan dapat meminimalisir waktu analisis, juga meminimalisir kontak langsung analis dengan bahan kimia yang digunakan selama melakukan pengujian, dikarenakan tahapan-tahapan pengujian yang meliputi ekstraksi, digesti, pencucian dan penyaringan, juga penimbangan, pengeringan dan pengabuan dilakukan pada satu alat secara otomatis. Adapun contoh alat automatic-fiber analyzer dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Automatic-fiber analyzer
Referensi:
AOAC 978.10 Fiber (Crude) in Animal Feed and Pet Food
ISO 6865:2000 Animal feeding stuffs - Determination of crude fibre content
Panjaitan, Widya A. 2019. Penentuan kadar air, lemak dan serat kasar pada bungkil kacang kedelai sebagai bahan baku pakan ternakdi PT. MABAR FEED INDONESIA Medan. Skripsi: Universitas Sumatera Utara.
Velp Scientifica. 2019. Application Note : Crude Fiber Determination In Feed (Weende Method)