| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364624 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Meski secara tidak langsung, parameter pH memiliki peran penting bagi kualitas produk pakan. Biasanya pengkondisian pH dilakukan pada pakan agar tekstur dan kandungan nutrisinya tetap terjaga sehingga umur simpannya jauh lebih lama. Pada hewan ternak ruminansia, pengkondisian ini berpengaruh pada pH cairan rumen yang dihasilkan, sedangkan pada unggas akan berpengaruh pada hasil daging unggas tersebut. Disisi lain, pengkondisian pH juga berguna untuk mengoptimalkan kinerja enzim yang ditambahkan pada pakan komersial. Pada proses fermentasi, pemantauan pH juga dibutuhkan untuk pencapaian kondisi optimal. Bahkan pengkondisian pH dapat dijadikan jalan untuk menghilangkan dan mencegah kontaminasi Salmonella pada produk pakan. Hal inilah yang menjadikan pH sebagai salah satu parameter kritis yang perlu dipantau pada produk pakan.
pH atau derajat keasaman merupakan parameter yang memiliki efek domino pada beberapa produk. Ketika pH berubah, efek zat pengemulsi (emulsifier) dapat menurun yang menyebabkan tekstur dan tampilan suatu produk berubah. Hal ini pun dapat berdampak lebih lanjutnya pada rasa dan bau yang tercium dari produk tersebut. Ditambah lagi, beberapa titik tertentu menjadi pH yang optimal bagi beberapa mikroorganisme, sehingga pertumbuhan mikroorganisme akan cepat yang mengakibatkan kerusakan produk. Sebagai contoh pada pH 4.0 hingga 5.0 bakteri Salmonella masih dapat hidup, meskipun begitu, dalam studi yang dilakukan oleh Cox, dkk. (2013), jumlah Salmonella dapat ditekan dengan pengkondisian pH kurang dari 4.0. Lain halnya dengan pakan hasil proses fermentasi, berdasarkan penelitian yang dikaji oleh Allaily, dkk. (2018) didapatkan bahwa proses fermentasi dengan komposisi yang optimum dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan hewan ternak jenis unggas.
Namun, pengukuran nilai pH pada produk pakan ataupun bahan bakunya tidaklah mudah. Hal ini karena kandungan dalam produk pakan yang beragam dan disertai dengan bentuknya yang beragam. Tekstur yang penuh dengan partikel padat (solid particle) dapat membuat junction terblokade yang menyebabkan pengukuran tidak akurat atau bahkan error. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan khusus untuk memilih serta merawat elektroda pH untuk kebutuhan aplikasi ini.
Pada prinsipnya, setiap alat pH meter memiliki dasar yang sama yakni pengukuran beda potensial akibat adanya interaksi ion hidrogen dalam sampel dengan ion hidrogen pada balb elektroda. Saat terjadi interaksi, potensial ion hidrogen pada sampel akan terukur oleh elektroda uji dan dibandingkan nilainya dengan hasil dari elektroda referensi. Hasil perbandingan ini pun nantinya akan dikirim dan diterjemahkan oleh sistem sehingga nilai hasil pengukuran dapat muncul pada display meter. Bagian - bagian elektroda secara umum dapat diilustrasikan pada Gambar 1.

| Bagian Elektroda | Fungsinya |
| Badan Elektroda | Berfungsi untuk melindungi, membungkus seluruh sistem, serta tempat cairan elektrolit pada elektroda. |
| Elektrolit Medium (liquid / gel) | Berfungsi sebagai media untuk merendam elektroda referensi dan elektroda uji sehingga terjadi interaksi antar ion. Elektroda referensi pun memiliki peran yang penting yakni sebagai kontrol atau kutub yang digunakan sebagai pembanding terhadap potensial yang dihasilkan oleh elektroda uji dimana nilai potensial elektroda referensi bersifat tetap. |
| Elektroda Referensi | Elektroda referensi pun memiliki peran yang penting yakni sebagai kontrol atau kutub yang digunakan sebagai pembanding terhadap potensial yang dihasilkan oleh elektroda uji dimana nilai potensial elektroda referensi bersifat tetap |
| Elektroda Uji | Untuk mengukur potensial pergerakan ion hidrogen dalam sampel. |
| Balb Sensor | Berfungsi sebagai membran keluar masuknya ion hidrogen. |
| Junction | Merupakan poros membran yang berfungsi sebagai tempat aliran elektrolit yang membawa arus positif dari ion hidrogen. |
Dari Tabel 1, Anda mungkin sudah mengambil kesimpulan terkait beberapa bagian yang paling kritis pada elektroda pH, yang juga dapat dijadikan parameter acuan untuk pemilihan elektroda pH berdasarkan karakter sampel yang akan diuji. Beberapa tips berikut ini mungkin dapat dipertimbangkan untuk pemilihan elektroda pH untuk aplikasi pakan :
Untuk sampel pakan, elektroda tipe gel-filled mungkin dapat digunakan, namun perlu dijadikan catatan bahwa elektroda tipe gel-filled memiliki rentang usia pemakaian yang lebih singkat dibandingkan dengan elektroda tipe refillable.
Sampel pakan yang terlalu pekat dan kental dapat menyebabkan junction pada elektroda pH tersumbat. Dibutuhkan junction tambahan untuk memberi ruang tambahan antara larutan uji dan elektroda referensi yang dapat menyangga dan memperlambat laju perubahan larutan elektrolit elektroda referensi sehingga pada konteks ini dapat mempertahankan elektroda dari ancaman kontaminasi oleh sampel. Oleh karena itu, penggunaan elektroda double junction, open junction dan sure-flow direkomendasikan.
Pemilihan elektroda kombinasi pun sangat dianjurkan untuk sampel khusus, yang memungkinkan tahap persiapan ataupun pengukuran pH pada sampel lebih praktis dan relatif lebih cepat.
Sebagai tambahan, analis baiknya memilih alat pH meter yang sudah dibekali dengan fitur ATC (Automatic Temperature Compensation). Fitur ini memungkinkan koreksi pH terhadap suhu dengan mengkonversi suhu terkait ke pengukuran standar.
Karena pH merupakan parameter yang bergantung pada suhu, maka dianjurkan untuk menggunakan probe suhu yang langsung terkoneksi dengan alat pH meter pada saat mengukur sampel.
Selalu cuci elektroda dengan air deionisasi dan keringkan dengan kain lembut dan bersih setelah pemakaian.
Selalu rendam balb elektroda dalam cairan penyimpan (storage solution) untuk mencegah menguapnya cairan elektrolit dalam elektroda serta menjaga balb elektroda tetap terhidrasi secara optimal.
Kualitas cairan elektrolit dalam elektroda dan cairan penyimpan dapat terdegradasi seiring waktu sehingga sangat direkomendasikan untuk mengganti cairan elektrolit dan cairan penyimpan (storage solution) secara berkala.
Umumnya, sampel yang mengandung lemak direkomendasikan untuk melakukan pembersihan elektroda secara berkala. Cairan pembersih khusus dapat digunakan untuk hal ini.
Pada saat menyimpan elektroda, pastikan filling hole elektroda dalam keadaan tertutup untuk mencegah menguapnya cairan elektrolit ataupun munculnya garam pada badan elektroda.
Referensi:
Allaily., dkk. 2018. Karakteristik Pakan Fermentasi Anaerob dan Pengaruh Pemberiannya terhadap Performa dan Histologi Ileum Itik Petelur Awal Produksi, https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91557 diakses pada Tanggal 12 Juli 2023
Bier, Dr. Axel. 2018. Electrochemistry - Theory and Practice. Hach Company
Cox, N.A., dkk. 2013. Variations in preenrichment pH of poultry feed and feed ingredients after incubation periods up to 48 hours, Journal of Applied Poultry Research, Vol. 22 (2), Hal. 190-195
Corrigan, Mark. 2021. The importance of managing rumen pH, https://www.agproud.com/articles/52949-the-importance-of-managing-rumen-ph diakses pada Tanggal 12 Juli 2023
Kristoffersen, Siril., dkk. 2021. The effect of reduced feed pH, phytase addition and their interaction on mineral utilization in pigs, Livestock Science, Volume 248, 104498
Thermo Scientific Company. 2013. pH Electrode Selection Handbook. Thermo Scientific Company