Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
TDS dan pH pada Air Minum

TDS dan pH pada Air Minum

Monday, 06 May 2019

Air adalah kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan. Tidak hanya untuk kebutuhan kebersihan, air juga dikonsumsi tubuh untuk memenuhi kebutuhan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Berdasarkan aspek umumnya air minum yang baik adalah yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Namun, terdapat parameter – parameter penting yang harus diukur untuk mengetahui kualitas air minum yang dikonsumsi yang dijelaskan pada SNI 01-355-2006.

Dalam prosesnya Air minum dapat dihasilkan menggunakan 2 tipe air yaitu air permukaan (surface water) dan air bawah permukaan. Proses yang dilakukan pada air pun bergantung pada sumber air yang digunakan. Dalam hal ini, setiap perusahaan pasti memiliki sistem pemurnian air yang berbeda-beda, namun secara garis besar menurut dilakukan proses sebagai berikut:

  1. Sedimentasi/ flokulasi

    Tahap ini merupakan tahap penggumpalan (koagulasi) partikel – partikel kecil yang terdapat dalam sumber air sehingga membentuk suatu partikel yang lebih besar sehingga mudah untuk disaring nantinya. Untuk pembentukan koagulan/flokulan ini membutuhkan zat tambahan berupa garam aluminum atau garam ferric.

  2. Penyaringan

    Pada tahap ini, Air yang telah diambil dari sumber lakukan penyaringan dengan menggunakan beberapa material dan beberapa langkah penyaringan. Langkah penyaringan ini bisa terdiri dari Filter, pre-filter dan final filter. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menghilangkan kotoran-kotoran halus serta ion ion berbahaya yang ada pada air sumber. Material yang digunakan adalah pasir (sand filter), filter penukar ion serta karbon aktif . Pada tahap ini memungkinkan air yang diproses lebih mudah untuk dilakukan desinfektasi.

  3. Sterilisasi

    Proses ini adalah tahap penghilangan mikroorganisme seperti bakteri, viru jamur dan lainnya. Pada tahap ini dilakukan pemberian ozon pada air olahan yang dimaksudkan untuk membunuh bakteri, virus dan mikroba yang terdapat di dalam air atau yang lebih dikenal sebagai proses ozonisasi. Selain itu, beberapa perusahaan juga masih ada yang menggunakan klorin (chlorine) sebagai desinfektan. Tahap ini juga dapat dilakukan dengan cara penyinaran Lampu UV.

  4. Penampungan

Pada tahap ini air yang telah didesinfektasi ditampung ke dalam reservoir. Distribusi air kedalam kemasan melalui empat pompa. Didalam setiap pompa terdapat filter berdiamater 0,45µm yang berfungsi menyaring semua bahan organik dan mikroorganisme yang ada dalam air setelah proses ozonisasi.

Gambar 1.  Proses pembuatan air Minum dalam Kemasan (AWWA, 2004 )

Berdasarkan SNI 01-355-2006, air minum dalam kemasan dibagi menjadi dua kelas yaitu air mineral dan air demineral. Beberapa parameter uji yang harus dilakukan pada air minum dalam kemasan ditunjukkan pada Tabel 1.

 Tabel 1. Beberapa Parameter Uji Air Minum Dalam Kemasan

No

Parameter

Satuan

Persyaratan

Air Mineral

Air Demineral

1

Keadaan

 

 

 

1.1 Bau

-

Tidak berbau

Tidak berbau

1.2 Rasa

 

Normal

Normal

1.3 Warna

Unit Pt-Co

Maks. 5

Maks. 5

2

pH

-

6,0 – 8,5

5,0 – 7,5

3

kekeruhan

NTU

Maks.1,5

Maks. 1,5

4

Zat terlarut

mg/L

Maks.500

Maks.10

5

Total Organik Karbon

mg/L

          -

Maks. 0,5

6

Zat Organik (Angka KMnO4)

mg/L

Maks. 45

         -

 

Beberapa parameter tersebut sangatlah penting untuk diuji dalam pembuatan air minum dalam kemasan salah satunya adalah pH. Dari Tabel 1, disebutkan bahwa air minum yang baik memiliki pH yang berkisar dari 6 hingga 8.5. Hal ini diungkapkan oleh World Health Organization (WHO) bahwa jika air minum yang dikonsumsi terlampau basa (pH> 8.5) maka dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit dan jaringan bahkan mengalami gangguan gastrointernal. Sebaliknya, bila pH terlampau asam (pH<4) maka hal yang sama akan terjadi Hal ini tentulah berbahaya, sehingga air minum dalam kemasan diproses sedemikian rupa sehingga kontaminan yang ada di dalamnya dapat diminimalisir dan aman untuk dikonsumsi.

Beberapa cara untuk menaikan nilai pH adalah dengan cara menambahkan calsium atau magnesium carbonate (CaCO3 atau MgCO3). Penambahan ini dapat dilakukan pada monitoring pH pada saat sebelum memasuki tahap desinfektasi. Hal ini karena pH memiliki peran penting dalam proses desinfektasi mikroorganisme. Penggunaan calsium atau magnesium carbonate tidak hanya untuk menaikkan pH namun juga dapat memperkaya mineral sehat yang ada dalam air.

Selain pH, parameter yang harus untuk dilakukan monitoring adalah Total Dissolved solid (TDS) atau total zat terlarut. Jika untuk range pH air minum yang baik berkisar pada 6,0 – 8,5 lain halnya dengan parameter TDS yang tidak boleh melebihi 500 ppm. Hal ini dikarenakan parameter TDS juga melambangkan mineral yang terkandung di dalam air. Mineral – mineral ini dapat digolongkan menjadi 2, yaitu yang berbahaya seperti arsenik, sulfat, bromida, mangan dan lainnya serta yang baik bagi tubuh seperti calsium dan magnesium. Nilai TDS haruslah dimonitoring karena parameter ini akan mempengaruhi rasa pada air yang dikonsumsi. Namun tingginya nilai TDS akan mengakibatkan kerusakan sistem seperti pipa dan reservoir juga turbin. Hal ini disebabkan karena TDS dapat menimbulkan kerak pada sistem. Terbagi klasifikasi untuk nilai TDS air yang ditunjukkan pada Tabel 2.  

 Tabel 2. Nilai TDS terhadap Kualitas Air 

Nilai TDS (ppm)

Kualitas Air

Kurang dari 300

Sangat Baik

300 – 600

Baik

600 – 900

Rata-rata

900 – 1200

Buruk

Diatas 1200

Tidak diterima (sangat buruk)

 

Dalam proses monitoring kedua parameter ini, diperlukan alat yang dapat memenuhi kebutuhan range untuk aplikasi air minum, mudah digunakan dan sangat fleksibel untuk dibawa ke lapangan maupun untuk skala pengecekan lab. Terkait hal ini, brand Hach dan Thermo Fisher Orion dapat dijadikan solusi untuk memudahkan Anda dalam monitoring parameter pH dan TDS.

Brand Hach menyediakan HQ40d sebagai alat multiparameter yang dapat mengukur parameter pH, conductivity, resistivity, TDS, salinity, ISE serta dissolved oxygen. Alat ini dapat digunakan dengan menyertakan probe yang digunakan sesuai kebutuhan, dalam hal uji pH dan tds masing masing dapat direkomendasikan probe IntelliCaL PHC301 dan CDC401. Sedangkan untuk brand Thermo Fisher Orion, dapat digunakan alat Portable meter StarA325 yang dapat dilengkapi dengan elektroda 8157BNUMD dan 013005MD.

 

Gambar 2. Alat Hach (a) dan ThermoFisher Orion (b) yang dapat digunakan untuk analisa pH dan TDS

 

Referensi : 

  1. SNI 01-355-2006, Standard Pengujian pada Air Minum dalam Kemasan.

  2. American Water Works Association. 2004. Drinking Water Treatment. www.epa.gov/safewater diakses pada 25 April 2019 Pukul 10.05

  3. World Health Organizations. 2003. pH in Drinking Water. Geneva : WHO

  4. World Health Organizations. 2003. Total Dissolved Solid in Drinking Water. Geneva : WHO

  5. safe Drinking Water Foundation. 2017. TDS and pH. https://www.safewater.org/fact-sheets-1/2017/1/23/tds-and-ph diakses pada 25 April Pukul 13.10

  6. Oram, Brian. 2014. Drinking Water Quality. https://www.water-research.net/index.php/water-treatment/tools/total-dissolved-solids diakses pada 25 April Pukul 15.15

Previous Article

Neraca Laboratorium

Friday, 12 April 2019
VIEW DETAILS

Next Article

Kekeruhan dalam Power Plant

Monday, 06 May 2019
VIEW DETAILS