Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364464{main}( ).../news-detail.php:0
Uji Kadar Air pada Minyak Kelapa Sawit

Uji Kadar Air pada Minyak Kelapa Sawit

Thursday, 04 March 2021

Apa saja parameter penentu kualitas minyak kelapa sawit? Para analis pasti setuju bahwa salah satu cara menentukan kualitas minyak kelapa sawit dan minyak goreng adalah dengan mengukur kadar asam lemak bebas yang terkandung di dalamnya. Namun, terdapat parameter lainnya yang disebutkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu kadar air. Pada minyak kelapa sawit mentah kadar air dan bahan menguap harus kurang dari 0.5% dan pada minyak goreng sawit adalah 0.1%. Hal ini karena kadar air berpengaruh pada warna produk, yang tentunya berhubungan dengan proses pemucatan pada minyak kelapa sawit dimana semakin tinggi kadar air maka warna produk minyak yang dihasilkan semakin buruk kualitasnya. Bahkan menurut penelitian Sari dkk, semakin tinggi kadar air maka semakin tinggi bilangan asam minyak tersebut yang mengindikasikan bahwa kualitas minyak semakin buruk.

Minyak kelapa sawit adalah minyak yang paling umum dimanfaatkan, khususnya dalam pembuatan minyak goreng, margarin, maupun biodiesel. Dalam hal ini ketiga produk tersebut dibuat dari minyak kelapa sawit mentah yang melalui berbagai proses. Secara garis besar proses yang dilalui dimulai dari pengumpulan serta pemilihan buah kelapa sawit dan sterilisasi buah dengan cara perebusan hingga pemerasan buah sehingga menghasilkan minyak kelapa sawit mentah. Minyak kelapa sawit mentah ini kemudian disuling, serta melalui proses penghilangan kotoran dan bau serta proses pemucatan sehingga dihasilkan minyak goreng dengan kualitas mutu tertentu. Alur pengolahan kelapa sawit secara garis besar ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit

 

Uji Kadar Air

 

Air adalah molekul yang hampir selalu ada pada seluruh material dan seringkali diuji dalam penentuan kualitas suatu bahan, tidak terkecuali dalam sampel minyak. Cara pengujian kadar air pun beragam, dimana metode yang paling umum digunakan adalah metode termogravimetri (thermogravimetry) dan titrasi karl fisher. Metode lainnya adalah metode spektroskopi yang menggunakan alat Fourir Transform Infrared (FTIR), meskipun metode ini jarang dilakukan karena biaya (cost) yang relatif mahal. Adapun penjelasan terkait metode – metode tersebut dijabarkan sebagai berikut :

1.Metode Termogravimetri (Thermogravimetry Method)

Pada prinsipnya, metode gravimetri dilakukan dengan mengukur selisih bobot sebelum pemanasan dengan bobot sampel setelah proses pemanasan. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat oven dan neraca analitik (analytical balance) yang didukung dengan desikator, juga dapat dilakukan dengan menggunakan moisture analyzer atau moisture balance. Metode ini termasuk ke dalam metode primer (primary method) atau metode langsung (direct method).

A. Penggunaan OvenNeraca Analitik

Pada oven, pemanasan dilakukan dengan memanaskan udara ambient yang masuk pada alat kemudian mensirkulasikannya dalam chamber dan distabilkan dengan pemanasan melalui heating element. Siklus ini ditunjukkan pada Gambar 2.

​Gambar 2. Sirkulasi Udara Panas pada Oven

 

Cara ini merupakan cara yang paling umum dilakukan oleh analis pada kebanyakan industri karena dinilai masih tergolong praktis dan mudah untuk dilakukan meskipun analis masih harus menghitung nilai kadar air secara manual. Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan nilai kadar air dapat dituliskan sebagai berikut :

 

dengan :
W adalah berat wadah (g)

W1 adalah berat wadah dengan contoh (g)

W2 adalah berat wadah contoh uji setelah dikeringkan (g)
 

Tercantum dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 7709 tahun 2019 tentang Minyak Goreng Sawit dan SNI nomor 01-2901 tahun 2006 tentang Minyak Kelapa Sawit Mentah, bahwa pengujian kadar air dan bahan menguap dapat dilakukan pada suhu 103 ± 2°C selama 3 jam atau pada suhu 130 ± 2°C selama 30 menit.

 

B. Penggunaan Moisture Analyzer / Moisture Balance

Berbeda dengan oven, pemanasan pada alat moisture analyzer dilakukan dengan cara penyinaran dengan lampu, umumnya jenis lampu yang digunakan adalah halogen. Prinsip kerjanya adalah dengan menghitung perbandingan massa sample antara sesudah dan sebelum proses analisa, dimana perhitungan secara otomatis dilakukan oleh alat dan hasil analisa akan langsung muncul sebagai % kadar air pada display alat.

Dalam pengujian sampel, waktu analisa yang dibutuhkan lebih singkat jika dibandingkan dengan menggunakan oven, yakni 2 – 15 menit. Suhu yang dapat digunakan untuk minyak nabati adalah dari 103 – 140°C dimana pemilihan suhu bergantung pada jenis sampel yang dianalisa. Kelebihan lainnya, analis tidak perlu memindahkan sampel selama analisa berlangsung sehingga kontaminasi dapat diminimalisir. Tampilan dari alat moisture analyzer ini ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Alat Moisture Analyzer

 

2. Metode Titrasi Karl Fisher

Secara prinsip, metode ini didasarkan pada titrasi iodometri yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi iodine menjadi iodida sedangkan sulfur dioksida teroksidasi menjadi ion sulfat. Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Dalam hal ini penggunaan basa juga diperlukan untuk mencegah terproduksi asam secara berlebih. Basa yang umumnya dapat digunakan adalah piridina, imidazole atau lainnya dalam etanol sehingga reaksi lebih lengkapnya dapat ditulis sebagai :

dengan :
R adalah basa yang digunakan pada proses titrasi.

 

Untuk metode ini, alat yang dapat digunakan adalah alat automatic titrator. Prinsip kerja alat adalah dengan menitar sampel secara otomatis hingga tercapainya titik akhir titrasi dan hasil analisa akan muncul langsung pada display alat berubah nilai dan juga grafik. Contoh tampilan alat ini ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Alat Automatic Titrator

 

Dari penjelasan dari ketiga metode tersebut, setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing. Metode yang sangat umum digunakan adalah metode penentuan kadar air dengan menggunakan ovenneraca analitik dan dengan menggunakan automatic titrator. Meskipun penggunaan moisture analyzer belum terlalu umum untuk sampel minyak namun metode ini dapat dijadikan sebagai alternatif referensi.

 

Referensi: :

Badan Standardisasi Nasional. 2006. Standar Nasional Indonesia Nomor 01-2901 “Minyak Kelapa Sawit Mentah (Crude Palm Oil)”

Badan Standardisasi Nasional. 2020. Standar Nasional Indonesia Nomor 8904 “Minyak Goreng”

Hach Company. 2004. Karl Fisher Volumetric Titration Theory and Practice, https://support.hach.com/ci/okcsFattach/get/1008002_4 diakses pada Kamis Tanggal 4 Maret 2021

Hach Company. 2014. Titration Theory and Practice. USA : Hach Company

Man, Y.B Che dan M.E.S. Mirghani. 2000. Rapid Method For Determining Moisture Content In Crude Palm Oil By Fourier Transform Infrared Spectroscopy, Journal of American Oil Chemist' Society, vol 77, hal 631 - 637

Sari, Mayang., dkk. 2019. Pengaruh Kadar Air Pada Proses Pemucatan Minyak Kelapa Sawit, Talenta Conference Series Science and technology, Vol.2 (1)

 

Sumber Gambar :

https://www.asianagri.com/id/media-id/faqs/bagaimana-minyak-kelapa-sawit-dibuat

Previous Article

PENENTUAN KADAR AIR DALAM BAHAN KIMIA TEKNIS

Thursday, 25 February 2021
VIEW DETAILS

Next Article

Uji Abu Sulfat (Residu Pembakaran) pada Bahan Baku Obat

Monday, 08 March 2021
VIEW DETAILS