| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364400 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Uji mikrobiologi merupakan salah satu parameter yang penting untuk diuji dalam menentukan kualitas suatu bahan pakan dan pakan buatan. Tahukah Anda uji mikrobiologi apa saja yang wajib dilakukan pada pengujian kualitas bahan pakan dan pakan buatan? Uji mikrobiologi yang perlu dilakukan dalam bahan pakan dan pakan buatan yaitu uji Salmonella, uji Angka lempeng Total (ALT) dan uji kapang dan umumnya syarat baku mutu oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) uji mikrobiologi pada bahan pakan dan pakan buatan yaitu uji Salmonella harus menunjukkan hasil negatif (-), sedangkan uji ALT adalah maksimal 5x103 kol/g (koloni/gram) sampai 7,5x103 kol/g dan uji kapang adalah maksimal 50 kol/g. Uji Mikrobiologi pada bahan pakan dan pakan buatan dilakukan guna menghasilkan produk pakan yang berkualitas dan higienis. Pengujian mikrobiologi dapat merujuk pada beberapa standar acuan yaitu SNI, International Organization of Standardization (ISO) 7218 Tahun 2007, dan AOAC official Methods 2005 Chapter 4 Animal Feed, dalam standar-standar ini juga telah dijabarkan beberapa spesifikasi alat yang perlu digunakan dalam pengujian mikrobiologi pada bahan pakan dan pakan buatan, seperti autoklaf, oven, inkubator, waterbath, colony counter dan mikroskop.
Apa itu Bahan Pakan dan Pakan Buatan?
Bahan pakan adalah bahan hasil pertanian (bahan nabati), perikanan dan peternakan (bahan hewani), atau vitamin dan mineral, serta bahan penunjang lainnya yang layak dipergunakan sebagai pakan, baik yang telah diolah maupun yang belum diolah, yang dipergunakan untuk melengkapi komposisi pakan.
Sedangkan pakan buatan yaitu berupa hasil campuran dari beberapa bahan baku dan bahan imbuhan pakan, sehingga mempunyai nilai gizi tertentu yang mampu mendukung terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan. Pakan ini dibuat melalui proses pencetakan, berbentuk butiran atau pellet, atau bentuk lainnya yang disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut ternak dan sifat fisik pakan ini dapat mengapung, melayang, tenggelam atau lainnya.
Uji Mikrobiologi Pada pakan
1. Uji Angka lempeng Total (ALT)
Uji Angka Lempeng Total (ALT) pada bahan pakan dan pakan buatan dilakukan dengan cara mikroorganisme ditumbuhkan dengan metode agar tuang, diinkubasikan dalam kondisi aerob atau anaerob pada suhu dan waktu yang sesuai hingga tumbuh dan berkembang biak dengan membentuk koloni yang dapat dihitung.
Persiapan pengujian dilakukan dengan menyiapkan sejumlah sampel dan dimasukkan dalam wadah atau plastik steril dan ditambahkan larutan Butterfield’s Phosphate Buffered dan dihomogenkan, larutan ini merupakan larutan pengenceran 10-1, selanjutnya dibuatkan larutan pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, dan seterusnya yang disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan sampel yang akan diuji.
Setelah itu dilakukan pengujian Angka Lempeng Total (ALT) aerob dan ALT anaerob. Uji ALT aerob dilakukan dengan cara sejumlah hasil pengenceran dipipet dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril dan dilakukan secara duplo untuk setiap pengenceran. Kemudian ditambahkan media Plate Count Agar (PCA) dan dicampur dengan cara memutar cawan petri ke arah depan - ke belakang dan ke kiri - ke kanan. Kemudian cawan - cawan petri tersebut diinkubasikan dengan posisi terbalik di dalam inkubator pada suhu 35°C ± 1°C untuk bakteri mesofilik atau pada suhu 35°C ± 1°C untuk bakteri termofilik selama 48 jam ± 2 jam. Sedangkan untuk uji ALT anaerob dilakukan dengan cara menuangkan sejumlah media PCA atau media Nutrient Agar (NA) atau media Tryptic Soy Agar (TSA) ke dalam cawan petri steril dan disebarkan, kemudian dibiarkan mengeras dan pipet sejumlah sampel yang telah diencerkan ke setiap cawan petri untuk setiap pengenceran dan dilakukan secara duplo. Setelah itu ditambahkan sejumlah Thioglycolate agar dan dicampurkan dengan cara diputar secara hati - hati. Lalu cawan - cawan petri tersebut diatur di dalam anaerobic jar dengan posisi terbalik dan diletakkan di dalam inkubator pada suhu 35°C ± 1°C untuk bakteri mesofilik atau pada suhu 35°C ± 1°C untuk bakteri termofilik selama 48 jam ± 2 jam.
Setelah diinkubasi, dilakukan pembacaan dan perhitungan koloni dengan menggunakan colony counter dan dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus dan/atau berpatokan pada SNI 2332 Bagian 3 Tahun 2015.
2. Uji Salmonella
Pertumbuhan Salmonella pada media selektif dengan pra- pengayaan (pre-enrichment), dan pengayaan (enrichment) yang dilanjutkan dengan uji biokimia dan uji serologi.
Pengujian Salmonella spp. adalah sebagai berikut:
3. Uji Kapang
Kapang adalah mikroorganisme yang terdiri lebih dari satu sel berupa benang-benang halus yang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium dan berkembangbiak dengan spora. Pengujian Kapang dilakukan dengan prinsip pertumbuhan kapang dihitung setelah sampel diinkubasikan dalam media agar pada suhu 25°C di dalam inkubator selama lima hari. Penentuan jumlah kapang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu metode cawan agar tuang (pour plate) dan atau cawan agar sebar (spread plate).
Setelah diinkubasi, dilakukan pembacaan dan perhitungan koloni dengan menggunakan colony counter dan/atau berpatokan pada SNI 2332 Bagian 7 Tahun 2015.
Alat Uji Mikrobiologi
Sesuai dengan Good Laboratory Practice (GLP), semua peralatan dan peralatan pengujian harus dijaga kebersihannya dan dalam kondisi kerja yang baik. Sebelum digunakan, peralatan harus diverifikasi kesesuaiannya dengan tujuan yang dimaksudkan dan jika perlu kinerjanya dipantau selama penggunaan dengan cara dilakukan pemantauan dan dikalibrasi ke standar nasional yang diakui keabsahannya. Selain itu, peralatan harus diperiksa dan dipelihara secara teratur untuk memastikan keamanan dan kualitasnya untuk digunakan.
Alat-alat uji mikrobiologi yang umumnya dibutuhkan dan perlu diperhatikan dalam pengujian mikrobiologi adalah autoklaf, oven, waterbath, inkubator, mikroskop dan colony counter.
1. Autoklaf
Sterilisasi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu sterilisasi basah dan sterilisasi kering. Telah diketahui bahwa sterilisasi merupakan proses menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, fungi dan parasit) termasuk endospora. Sterilisasi dengan menggunakan metode uap tekanan tinggi, dulunya secara konvensional dilakukan dengan menggunakan sterilisator uap non-elektrik yang membutuhkan bahan bakar minyak tanah atau lainnya sebagai sumber panas. Kemudian dalam perkembangannya, tersedia alat sterilisator uap tekanan tinggi elektrik yang sumber panasnya berasal dari energi listrik yang disebut dengan autoklaf (autoclave). Sterilisasi basah dilakukan dengan menggunakan autoklaf. Alat autoklaf yaitu alat yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi untuk melakukan sterilisasi secara basah atau dengan sistem penguapan, yang mana biasanya digunakan untuk sterilisasi media ataupun glassware untuk pengujian. Dalam perkembangan teknologi hingga saat ini, autoklaf telah tersedia dalam dua jenis yaitu autoklaf manual dan autoklaf digital atau disebut juga dengan autoklaf otomatis.
Penggunaan autoklaf dapat beresiko terhadap user (pengguna) seperti bahaya fisik yang disebabkan oleh suhu tinggi, uap, tekanan dan benda tajam; bahaya biologis seperti infeksi dari bahan yang disterilisasi. Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah bahaya dari penggunaan autoklaf adalah sebagai berikut:
2. Oven
Alat oven dalam pengujian mikrobiologi digunakan untuk proses sterilisasi kering dan bisa juga digunakan untuk proses pengeringan. Sterilisasi dalam pengujian mikrobiologi penting untuk dilakukan guna memastikan alat-alat ataupun media yang akan digunakan selama pengujian tidak terkontaminasi sebelum digunakan sehingga tidak akan terjadinya kegagalan dalam pengujian mikrobiologi pada suatu sampel uji.
Oven yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi khususnya untuk proses sterilisasi sebaiknya memiliki tombol power untuk menghidupkan dan/atau mematikan fungsi kipas, serta dapat dinaikan ataupun diturunkan kecepatannya. Kemudian dilengkapi dengan display yang mudah untuk dioperasikan oleh user dan dapat menampilkan suhu setingan dan suhu yang telah dicapai oleh alat oven.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan oven yaitu:
3. Inkubator
Salah satu proses yang paling penting dalam pengujian mikrobiologi adalah inkubasi. Inkubasi dilakukan dengan menggukan inkubator. Inkubasi dalam pengujian mikrobiologi dilakukan untuk melihat apakah adanya pertumbuhan mikroba pada sampel uji. Sebelum melakukan inkubasi, penting untuk mengetahui jenis bakteri yang perlu diuji dan suhu inkubasi yang dibutuhkan untuk menumbuhkan bakteri yang ingin diuji terdapat pada suatu sampel.
Perlu diingat dan diketahui bahwa walaupun umumnya bentuk dan parameter yang dapat diatur sama yaitu suhu, namun inkubator dan oven sangatlah berbeda baik dari segi spesifikasi maupun fungsi. Umumnya inkubator hanya dapat diatur hingga suhu 70°C sedangkan oven dapat mengatur hingga 300°C. Selain itu karena fungsinya inkubator adalah menginkubasi dan menjaga suhu inkubasi sesuai dengan suhu pertumbuhan yang dibutuhkan oleh sampel dan menjaga agar tidak terkontaminasi oleh lingkungan luar, maka inkubator dilengkapi dengan pintu bagian dalam yang biasanya terbuat dari bahan kaca (glass) sehingga memudahkan user dalam memantau pertumbuhan media kultur dan menjaga suhu tetap konstan selama inkubasi berlangsung, sedangkan untuk oven tidak dilengkapi dengan pintu bagian dalam.
4. Waterbath
Selain inkubasi menggunakan inkubator, inkubasi dengan waktu singkat juga dapat dilakukan dengan menggunakan waterbath, selain inkubasi, waterbath juga dapat dilakukan untuk melarutkan media dan pemanasan media uji.
Waterbath menghasilkan panas dengan prinsip panas yang berasal dari aliran listrik yang dihantarkan melalui media air di dalam chamber waterbath menghasilkan panas yang homogen pada media air. Oleh karena itu, user perlu memerhatikan kualitas air yang digunakan pada waterbath. Umumnya air yang digunakan adalah air dengan nilai konduktivitasnya adalah 5 – 10 µS dan nilai pH nya adalah antara 5 dan 7, kurang ataupun lebih dari nilai itu tidak dianjurkan digunakan dalam waterbath karena dapat mengakibatkan korosi pada alat dan kontaminasi pada aplikasi sampel atau bahan yang diinkubasi atau dipanaskan dengan menggunakan waterbath. Kemudian user juga perlu memerhatikan minimum dan maksimum level yang berada pada dinding chamber waterbath ketika airnya diisi ataupun selama proses pemanasan berlangsung, hal ini guna mengoptimalkan aplikasi yang dilakukan dengan menggunakan waterbath. Apabila air yang digunakan pada waterbath tidak sesuai dengan standar spesifikasinya maka dapat menimbulkan korosi dan kontaminasi pada sampel, bahkan dapat menyebakan kerusakan pada alat waterbath yang digunakan.
5. Colony counter
Colony counter berguna untuk untuk menghitung koloni saat pengujian cemaran mikroba pada sampel uji. Kemajuan teknologi menghadirkan colony counter yang modern yang dapat menghitung secara langsung pada alatnya tanpa bantuan hand counter seperti teknologi sebelumnya.
Colony counter yang dibutuhkan dalam pengujian mikrobiologi yaitu colony counter yang tersedia dengan warna dan pencerahan yang dapat dikostumisasi. Colony counter yang digunakan juga sebaiknya memiliki atau tersedia dalam pilihan atau variasi warna yang beragam sehingga memudahkan user untuk memilih dan menyesuaikan dengan media uji ataupun bakteri uji. Colony counter yang digunakan sebaiknya dapat diatur kebutuhan brightness-nya dan memiliki sistem perhitungan yang otomatis dengan impuls perhitungan yang diaktifkan oleh plate count yang sensitif terhadap tekanan sehingga hasil yang terhitung adalah hasil yang akurat. Colony counter yang digunakan sebaiknya dapat menghitung maksimum perhitungannya yang dapat mewakili pengenceran 10-1, yang artinya dapat menghitung koloni dengan jumlah yang banyak, misalnya 999 koloni. Colony counter yang digunakan sebaiknya memiliki diameter counting plate nya seperti yang umumnya tersedia yaitu 145 mm. Kemudian colony counter yang digunakan sebaiknya memiliki penerangan yang dihasilkan adalah bebas silau dan menggunakan LED dengan daya tinggi. Selain itu penyinaran colony counter yang digunakan sebaiknya bersumber baik dari bawah maupun samping dan tidak akan menghasilkan pemanasan pada cawan petri yang dihitung. Colony counter yang digunakan sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, dan juga dapat menggunakan sisipan pereduksi untuk menggunakan cawan petri yang berdiameter lebih kecil.
6. Mikroskop
Selain melakukan perhitungan koloni, kita juga sebaiknya melakukan pengamatan terhadap mikroba yang terbentuk dari sampel uji untuk memastikan spesies apa yang teridentifikasi dalam sampel uji. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskop.
Contoh alat-alat uji mikrobiologi ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Alat - Alat Uji Mikrobiologi
Referensi:
International Organization of Standardization (ISO) 7218 Tahun 2007, dan AOAC official Methods 2005 Chapter 4 Animal Feed.
SNI 2332.7-2015 Cara uji mikrobiologi - Bagian 7: Perhitungan kapang dan khamir pada produk perikanan
SNI 2332.3-2015 Cara uji mikrobiologi - Bagian 3: Penentuan angka lempeng total (ALT) pada produk perikanan
SNI 2897-2008 Metode pengujian cemaran mikrobia dalam daging, telur dan susu serta hasil olahannya
SNI 01-2891-1992 Cara uji makanan dan minuman
SNI 01-2332.2-2006 Cara uji mikrobiologi - Bagian 2: Penentuan Salmonella pada produk perikanan
https://www.allamericancanner.com/Autoclave-Sterilizer.htm
http://www.hirayama-hmc.co.jp/english/hv2series-med.html