| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364688 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Apa fungsi dari pengujian rotasi spesifik (specific rotation)? Seluruh analis dan operator pasti setuju bahwa salah satu tujuan pengujian rotasi spesifik adalah untuk mengetahui kualitas bahan baku maupun produk jadi yang bersifat aktif optik. Pengujian ini dilakukan secara polarimetri, yakni dengan menggunakan alat polarimeter. Penggunaan polarimeter ini direkomendasikan oleh Farmakope Indonesia dan United State Pharmacopeia (USP) serta metode standar lain untuk mengidentifikasi senyawa dan untuk mengetahui kemurnian suatu zat. Namun, Apa saja yang perlu diperhatikan dalam analisa polarimetri? Faktor apa saja yang dapat mengganggu proses analisa? Hal - hal tersebut akan dibahas dalam artikel ini secara rinci.
Zat optik aktif adalah zat atau senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi cahaya dan memiliki nilai rotasi spesifik. Rotasi spesifik (specific rotation) adalah sifat yang terbentuk ketika suatu senyawa memiliki struktur kiral dan dapat diartikan sebagai sifat dari suatu senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi cahaya pada suhu, panjang gelombang dan konsentrasi tertentu. Parameter ini bersifat eksklusif yang mana setiap senyawa memiliki nilai rotasi spesifik yang berbeda - beda dan dapat dihitung atau diukur dengan menggunakan alat polarimeter. Rumus penentuan rotasi spesifik dapat ditulis sebagai berikut :

Dalam farmakope Indonesia , disebutkan cara pengujian rotasi spesifik dan rotasi optik suatu zat. Pengujian ini dilakukan dengan melarutkan sejumlah sampel pada suatu pelarut. Kemudian larutan ini dihomogenkan dan dikondisikan pada suhu 25o C atau 20oC, yang mana kondisi suhu ini bergantung pada monograf yang diterapkan. Sebagai contoh sederhana yaitu sukrosa yang dilarutkan ke dalam air hingga homogen. Larutan sukrosa kemudian dikondisikan pada suhu 25oC, kemudian diuji rotasi optiknya pada polarimeter. Selain sukrosa, senyawa obat - obatan yang bersifat zat aktif optik seperti atropin sulfat, dextromethorphane HBr, phenoxymethylpenicillin, dan senyawa lainnya juga memerlukan pengujian polarimetri dalam pengujian kualitasnya. Nilai rotasi spesifik dari beberapa senyawa ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Rotasi Spesifik Beberapa Senyawa

Dari Tabel 1, terlihat tanda (+) dan (-) pada nilai rotasi spesifik senyawa - senyawa tersebut. Kedua tanda tersebut melambangkan arah putar bidang polarisasi cahaya oleh senyawa. Tanda (+) menandakan bahwa arah putar sesuai dengan arah jarum jam, sedangkan tanda (-) menandakan bahwa arah putar bidang polarisasi cahaya berlawanan arah dengan arah jarum jam. Senyawa - senyawa dengan rotasi putar (+) disebut dextro dan senyawa - senyawa dengan rotasi putar (-) disebut levo.
Tantangan dalam pengujian rotasi spesifiik memang tidak sederhana. Beberapanya mungkin dapat menyebabkan hasil pengukuran yang kurang optimal. Oleh karena itu, beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan saat pengujian berlangsung :
Larutan sampel harus homogen.
Dalam beberapa kasus, larutan sampel harus jernih atau tidak mengandung partikel yang tersuspensi di dalamnya. Partikel tersebut akan menghamburkan cahaya yang melewati larutan sehingga uji rotasi putar tidak optimal.
Tidak terdapat gelembung udara pada tabung sampel saat diisi larutan.
Adanya gelembung udara dapat mengakibatkan adanya ruang kosong pada tabung sehingga ketika cahaya polarisasi dilewatkan pada tabung, tidak seluruh cahaya polarisasi terputar oleh sampel
Kondisi suhu ambien ruangan.
Suhu ambien rata - rata Indonesia berkisar 28o - 30oC, maka dari itu diperlukan instrument tambahan dalam mengkondisikan suhu sampel hingga 25oC atau 20oC sebelum pengujian dilakukan pada polarimeter.
Pemilihan pelarut
Analis perlu melakukan pengkajian terhadap pelarut yang digunakan untuk uji berdasarkan nilai kelarutan zat pada pelarut tersebut atau dapat merujuk pada suatu metode standar tertentu. Contohnya, dalam mengidentifikasi atropin sulfat, 1 gram zat dilarutkan dalam 20 mL air sebelum diuji pada polarimeter.
Banyaknya pengulangan dalam uji.
Umumnya, pengujian dapat dilakukan secara duplo, triplo dan seterusnya agar uji yang dilakukan lebih presisi. Selain itu, pengujian berulang juga berfungsi untuk mengetahui kestabilan zat serta nilai ketidakpastian pengujian.
Nilai akurasi dan presisi alat polarimeter serta alat penunjang lainnya.
Dalam hal ini, pemilihan alat merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena sangat menunjang optimalisasi analisa yang dilakukan.
Polarimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur rotasi optik suatu senyawa kiral. Prinsip kerja polarimeter didasarkan pada sifat material sampel yang mengabsorpsi sinar dan memutar bidang polarisasi cahaya. Cara kerja polarimeter dimulai dari penembakkan cahaya menuju monokromator sehingga menghasilkan cahaya terpolarisasi. cahaya terpolarisasi kemudian diteruskan pada suatu sampel dimana hasilnya akan terbaca oleh analisator atau detektor. Dalam hal ini, pelarut seperti air atau pelarut lainnya digunakan sebagai pembanding (blank), dengan catatan bahwa pelarut tersebut digunakan untuk melarutkan sampel uji dimana biasanya sampel diukur pada panjang gelombang 589.3 nm.
Terdapat dua jenis polarimeter yakni polarimeter manual dan polarimeter digital. Umumnya, sumber lampu yang digunakan untuk polarimeter manual adalah lampu natrium, sedangkan beberapa polarimeter digital telah menggunakan lampu LED. Meski kedua jenis polarimeter ini memiliki fungsi yang sama, namun keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing.


Tabel 2 mencantumkan cara pembacaan alat polarimeter manual dan digital yang berbeda, ilustrasi perbedaan cara pembacaan keduanya ditunjukkan pada Gambar 2. Meski dari segi biaya (cost) polarimeter manual relatif lebih rendah dibandingkan polarimeter digital, namun analisator yang masih tergolong manual dapat memicu adanya kesalahan paralaks pada saat analisa. Selain itu, pengkondisian suhu sampel di instrument berbeda juga tidak menjamin bahwa suhu pada saat analisa tetap pada 20o atau 25oC.

Gambar 2. Ilustrasi Cara Pembacaan Sampel pada (A) Polarimeter Manual (B) Polarimeter Digital
Untuk mengatasi masalah tersebut, polarimeter digital dapat dijadikan sebagai solusi karena pembacaan nilai rotasi optik (optical rotation), rotasi spesifik (specific rotation) dan konsentrasi yang dilakukan secara otomatis disertai display angka secara digital. Ditambah lagi, analis tidak perlu mengkondisikan sampel pada instrument yang berbeda dikarenakan polarimeter digital telah dilengkapi dengan fitur pendingin peltier. Beberapa polarimeter digital juga telah dilengkapi dengan mode multiwavelenght sehingga range pengukuran sampel lebih luas. Contoh tampilan alat polarimeter digital ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Contoh Alat Polarimeter Digital
Referensi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.04.1.32.10.12.0008 Tentang “Pembentukan Tim Pelaksana Penyusunan Farmakope Indonesia edisi V
Bellingham Stanley. 2012. Uses of Refractometers and Polarimeters in the Confectionery Industry
PubChem. Compound Summary : Atropine, https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Atropine#section=Melting-Point diakses pada Hari Rabu Tanggal 9 Maret 2022 Pukul 18.30
Drugsfuture. 2021. Chlorpheniramine, https://www.drugfuture.com/chemdata/chlorpheniramine.html diakses pada Hari Rabu Tanggal 9 Maret 2022 Pukul 20.07
Drugsfuture.2021. Penicillin V, https://www.drugfuture.com/chemdata/penicillin-v.html diakses pada Hari Rabu Tanggal 9 Maret 2022 Pukul 20.28
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1992. Kimia Organik Jilid 1 (terjemahan). Jakarta : Erlangga
Li, Dongmei.,dkk. 2021. An Optical Chiral Sensor Based on Weak Measurement for the Real-Time Monitoring of Sucrose Hydrolysis, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7867249/ diakses pada Hari Kamis Tanggal 10 Maret 2022 Pukul 10.45
United States Pharmacopeial Convention. 2012. USP 35 <781s> Optical Rotation