
Apa saja parameter baku mutu untuk industri minyak dan gas? Parameter - parameter seperti chemical oxygen demand (COD), pH, total dissolved solids (TDS), dan Ammonia yang merupakan bagian dari parameter wajib ukur untuk air limbah industri minyak dan gas telah dibahas pada artikel - artikel sebelumnya. Selain parameter - parameter tersebut, parameter biochemical oxygen demand (BOD) juga merupakan parameter wajib yang perlu diketahui dan dievaluasi nilainya sebelum air limbah dilepaskan ke lingkungan. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 19 Tahun 2010, bahwa maksimum kadar BOD pada air limbah proses dari kegiatan dan/atau usaha pengolahan minyak bumi adalah 80 mg/L dengan beban pencemaran maksimum pada 80 gram/m3.
Biochemical oxygen demand (BOD) atau yang disebut juga sebagai kebutuhan oksigen biokimia (KOB) adalah parameter yang mengindikasi seberapa besar jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mendegradasi polutan organik yang terkandung dalam air limbah melalui jalur biokimia dengan bantuan mikroorganisme. Dengan kata lain, semakin besar nilai BOD suatu air limbah proses maka semakin banyak juga polutan yang terkandung didalamnya dan semakin tinggi potensinya mencemari lingkungan. Bila air limbah proses dengan kadar BOD tinggi tetap dilepaskan ke lingkungan, kebutuhan konsumsi oksigen (oxygen demand) pada badan air lingkungan akan meningkat dan sebaliknya ketersediaan oksigen dalam badan air akan menurun. Hal ini tentu akan memunculkan persaingan konsumsi oksigen antara kebutuhan untuk mendegradasi polutan dalam badan air dengan kebutuhan oksigen yang dikonsumsi oleh biota air.
Tingkat kelarutan oksigen terpengaruh oleh suhu sehingga jika suhu lingkungan meningkat pada siang hari, maka tingkat kelarutan oksigen akan menurun pada badan air lingkungan sehingga jumlah oksigen terlarut akan terbatas. Jika pembuangan air limbah terus berlanjut, badan air lingkungan akan kehilangan kemampuan degradasi polutan akibat terlalu menumpuknya polutan di dalamnya. Lambat laun, polutan - polutan ini akan membentuk turbid yang akan menghalangi cahaya masuk ke dalam badan air. Alhasil, permukaan air menjadi berwarna, keruh dan bahkan dalam banyak kasus berbau. Oleh karena itu, pengukuran biochemical oxygen demand (BOD) diperlukan untuk mencegah pencemaran terjadi dan mengendalikan dampak yang sudah terjadi.
Beberapa metode pun direkomendasikan untuk mengukur BOD pada Standard Method For The Examination of Water and Wastewater Treatments 24th Edition Nomor 5210. Metode - metode tersebut dijelaskan secara lugas sebagai berikut:
Metode ini didasarkan pada pengukuran nilai oksigen terlarut dalam sampel air limbah pada saat sebelum dan setelah proses inkubasi dilakukan. Secara prinsip, titrasi iodometri dilakukan dengan menambahkan sampel dengan mangan klorida (MnCl2) dan larutan kalium iodida dalam natrium hidroksida (NaOH-KI) pada kondisi asam dengan penambahan asam sulfat (H2SO4) sehingga ion iodida pada vessel titrat berubah menjadi iodin yang ekivalen dengan kadar oksigen terlarut setelah proses titrasi dengan natrium tiosulfat (Na2S2O3). Nilai BOD kemudian dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :
Keterangan :
BOD5 adalah nilai BOD5 contoh uji (mg/L)
A1 adalah kadar oksigen terlarut sampel sebelum inkubasi (0 hari), dalam satuan (mg/L);
A2 adalah kadar oksigen terlarut sampel sebelum inkubasi (5 hari), dalam satuan (mg/L);
B1 adalah kadar oksigen terlarut blanko sebelum inkubasi (0 hari), dalam satuan (mg/L);
B2 adalah kadar oksigen terlarut blanko sebelum inkubasi (5 hari), dalam satuan (mg/L);
VB adalah Volume suspensi mikroba (mL) dalam botol DO Blanko (mL);
VC adalah Volume suspensi mikroba (mL) dalam botol DO sampel (mL);
P adalah perbandingan volume sampel (V1) per volume total (V2)
Sama halnya dengan metode titrimetri, metode dilusi probe juga didasarkan pada pengukuran nilai oksigen terlarut dalam sampel air limbah pada saat sebelum dan setelah proses inkubasi dilakukan. Hanya saja, pengukuran kadar oksigen terlarut dalam sampel maupun larutan blanko bukan dilakukan dengan cara titrasi, melainkan dengan menggunakan Alat DO meter yang terdiri dari Meter dan elektroda DO, yang memenuhi standar APHA 4500-O Bagian G. Terdapat kriteria khusus untuk metode ini, yakni nilai oksigen terlarut air limbah pada hari ke 5 inkubasi tidak boleh dibawah 1 mg/L DO. Syarat ini harus dipenuhi demi keakuratan uji BOD yang dilakukan. Nilai BOD kemudian dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang direkomendasikan.

Gambar 1. Tampilan Alat DO Meter untuk Uji BOD Metode Dilusi Probe
Metode respirometrik didasarkan pada pada proses respirasi yang dilakukan oleh bakteri selama masa inkubasi. Bakteri yang mengoksidasi material organik dalam sampel air limbah akan mengkonsumsi oksigen terlarut sehingga menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) yang akan ditangkap oleh alkali hidroksida. Berbeda halnya dengan kedua metode yang telah dijelaskan sebelumnya, metode respirometrik dilakukan dengan sistem yang lebih otomatis dimana nilai yang terukur merupakan kadar oksigen yang telah dikonsumsi bakteri selama proses inkubasi berlangsung, sehingga hasil yang tampil sudah dalam satuan mg/L BOD. Selain itu, metode respirometrik juga lebih detail dengan diperlukannya pemantauan 1 x 24 jam pada setiap sampel BOD maupun larutan blanko yang digunakan.
Gambar 2. Kurva Uji BOD menggunakan Metode Respirometrik
Hasil dari pemantauan selama proses inkubasi dengan interval 1 x 24 jam kemudian diterapkan pada kurva. Ilustrasi kurva uji BOD ditunjukkan pada Gambar 1. Uji BOD dikatakan berhasil ketika kurva yang terbentuk adalah kurva A.

Gambar 3. Tampilan Alat BOD Meter untuk Metode Respirometrik
Biochemical oxygen demand (BOD) adalah satu satu pengujian yang memiliki cukup banyak tantangan dan durasi pengujiannya cukup lama. Menurut standar nasional Indonesia (SNI), dibutuhkan minimal 5 hari untuk melakukan uji BOD sampai mendapat hasil, yang disebut sebagai BOD5. BOD5 merupakan standar di Indonesia maupun internasional untuk pengukuran parameter BOD.Untuk meminimalisir kesalahan pada uji BOD, berikut hal - hal yang perlu diperhatikan :
Jika sampel ditempatkan di suhu ruang, pastikan umur sampel tidak lebih dari 2 jam dari waktu pengumpulan. Jika penyimpanan sampel BOD diperlukan, simpan sampel pada suhu ≤ 4oC. Maksimal waktu penyimpanan adalah 24 jam.
Suhu sampel harus berada pada 20oC ± 1oC baik pada saat sebelum maupun selama proses inkubasi berlangsung. Pengkondisian harus dilakukan dalam inkubator.
Pastikan sampel tidak mengandung zat - zat toksik, contoh : klorin dan turunannya, ozon, peroksida dan sebagainya. Lakukan pre-treatment yang direkomendasikan untuk menghilangkan zat - zat tersebut jika terbukti ada di dalam sampel.
Nilai pH sampel berkisar pada 6.5 - 7.5, sehingga pengukuran pH dengan Alat pH meter perlu dilakukan.
Jumlah nutrien dan bakteri yang ada dalam sampel cukup untuk pengujian BOD.
Alat dan rumus perhitungan yang digunakan sesuai dengan metode yang dipilih.
Penambahan inhibitor nitrifikasi diperlukan jika uji BOD dilakukan lebih dari 5 hari.
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengujian biochemical oxygen demand (BOD) perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas air limbah hasil proses. Penyesuaian metode dan instrumen yang digunakan untuk uji BOD merupakan hal yang harus ditentukan sebelum melakukan uji BOD. Disamping itu, analis juga perlu memperhatikan berbagai faktor yang dapat menyebabkan kegagalan uji.
Referensi :
American Public Health Association. 2023. Standard Method For The Examination of Water and Wastewater Treatments 24th Edition. USA : APHA
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2009). SNI 6989.72 : 2009. Air dan Air Limbah - Bagian 72 : Cara Uji Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand/BOD). Jakarta : Badan Standardisasi Nasional
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2004). SNI 06-6989.14:2004. Air dan Air Limbah - Bagian 14 : Cara Uji Oksigen Terlarut secara Iodometri (Modifikasi Azida). Jakarta : Badan Standardisasi Nasional
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2010. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 19 Tahun 2010 tentang “Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas Serta Panas Bumi