Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Cara Uji Chemical Oxygen Demand (COD) sesuai SNI 6989 Bagian 2 Tahun 2019 dan APHA 5220

Cara Uji Chemical Oxygen Demand (COD) sesuai SNI 6989 Bagian 2 Tahun 2019 dan APHA 5220

Tuesday, 13 May 2025

Kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) atau yang lebih dikenal sebagai chemical oxygen demand (COD) adalah parameter wajib untuk hampir seluruh sampel air limbah. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2014, COD dipastikan menjadi elemen wajib ukur untuk setiap lingkup industri. Disebutkan juga oleh American Public Health Association (APHA) 5220 bahwa COD merupakan parameter yang paling sering digunakan untuk mengukur polutan dalam air limbah dibandingkan BOD maupun TOC. Mengapa? Hal ini karena COD dinilai lebih mudah dan cepat untuk diukur. Cara ujinya dijelaskan pada Standard Methods For The Examinations of Water and Wastewater Treatments yang salah satu cara ujinya diadaptasikan pada Standar Nasional Indonesia (SNI) Bagian 2 Tahun 2019.

Kebutuhan oksigen kimiawi KOK) atau chemical oxygen demand (COD) adalah parameter yang merepresentasikan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi seluruh polutan dalam air limbah melalui jalur kimia. Jika nilai COD suatu sampel air limbah besar, artinya dibutuhkan jumlah oksigen yang besar untuk mengoksidasi polutan air limbah tersebut. Alhasil, terjadi persaingan antara proses ‘penguraian polutan’ dan kebutuhan akuatik. Jika kelarutan oksigen dalam badan air rendah, memungkinkan masih banyak polutan yang tidak teroksidasi sehingga memicu terjadinya kekeruhan hingga tingginya padatan tersuspensi total/ total suspended solids (TSS). Tentunya hal ini perlu dicegah dengan pengolahan air limbah sebelum dilepaskan ke lingkungan. Baku mutu nilai COD air limbah dari beberapa industri dapat disimak pada Tabel 1.

Tabel 1. Baku Mutu Air Limbah dari Beberapa Industri

Jenis Air Limbah Kadar Maks. COD 
Air Limbah Industri Tekstil 150 ppm (dengan bebas maks.15 kg/ton)
Air Limbah Domestik 100 ppm
Air Limbah Industri Baterai Kering Karbon - Seng 15 ppm (dengan beban maks 3,75 mg/kg produk)
Air Limbah Kegiatan Perhotelan 50 ppm (dengan beban maks 12.5 kg/ orang
Air Limbah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Domestik) 80 mg/L

 

Cara Uji Chemical Oxygen Demand (COD) Berdasarkan APHA 5220

Menurut American Public Health Associations, kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) atau chemical oxygen demand (COD) dalam air limbah dapat diukur dengan 2 metode analisis, yakni metode spektrofotometri dan titrimetri. Namun terdapat juga 2 tahap untuk pengujiannya yang terdiri dari tahap destruksi dan tahap analisis. Terdapat dua macam tahap destruksi yang dapat digunakan, yakni refluks terbuka dan refluks tertutup. Penjelasan lebih lengkap dari metode - metode tersebut dirincikan sebagai berikut :

1. Metode Refluks Terbuka (Open Reflux Method, Titrimetric Method)

Metode ini diawali dengan tahap refluks atau destruksi terhadap sampel dengan campuran kromat berlebih dalam asam pekat, yakni kalium dikromat (K2Cr2O7). Pada tahap ini, sebagian besar polutan organik dalam sampel akan teroksidasi dengan sebagian ion dikromat tereduksi. Sebagian ion dikromat yang tidak tereduksi kemudian dititrasi dengan larutan FAS (ferrous ammonium sulfate) dan larutan indikator ferroin untuk menentukan jumlah kalium dikromat yang bereaksi. Volume yang dibutuhkan pun dicatat untuk perhitungan nilai kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) atau chemical oxygen demand (COD) yang dapat dihitung dengan rumus : 

Sebagai catatan, destruksi dilakukan pada suhu 150o +/- 2oC selama 120 menit (2 jam) dan menggunakan Alat Refluks yang terdiri dari wadah 500 mL atau 250 mL, pendingin Liebig, kondensor, dan pemanas (hot plate) dengan daya yang cukup (minimal 1.4 W/cm3). Analis pun wajib untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) karena metode ini melibatkan reagen yang berbahaya seperti asam sulfat, perak (I) sulfat, dan atau merkuri (II) sulfat.

Berdasarkan tingkat presisinya, metode ini telah diuji pada 74 laboratorium, dimana pada konsentrasi 200 mg/L COD tanpa klorida memiliki deviasi standar +/ 13 mg/L dengan koefisien variasi 6.5%. Pada kondisi lainnya yaitu kadar klorida 100 mg/L, dengan konsentrasi 160 mg/L COD memiliki deviasi standar +/- 14 mg/L dengan koefisien variasi 10.8%. Tentunya tingkat presisi ataupun nilai estimasi ketidakpastian uji tetap perlu ditentukan karena nilai tersebut tergantung pada kondisi lingkungan, peralatan dan instrumen yang digunakan serta operator yang mengoperasikannya.

 

2. Metode Refluks Tertutup secara Titrimetri (Closed Reflux, Titrimetric Method)

Metode ini memiliki prinsip yang sama dengan metode refluks terbuka, yakni diawali dengan tahap destruksi pada campuran kalium dikromat dan diikuti tahap titrasi dengan larutan FAS (ferrous ammonium sulfate). Namun, metode refluks tertutup dilakukan pada vial destruksi yang lebih kecil sehingga kapasitas reagen yang dibutuhkan lebih sedikit. Vial yang dapat digunakan antara lain vial berukuran 16 x 100 mm atau 20 x 150 mm atau 25 x 150 mm dengan material tutup PTFE. Ampul borosilikat dengan kapasitas 10 mL, diameter 19 hingga 20 mm pun juga dapat dijadikan alternatif.

Sebagai informasi yang dikutip dari Standard Methods For The Examinations of Water and Wastewater Treatments 24th Edition, metode ini cukup relevan untuk digunakan dan telah dikaji di 6 laboratorium pada masing - masing 66 sampel. Pada rata - rata kadar COD 195 mg/L, tanpa klorida, deviasi standar menunjukkan pada +/- 11 mg/L dengan koefisien variasi 5.6%. Pada sampel lainnya yang mengandung 100 mg/L klorida, kadar COD 208 mg/L, menunjukkan deviasi standar +/- 10 mg/L dengan koefisien variasi 4.8%. 

3. Metode Refluks Tertutup secara Spektrofotometri (Closed Reflux, Spectrophotometric Method)

Sedikit berbeda dari kedua metode diatas, metode ini terdiri dari tahap destruksi dengan refluks tertutup dan tahap pembacaan sampel dengan prinsip spektrofotometri. Prinsipnya adalah dengan mereduksi kromium (VI) menjadi kromium (III) dalam suasana asam dan membacanya pada Alat Spektrofotometer. Uniknya, setiap sampel memiliki panjang gelombang spesifik yang didasarkan pada estimasi kadar COD-nya. Untuk kadar COD yang relatif rendah, pengukuran absorbansi dilakukan pada panjang gelombang 420 nm guna untuk mengukur sisa dari ion kromium (VI). Sebaliknya, jika kadar COD dalam sampel relatif tinggi, maka panjang gelombang 600 nm dibutuhkan untuk pengukuran dalam Alat Spektrofotometer maupun Alat Kolorimeter, guna untuk mengukur kromium (III) yang dihasilkan dari reaksi reduksi. Persamaan reaksi ini dituliskan sebagai berikut :

Praktisnya pada zaman sekarang, Alat Spektrofotometer dan Alat Kolorimeter tidak hanya dapat membaca nilai absorbansi ataupun transmitansi saja, melainkan juga konsentrasi. Dalam hal ini, sistem melakukan kalkulasi secara otomatis sehingga hasil akan tampil pada display Alat Spektrofotometer atau Alat Kolorimeter dengan cepat. Umumnya kedua Alat ini memiliki waktu respon pembacaan sekitar 2 - 3 detik sehingga seringkali dijadikan metode referensi di kebanyakan industri.

Ditinjau dari tingkat presisi dan akurasinya, metode ini telah dikaji pada 48 sampel sintetis yang mengandung kalium hidrogen ftalat dan natrium klorida di 5 laboratorium. Dihasilkan rata - rata standar deviasi ±17 mg/L dengan koefisien variasi 8.7% pada konsentrasi 193 mg/L tanpa adanya klorida. Kondisi lainnya, dengan kadar klorida 100 mg/L, dihasilkan standar deviasi ±20 mg/L pada konsentrasi 212 mg/L COD. Dikutip dari ASTM D1252-06 bagian B Tahun 2020, diperlukan pembuatan kurva kalibrasi yang dapat mendukung data quality assurance (QA) dan quality control (QCdari pengukuran parameter ini. 

 

Kebutuhan Oksigen Kimiawi Menurut SNI 6989 Bagian 2 Tahun 2019

Setiap metode yang dijabarkan pada APHA 5220 telah diadaptasi pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan nomor metode yang berbeda - beda. Khusus untuk SNI Nomor 6989 Bagian 2 Tahun 2019, metode ini mengadaptasikan APHA 5220 Bagian D, yakni melalui metode refluks tertutup - spektrofotometri dengan Alat Spektrofotometer. Melalui metode ini, disebutkan bahwa user perlu membuat reagen uji dengan cara - cara yang telah disediakan. Beberapa yang perlu disediakan yakni larutan destruksi kalium dikromat, larutan pereaksi asam sulfat yang mengandung perak (I) sulfat (Ag2SO4) serta larutan baku kalium hidrogen ftalat. larutan - larutan tersebut disediakan dalam jumlah masing - masing 1000 mL. Jika terdapat gangguan nitrit pada pengujian maka analis perlu menambahkan asam sulfamat ke dalam sampel. 

Langkah pengujian pada metode SNI sama dengan APHA 5220 yang menyarankan untuk adanya perlakuan sebelum uji, dengan catatan jika sampel tidak segera dianalisis setelah pengumpulan dilakukan. Jika dalam waktu 2 jam sampel tidak diuji, maka sampel perlu diasamkan hingga nilai pH dibawah 2 dan disimpan dalam Alat Inkubator pada atau dibawah suhu 6oC. Disebutkan juga bahwa sampel dapat disimpan dengan maksimal durasi 28 hari. Jika hendak diuji, maka sampel yang disimpan perlu dinaikkan suhunya dan diubah nilai pH-nya dengan penambahan larutan basa. Perlakuan kemudian dapat dilanjutkan sesuai dengan prosedur yakni dengan proses destruksi selama 120 menit pada suhu 150oC dengan Alat destruksi COD (COD Digester system), yang dilanjutkan dengan pendinginan serta analisa pada Alat Spektrofotometer atau Alat Kolorimeter pada panjang gelombang 600 nm atau 420 nm. Rangkaian tahapan ini diilustrasikan pada Gambar 1. 

Gambar 1. Rangkaian tahap uji COD dengan Metode Spektrofotometri (A) Reagen COD Komersial, (B) Alat Destruksi COD dan (C) Alat Analisis COD secara Fotometri

Telah dikaji oleh Lestari, dkk (2023), bahwa metode spektrofotometri memiliki tingkat presisi yang lebih tinggi dengan nilai 1.55% dibandingkan metode titrimetri yang memiliki tingkat presisi 1.77%. Hasil tersebut didapat berdasarkan uji statistika data menggunakan uji T. Berdasarkan hasil lapangan pun, metode spektrofotometri lebih banyak dipilih karena banyak keunggulan dibandingkan metode titrimetri. Salah satunya telah disebutkan diatas bahwa metode ini lebih presisi. Metode spektrofotometri juga memiliki beberapa kelebihan lainnya dibandingkan metode titrimetri, kelebihan tersebut antara lain :  

  1. Lebih praktis dan cepat untuk dieksekusi, terutama untuk sisi - sisi yang memerlukan tindakan cepat. 

  2. Cukup hemat dari segi cost karena hanya memerlukan reagen dalam skala kecil (± 4 mL) dalam setiap sampelnya. 

  3. Mendukung program Green Industry untuk meminimalisir limbah.

  4. Memiliki sensitivitas yang tinggi

  5. Hasil pengukuran yang stabil

 

Keunggulan - keunggulan yang telah disebutkan diatas menjadikan metode spektrofotometri lebih banyak diminati oleh pelaku industri. Bahkan dewasa ini telah tersedia Alat Spektrofotometer yang bersifat ‘Handy’ (mudah dalam mobilisasi) yakni berupa Alat Spektrofotometer Portable dan Alat Kolorimeter, sehingga uji COD dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Tidak hanya itu, reagen komersial COD pun telah tersedia sesuai dengan estimasi rentang nilai COD pada sampel yang hendak diuji. Hal ini tentunya menjadi jalur strategis yang dapat dipilih oleh para pelaku industri untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dan efisien dari segi performa, waktu dan juga biaya (cost)

 

Referensi : 

American Public Health Associations, American water Works Association, Water Environment Federation. 2023. Standard Methods For The Examination of Water and Wastewater Treatments 24th Edition. Washington DC : APHA Press

American Society for Testing and Materials. 2020. ASTM D1252-06 (Reapproved 2020) : Standard Test Methods For Chemical Oxygen Demand (Dichromate Oxygen Demand) of Water. West Conshohocken : ASTM International

Badan Standardisasi Nasional. 2019. Standar Nasional Indonesia Nomor 6989 Bagian 2 Tahun 2019 tentang ‘Air dan Air Limbah - Bagian 2 : Cara Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand/ COD) dengan refluks tertutup secara spektrofotometri

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang "Baku Mutu Air Limbah"

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor  P.68/Menlhk-Setjen/2016 tentang “Baku Mutu Air Limbah Domestik”

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. 2019. Peraturan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019 tentang “Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah”

Lestari, Ida., dkk. 2023. Komparasi Metode Titrimetri Dengan Spektrofotometri UV-Vis pada Analisis Chemical Oxygen Demand (COD) Output IPAL Domestik Berdasarkan Linieritas, Akurasi dan Presisi, Jurnal Sains Teknologi & Lingkungan, Vol. 9 No. 4, Hal: 592-602

Previous Article

Metode Respirometrik untuk Pengujian Nilai BOD5 Air Limbah Industri Cat

Monday, 05 May 2025
VIEW DETAILS

Next Article

Cara Uji Kadar Abu Kertas, Karton dan Pulp

Monday, 19 May 2025
VIEW DETAILS