| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 364080 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Oven dan inkubator merupakan instrumen yang menunjang fungsi laboratorium. Bila dilihat sekilas, kedua alat ini memang terlihat sama dan memiliki fungsi yang sama yakni untuk memanaskan. Namun, tahukah Anda bahwa suhu yang dapat dicapai inkubator lebih rendah dibandingkan suhu yang mampu dicapai oleh oven? Ditinjau dari segi sistem, keduanya memiliki tingkat akurasi dan keseragaman suhu yang berbeda. Hal inilah yang menyebabkan keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak bisa ditukar satu sama lain. Inkubator berfungsi untuk menginkubasi sampel, sedangkan oven berfungsi dalam proses pengeringan sampel pada suhu tinggi. Lebih detailnya terkait perbedaan kedua alat tersebut akan dijelaskan dalam artikel ini.
Oven merupakan alat yang sering digunakan untuk analisa gravimetri atau untuk menghilangkan kadar air ataupun kebutuhan pengeringan dari suatu material. Biasanya range suhu alat ini bisa mencapai 300oC hingga 500oC. Oven pun dibagi dalam beberapa kelasnya berdasarkan ASTM. Tentunya klasifikasi ini bergantung pada material bahan yang digunakan, range suhu, hingga jenis aplikasi terapannya. Tidak hanya itu, tipe oven pun dibagi berdasarkan sumber dan sistem yang menyertainya. Beberapa jenis oven yang terdapat di pasaran yakni oven dengan udara alami (natural air oven), oven udara bertekanan (forced air oven / oven with fan) dan oven yang dilengkapi dengan vakum (vacuum oven).

Gambar 1. Tipe Oven Berdasarkan Aplikasi Penerapannya
Pada aplikasinya, forced air oven memiliki fungsi yang sama dengan oven udara alami, yakni untuk aplikasi pengeringan dan pemanasan secara umum. Namun, distribusi suhu pada forced air oven akan lebih cepat sehingga proses pencapaian suhu target pun akan lebih cepat jika dibandingkan dengan oven dengan udara alami. Lain halnya dengan vakum oven, oven jenis ini diperuntukkan untuk sampel - sampel yang sensitif terhadap panas. Cara kerjanya adalah dengan mengkondisikan chamber pada tekanan tertentu yang memungkinkan air dalam sampel menguap pada suhu yang rendah.
Gambar 2. Ilustrasi Aliran udara dalam Chamber Oven
Alat Inkubator
Inkubator merupakan alat yang digunakan untuk menginkubasi atau menyimpan sampel - sampel pada suhu tertentu untuk tujuan tertentu. Biasanya, alat ini digunakan sebagai perangkat untuk menginkubasi sampel sampel eksperimen dalam mikrobiologi, sampel sel biologi, kultur bakteri ataupun jaringan serta kebutuhan biologi molekuler. Maksimum range suhu inkubator biasanya cenderung rendah, yakni 80oC atau 100oC. Beberapa inkubator pun dilengkapi dengan modul penggunaan gas inert seperti karbon dioksida (CO2) dan nitrogen (N2) guna untuk mengkondisikan sampel pada keadaan anaerob, sedangkan penggunaan gas oksigen (O2) diperuntukkan untuk pengkondisian sampel secara aerobik. Disamping itu, untuk mengisolasi chamber analisa dan mencegah terjadinya kontak langsung antara sampel dengan lingkungan sekitar, inkubator umumnya dibekali dengan 2 pintu, yakni pintu bagian luar yang terbuat dari stainless steel serta pintu bagian dalam yang terbuat dari kaca. Untuk tipe inkubator umum, analis dapat memilih antara inkubator dengan udara alami atau yang dilengkapi oleh kipas (forced air incubator).
Pada aplikasi tertentu, inkubator juga sering dibekali dengan fitur tambahan seperti pencahayaan interior dan modul pengatur kelembaban chamber. Penambahan lampu ini biasanya diperuntukkan untuk observasi kultur yang diinkubasi sehingga pemantauan dapat dilakukan tanpa membuka pintu kaca. Dalam kasus inkubasi dingin, biasanya dibutuhkan alat inkubator yang dibekali dengan sistem pendingin. Elemen pendingin ini dapat berupa elemen Peltier ataupun kompresor.

Gambar 3. Tampilan Alat Inkubator
Seperti yang telah dijelaskan pada pemaparan materi diatas bahwa perbedaan alat inkubator dan oven terdapat pada range suhu dan keseragaman suhu dalam chambernya. Perbedaan dari keduanya dirangkum pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Spesifikasi Alat Oven dan Inkubator
| Parameter | Alat Oven | Alat Inkubator |
| Aplikasi | Untuk pengeringan sampel/ uji gravimetri | Untuk menumbuhkan dan menyimpan mikroorganisme, kulturisasi jaringan dan keperluan inkubasi lainnya yang berbasis bidang biologi dan mikrobiologi |
| Range Suhu | Mencapai > 300oC | <100oC |
| Keseragaman Suhu | 2oC | 0.1 - 0.5oC |
| Fitur Pembeda | - | Adanya pintu kaca bagian dalam |
Proses pemanasan dalam alat oven berlangsung jauh lebih cepat ketika panas diaplikasikan pada chamber. Pemanasan pada inkubator cenderung lebih lambat karena sistem insulasi yang ada dalam alat. Dilain sisi pemanasan yang terjadi pada sistem oven cukup cepat dimana kenaikannya berkisar 2 - 9oC/menit. Pemanasan dengan kecepatan (rate) yang cukup cepat hanya dapat diterapkan pada pemanasan kasar dengan suhu cukup tinggi. Hal ini karena sistem dalam oven melakukan adjustment dengan cepat terhadap suhu, dimana pemanasan dimulai dengan kuat oleh sistem dan berangsur melambat jika mendekati suhu yang ditargetkan. Pada inkubator, pemanasan cenderung lebih stabil dengan kecepatan pemanasan chamber yang lebih rendah sehingga pemanasan yang terjadi dalam chamber inkubator lebih lunak dibandingkan pemanasan yang terjadi pada chamber oven.
Perbedaan kecepatan pemanasan inilah yang mempengaruhi alat dalam segala lini seperti keseragaman dan kestabilan suhu chamber, waktu tercapainya suhu target bahkan aplikasi dari alat. Hal ini menyebabkan oven tidak dapat digunakan untuk kebutuhan inkubasi, begitu pun sebaliknya, inkubator tidak dapat digunakan digunakan untuk pengeringan. Kebutuhan inkubasi membutuhkan sistem yang memiliki kestabilan suhu dan keseragaman suhu yang baik sehingga sampel yang sedang disimpan tidak mengalami kerusakan. Untuk menjaga agar sistem tetap terisolasi dan mudah dipantau tanpa membuat sampel terkontak langsung dengan lingkungan, produsen menambahkan pintu kaca pada alat inkubator. Di lain sisi, kebutuhan inkubasi ataupun penyimpanan biasanya tidak membutuhkan suhu yang tinggi, sehingga rentang suhu alat inkubator didesain se-compact mungkin.
Berbeda dengan inkubasi, aplikasi pengeringan membutuhkan suhu yang cukup tinggi dengan pemanasan kasar. Pemanasan dengan rate yang tinggi sangat berguna pada aplikasi ini, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk tercapainya suhu target. Bahkan dewasa ini terdapat fitur yang dapat langsung membedakan inkubator dan oven secara sistem, yakni adanya fitur sterilisasi otomatis pada alat inkubator (hanya pada tipe tertentu) guna untuk menjaga chamber tetap dalam keadaan bersih dan steril sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya kontaminasi pada sampel.
Referensi
American Standard Test Material. 2022. Standard Test Methods for Forced-Convection Laboratory Ovens for Evaluation of Electrical Insulation, https://www.astm.org/d5374-22.html diakses pada Tanggal 24 November 2023
Badan Standardisasi Nasional 1992. Standar Nasional Indonesia tentang “Cara Uji Makanan dan MInuman”
Memmert Company. 2023. For the protection of cell cultures, bacteria cultures or tissue cultures CO2 Incubator ICO, https://www.memmert.com/products/incubators/co2-incubator/#!filters=%7B%7D diakses pada Tanggal 29 November 2023
Memmert Company. 2023. Incubators, https://www.memmert.com/products/incubators/ diakses pada 24 November 2023
Memmert Company. 2023. Drying Ovens and Heating Ovens, https://www.memmert.com/products/heating-drying-ovens/ diakses pada 24 November 2023