
Air permukaan seperti sungai, danau, waduk, maupun saluran irigasi merupakan sumber daya penting yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari air baku, irigasi, perikanan, hingga kegiatan rekreasi. Namun, aktivitas industri berpotensi menurunkan kualitas air apabila limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik. Salah satu parameter yang paling mudah diamati sebagai indikasi penurunan kualitas air adalah kekeruhan (turbidity). Kekeruhan menggambarkan tingkat kejernihan air akibat adanya partikel tersuspensi seperti lumpur, tanah, bahan organik, mikroorganisme, maupun partikel anorganik. Meningkatnya kekeruhan sering menjadi indikasi adanya pencemaran, termasuk akibat pembuangan limbah industri, erosi lahan, maupun aktivitas konstruksi di sekitar badan air. Oleh karena itu, pengujian kekeruhan menjadi bagian penting dalam program pemantauan kualitas air lingkungan.
Apa Itu Kekeruhan Air?
Kekeruhan adalah sifat optik air yang disebabkan oleh partikel-partikel halus yang menghamburkan cahaya ketika melewati sampel. Semakin banyak partikel tersuspensi dalam air, semakin tinggi nilai kekeruhannya. Parameter ini umumnya dinyatakan dalam satuan NTU (Nephelometric Turbidity Unit), yang diperoleh melalui pengukuran intensitas cahaya yang dipantulkan atau dihamburkan oleh partikel di dalam sampel.
Meskipun air yang keruh belum tentu mengandung zat berbahaya, tingkat kekeruhan yang tinggi dapat menjadi indikator adanya pencemaran dan memerlukan pengujian lanjutan terhadap parameter lain seperti Total Suspended Solids (TSS), Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), logam berat, maupun parameter mikrobiologi.
Pentingnya Uji Kekeruhan
Pengujian kekeruhan memberikan informasi awal mengenai kondisi kualitas air sehingga dapat digunakan sebagai parameter pemantauan rutin di lingkungan industri maupun kawasan sekitar.
Beberapa manfaat pengujian kekeruhan antara lain:
Metode Pengukuran Kekeruhan
Pengujian kekeruhan air permukaan pada lingkungan yang terdampak limbah industri dilakukan dengan metode yang terstandar untuk memastikan hasil pengukuran akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia, metode pengujian kekeruhan air dan air limbah dapat mengacu pada SNI 6989.25:2019 tentang Air dan Air Limbah – Bagian 25: Cara Uji Kekeruhan dengan Metode Nefelometri. Metode ini didasarkan pada pengukuran intensitas cahaya yang dihamburkan oleh partikel tersuspensi di dalam sampel, dengan hasil pengukuran dinyatakan dalam NTU (Nephelometric Turbidity Unit).
Pada penerapannya, pengujian dilakukan menggunakan turbidimeter yang telah dikalibrasi menggunakan standar kekeruhan yang sesuai. Sampel ditempatkan pada kuvet pengukuran, kemudian instrumen mengukur cahaya yang dihamburkan oleh partikel dalam sampel. Semakin tinggi konsentrasi partikel tersuspensi yang menyebabkan hamburan cahaya, semakin tinggi pula nilai kekeruhan yang terukur. Selain SNI 6989.25:2019, metode nefelometri juga digunakan dalam USEPA Method 180.1 – Determination of Turbidity by Nephelometry dan tercantum dalam Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater.
Metode ini memberikan hasil pengukuran secara cepat, objektif, dan memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga sesuai digunakan untuk pemantauan kualitas air. Pengukuran yang di lakukan di laboratorium dapat menggunakan turbidimeter model benchtop dan di lapangan dapat menggunakan turbidimeter model portable. Untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat dan dapat dipercaya, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:
Gunakan kuvet sampel yang bebas goresan karena dapat memengaruhi hamburan cahaya.

Gambar 1. Turbidimeter model benchtop dan Turbidimeter model portable
Kekeruhan merupakan salah satu parameter fisik yang penting dalam evaluasi kualitas air permukaan, terutama pada lingkungan yang berpotensi terdampak limbah industri. Peningkatan nilai kekeruhan dapat menjadi indikasi adanya peningkatan padatan tersuspensi maupun pencemaran yang memerlukan investigasi lebih lanjut.
Melalui pengukuran menggunakan turbidimeter yang telah dikalibrasi dan penerapan prosedur pengujian yang benar, data kekeruhan dapat digunakan sebagai dasar pemantauan kualitas lingkungan, evaluasi kinerja sistem pengolahan limbah, serta mendukung upaya perlindungan sumber daya air secara berkelanjutan.
Referensi
APHA, AWWA, WEF. 2023. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater. 24th Edition. American Public Health Association, Washington, DC.
Badan Standardisasi Nasional. 2019. SNI 6989.25:2019. Air dan Air Limbah – Bagian 25: Cara Uji Kekeruhan dengan Metode Nefelometri. Jakarta: BSN.
United States Environmental Protection Agency (USEPA). 1993. Method 180.1: Determination of Turbidity by Nephelometry. Revision 2.0.