Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Alarm Praktis untuk Monitoring Suhu Frozen Food

Alarm Praktis untuk Monitoring Suhu Frozen Food

Friday, 03 January 2020

Makanan adalah sumber energi bagi manusia yang mengandung zat – zat seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Makanan disimpan secara beragam yang suhu penyimpanannya bergantung pada sifat dari makanan itu sendiri. Frozen food (makanan beku) adalah salah satu jenis makanan yang harus disimpan secara berkala dalam suhu yang dingin. Umumnya, suhu yang digunakan dibawah 0° C.

World Food Logistics Organization (WFLO) menjelaskan pada manualnya bahwa penyimpanan frozen food haruslah pada suhu - 18° C atau pada suhu yang lebih rendah. Sama halnya dengan WFLO, Standard Nasional Indonesia (SNI) mencantumkan bahwa penyimpanan produk makanan beku seperti ikan, udang dan makanan laut lainnya, daging dan lain sebagainya haruslah pada suhu - 18° C atau lebih rendah. Umumnya penyimpanan ini dilakukan selama kurang lebih 6 bulan atau lebih, tergantung pada karakteristik produk maupun monitoring yang dilakukan saat penyimpanan. Waktu penyimpanan beberapa produk ditunjukkan pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Waktu Penyimpanan Relatif beberapa Produk Frozen Food (WLFO, 2008)

Suhu Penyimpanan (° C)

Jangka Waktu Produk (Bulan)

Ikan tanpa lemak

Ikan berlemak tanpa treatment spesial

Kerang

-5

1 – 3

1 – 2

1 – 3

-10

2 – 6

1 – 3

2 – 6

-15

4 – 12

2 – 5

4 – 12

-20

6 – 20

3 – 8

6 – 20

-25

11 – 40

4 – 12

11 – 40

-30

27 - 70

6 – 18

27 - 70

 

 

Lalu apa yang terjadi jika suhu penyimpanan tidak stabil dan diatas – 18°C?

Hal ini pastilah akan berdampak pada kualitas sampel seperti warna, tekstur dan rasa. Hal ini sangatlah riskan pada produk seperti ikan yang kaya akan protein namun memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi. Suhu yang tidak stabil atau jika suhu diatas– 18°C akan menyebabkan protein yang dikandung akan menurun dan berbau tengik akibat terdegradasinya asam lemak tak jenuh tersebut. Dalam arti yang sama, disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu penyimpanan maka shelf life dari produk akan semakin singkat.

 

Apa yang harus dilakukan?

Pemilihan lemari pembeku (deep freezer) sangatlah penting, lemari pembeku yang digunakan haruslah stabil dan mampu mencapai suhu lebih rendah dari – 18°C. Selain itu, monitoring suhu juga perlu dilakukan agar kualitas dan kesegaran produk terjaga. Cara yang paling mudah adalah meletakkan data logger yang dilengkapi dengan alarm pada deep freezer penyimpan produk. Berikut adalah kriteria data logger yang dapat digunakan :

  1. Data logger harus dapat menyimpan minimal 500 pengukuran.

  2. Data dapat dipindahkan ke komputer dan dicetak.

  3. Logger haruslah dilengkapi dengan ALARM yang dapat diatur batas atas maupun batas bawahnya.

  4. Memiliki sensor internal dan dapat diletakkan langsung pada media penyimpanan.

  5. Dilengkapi dengan display yang mudah dibaca oleh user.

 

Fungsi alarm adalah untuk memberi sinyal pada user bahwa pada konteks ini suhu pada deep freezer tidak sesuai dengan kriteria suhu yang semestinya digunakan. Namun, alarm yang diberikan oleh data logger haruslah sampai pada user sehingga user dapat melakukan tindakan untuk mengembalikan suhu penyimpanan pada suhu yang semestinya. Adapun alarm yang diberikan pada beberapa data logger adalah alarm akustik yang jarang sekali dapat dideteksi oleh user. Solusi dalam permasalahan ini adalah gunakan data Logger dengan Alarm via email, GPRS dan SMS serta dapat koneksikan pada handphone dengan Sistem Operasi android maupun iOS.

Dengan Alarm ini, user akan lebih mudah untuk memonitoring suhu jika sesuatu terjadi, seperti mati listrik, lemari penyimpanan yang tidak tertutup rapat atau bahkan terbuka, terjadi kerusakan pada lemari penyimpanan, dan lain sebagainya. Alarm ini juga memiliki jangkauan jarak yang luas sehingga meski user sudah tidak berada pada lingkup area pabrik atau perusahaan, user tetap mendapatkan notifikasi alarm ini jika terjadi sesuatu.

Alat yang dapat dijadikan referensi dalam aplikasi ini adalah EBI25. EBI25 adalah data logger dengan Brand Ebro (Xylem Group) yang merekam suhu hingga 576 pengukuran. Data logger ini dapat dikoneksikan dengan PC melalui software winlog.wave, winlog.web dan winlog.mobile dengan bantuan interface IF400. Adapun spesifikasi alat EBI25 dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Spesifikasi Alat EBI 25

Parameter

Spesifikasi

Range pengukuran

-30°C – 60°C

Akurasi

± 0.5°C pada -20°C – 40°C

± 0.8°C pada – 30°C – -20°C dan 40°C - 60°C

Sensor

NTC

IP protection

IP67

Dimensi (L x W x H)

95 x 48 x 27 mm

 

Prinsip kerja data logger EBI25 adalah dengan pemancaran gelombang radio oleh data logger yang ditangkap oleh interface. Data logger yang dapat dikoneksikan dengan interface dalam waktu bersamaan mencapai 50 data logger. Jangkauan pembacaan untuk data logger sangat luas yaitu mencapai 500 m*. Jangkauan yang luas ini memungkinkan data logger untuk dipakai tidak hanya pada deep freezer (lemari penyimpanan), namun juga dapat digunakan pada aplikasi pengiriman frozen food (cold chain), monitoring suhu ruangan maupun monitoring chamber besar.

Gambar 1. Skema Alat data logger EBI25

 

Referensi :

  1. SNI Ikan beku Sni 4110 : 2014 https://kupdf.net/download/sni-4110-2014-ikan-beku_5af7bea4e2b6f5fa1b297caa_pdf

  2. World Food Logistics Organization (WFLO). 2008. Frozen Foods : Handling and Storage.

Previous Article

Penentuan Gelatin pada Kertas

Monday, 30 December 2019
VIEW DETAILS

Next Article

Refraktometer dalam Lab Uji Pangan

Friday, 10 January 2020
VIEW DETAILS