Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364624{main}( ).../news-detail.php:0
Analisa Termogravimetri pada Pengujian Laboratorium

Analisa Termogravimetri pada Pengujian Laboratorium

Thursday, 17 August 2023

Apa elemen kritis pada analisa termogravimetri (thermogravimetry)? Analisa termogravimetri merupakan metode yang paling lazim digunakan pada uji laboratorium dalam berbagai aplikasi. Bahkan, metode ini juga sering digunakan sebagai gerbang utama verifikasi kualitas bahan baku yang masuk. Beberapa metode standar pun merekomendasikan metode ini sebagai pilihan utama, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), American Public Health Association (APHA), American Standard Test Material (ASTM), serta  Association of Official Analytical Chemists (AOAC). Dua kunci utama pada analisa ini adalah suhu dan waktu, yang mana kedua parameter ini amat sangat erat kaitannya dengan instrumentasi. Oleh karena itu, pelaku industri diwajibkan untuk mempertimbangkan instrumen penunjang yang tepat untuk kedua variabel ini. 

Metode termogravimetri merupakan cabang dari metode gravimetri yang menggunakan pemanasan sebagai medium perlakuannya. Metode ini berprinsip pada pengukuran dan perbandingan antara bobot sebelum dan setelah perlakuan diaplikasikan. Metode ini pun dilakukan dengan cara menimbang bobot sampel dan memanaskan sejumlah sampel dengan menggunakan instrumen pemanas pada suhu tertentu selama durasi waktu tertentu. Setelah perlakuan diberikan, sampel kemudian didinginkan dalam desikator dan diukur bobotnya setelah suhunya mencapai suhu ruang.

Rangkaian alat yang umumnya digunakan untuk metode ini adalah neraca analitik, oven ataupun tanur listrik (furnace), serta desikator yang berisikan padatan desikan. Selain rangkaian ini, instrumen lain pun juga dapat digunakan untuk penentuan bobot dalam metode thermogravimetri, yakni alat moisture analyzer yang dikenal juga dengan sebutan moisture balance. Hanya saja, penggunaan alat - alat ini bergantung pada tujuan dan karakteristik sampel yang hendak dianalisa. Metode standar tertentu pun bahkan mencantumkan kriteria khusus terhadap alat yang semestinya digunakan untuk mengaplikasikan metode tersebut. Beberapa aplikasi dari analisa termogravimetri beserta kriteria alat yang digunakannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
 

Analisa Termogravimetri pada Aplikasi Air dan Air Limbah

Ruang lingkup air dan air limbah pun beragam, dalam konteks ini air bersih pun mewakili beberapa jenis air berdasarkan aplikasinya, seperti air irigasi, air untuk budidaya, air untuk sanitasi dan lain sebagainya. Terdapat 3 parameter analisa dalam ruang lingkup ini yang dapat menggunakan prinsip termogravimetri, yaitu total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS), total padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS) serta kadar minyak dan lemak (oil and grease). 

1. Total Padatan Terlarut/ Total Dissolved Solids (TDS)

Setiap tipe air memiliki karakteristiknya masing - masing yang menjadikannya spesifik untuk setiap aplikasi. Disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 pada Lampiran VI, bahwa total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) merupakan salah satu parameter wajib ukur untuk air sungai dan danau yang hendak digunakan untuk sanitasi, sumber air minum, sumber irigasi, pembudidayaan ikan, peternakan, rekreasi dan lain sebagainya. Tercantum dalam PP tersebut bahwa nilai kadar TDS air tidak diperbolehkan melebihi 1000 mg/L. 

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 06-6989 Bagian 27 Tahun 2005 yang mengacu pada Standard Methods for The Examination of Water and Wastewater Nomor 2540, total padatan terlarut/ total dissolved solids (TDS) dapat diukur dengan cara termogravimetri. Dalam metode standar tersebut, direkomendasikan untuk menggunakan alat oven yang dapat beroperasi pada suhu 180°C dengan nilai akurasi  ± 2°C, serta neraca analitik yang dapat mengukur bobot kecil sebesar 10 mg. Tanur listrik (furnace), apparatus penyaring (filter set) dan penangas air pun digunakan sebagai instrumentasi tambahan. 

Dalam hal ini, sampel disaring terlebih dahulu menggunakan kertas saring bebas abu yang dilengkapi dengan aparatus penyaring dengan pompa, hasil saringan kemudian ditempatkan pada cawan dan dipanaskan pada suhu 180 ± 2°C selama 1 jam. Namun jika sampel juga hendak diukur nilai padatan total terlarut yang menguapnya, maka sampel harus dipanaskan pada suhu 550°C selama 15 menit. Sampel kemudian didinginkan dalam desikator dan diukur bobotnya, hasil TDS kemudian dihitung menggunakan rumus berikut:

Dengan :

A1 adalah bobot tetap cawan kosong setelah pemanasan pada 180oC (gram); dan 

B adalah bobot tetap cawan berisikan sampel yang telah dipanaskan pada 180oC (gram).

 

Sekarang ini, pengukuran total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) dapat dilakukan dengan menggunakan perantara pengukuran nilai konduktivitas. Namun, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Rusydi (2017), nilai TDS yang terukur ini hanya bersifat sebagai angka kisaran atau estimasi saja, jika analis hendak mendapatkan hasil yang lebih presisi, maka analis perlu melakukan analisa TDS dengan metode termogravimetri di laboratorium. 

2. Total Padatan Tersuspensi/ Total Suspended Solids (TSS)

Tidak berbeda jauh dengan pengujian total padatan terlarut, parameter total padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS) pun dilakukan dengan cara gravimetri. Hanya saja, jenis kertas saring dan suhu yang digunakan sedikit berbeda. Sampel disaring dengan micro-glass filter set dengan ukuran porositas membran berkisar pada 0.7 hingga 1.5 µm. Dalam tahap analisanya, dibutuhkan oven yang dapat mencapai suhu 103 - 105°C  dan timbangan analitik dengan ketelitian pembacaan hingga 0.1 mg. 

Kemajuan teknologi membuat penentuan total padatan tersuspensi tidak hanya dapat dilakukan dengan metode gravimetri, melainkan dengan menggunakan alat probe portable, kolorimeter ataupun spektrofotometer. Namun, penggunaaan alat - alat tersebut tetap membutuhkan nilai dari metode gravimetri sebagai nilai verifikasi dan validasinya. Hal inilah yang membuat metode gravimetri masih amat sangat relevan untuk diaplikasikan sebagai metode penetapan nilai TSS pada sampel air dan air limbah.

3. Kadar Minyak dan Lemak (Oil and Grease)

Pada kedua parameter ini, uji gravimetri digunakan setelah proses ekstraksi dilakukan. Mengacu pada APHA 5520, sampel yang telah diberi perlakuan perlu dikeringkan pada alat oven yang dapat dikondisikan suhunya pada suhu 103 - 105°C untuk APHA 5520D (metode sokletasi - gravimetri) atau 150°C untuk APHA 5520E (metode ekstraksi pada sampel lumpur).

 

Analisa Termogravimetri untuk Uji Kadar Air pada Sampel

Analisa kadar air merupakan kunci utama dalam penentuan kualitas produk jadi (finished product) ataupun bahan baku (raw material). Hal ini karena kadar air akan menentukan tekstur dan kadar suatu material pada suatu produk. Tabel 1 menunjukkan kadar air dan total padatan pada berbagai produk serta metode yang tepat untuk pengujiannya.

Tabel 1. Nilai Kadar Air Beberapa produk serta Metode Pengujiannya

 

Dari metode - metode yang tertulis pada Tabel 1, pengujian kadar air dilakukan dengan menggunakan medium pemanas atau pengering yang disebut sebagai oven. Adapun jenis oven secara umum yang sekarang ini beredar di pasaran yakni oven dengan udara alami (natural air oven), oven dengan tekanan udara (forced air oven) dan oven yang disertai dengan vakum (vacuum oven). Ketiga jenis oven ini memiliki fungsi dan aplikasinya masing - masing. Meskipun tipe oven dengan udara alami (natural air oven) adalah tipe yang paling sering digunakan oleh para pelaku industri, namun terkhusus untuk beberapa jenis sampel penggunaannya justru kurang optimal.

Tipe oven dengan udara alami (natural air oven) dapat digunakan untuk aplikasi umum seperti untuk pengeringan, analisa kadar air pada sampel - sampel yang bersifat umum seperti sampel makanan padat ataupun sampel residu air dan air limbah dan  berbagai jenis sampel lainnya. Sama seperti natural air oven, forced air oven juga digunakan untuk aplikasi umum. Distribusi dan stabilisasi suhu yang lebih cepat pada forced air oven menjadikan durasi pengeringan ataupun pemanasan yang diberikan lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan natural air oven. Namun, untuk sampel yang bersifat sensitif terhadap suhu dan sulit untuk dikeringkan, penggunaan vakum oven (vacuum oven) lebih disarankan. 

Pada alat vakum oven (vacuum oven), pengubahan tekanan dalam sistem terisolasi membuat air yang ada pada sampel menguap lebih cepat dengan suhu yang lebih rendah sehingga hal ini dapat mempertahankan tampilan sampel. Studi perbandingan penggunaan oven ini pernah dilakukan oleh Nielsen (2017) pada beberapa contoh sampel pada pengukuran kadar air, bahwa beberapa sampel lebih cocok menggunakan vakum oven dibandingkan forced air oven. Beberapa contoh sampelnya yakni, sampel susu cair, sampel yang berbentuk bubuk dan sampel yang memiliki kadar karbohidrat cukup tinggi. Untuk aplikasi ini, tetap direkomendasikan neraca analitik sebagai alat pengukur bobot.

 

Gravimetri Sebagai Salah Satu Teknik pada Uji Proksimat

Pada uji proksimat, analisa gravimetri memiliki peran penting pada penetapan kadar lemak dan serat. Meskipun hampir 80% proses dari pengujian lemak dan serat bergantung pada tahap ekstraksi, namun analisa gravimetri tetap memiliki peran kritis dalam penentuan kadar dari kedua parameter ini. Dalam hal ini, pemilihan suhu dan durasi waktu pemanasan juga memainkan peran penting terhadap hasil yang didapatkan. Umumnya, suhu yang digunakan untuk proses pengeringan berkisar pada 103 - 110°C dengan durasi waktu berkisar 30 - 60 menit. Namun durasi ini tetap harus disesuaikan dengan karakteristik sampel yang hendak diuji.

Berdasarkan SNI 2891 Tahun 1992 terkait “Cara Uji Makanan dan Minuman”, tidak ada spesifikasi khusus terkait jenis oven yang digunakan, sehingga dapat digunakan oven tipe umum seperti natural air oven ataupun forced air oven. Pada pengukuran bobotnya, penggunaan neraca analitik tetap disarankan untuk aplikasi ini.

 
Gambar 2. Contoh Tampilan Oven dengan Tipe (a) Natural Air, (b) Forced Air ,dan c) Vakum
 
 
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa aplikasi analisa termogravimetri mencakup sampel air dan air limbah, makanan dan minuman, produk susu dan olahannya, minyak, polimer dan lain sebagainya. Dari segi alat, beberapa metode standar memang tidak menyebutkan spesifikasi khusus lainnya selain range suhu dan range bobot, namun ada baiknya bahwa tipe oven dan neraca analitik yang digunakan sudah dilengkapi dengan display digital. Selain itu, ada baiknya jika alat oven juga memiliki mode dan display waktu (timer) secara digital, tipe sensor suhu Pt100 dan terintegrasi dengan software yang memudahkan analis dalam monitoring analisa serta membuat laporan sesuai dengan GLP (Good Laboratory Practice).
 

Referensi 

Rusydi, Anna F. 2017. Correlation Between Conductivity and Total Dissolved Solid in Various type of Water: A review, IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 118 (2018)

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2005. Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 6989 tentang “Air dan Air Limbah - Bagian 26 : Cara Uji Padatan Total secara Gravimetri”

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2005. Standar Nasional Indonesia Nomor 06.6989 tentang “Air dan Air Limbah Bagian 27 : Cara Uji Kadar Padatan Terlarut Total secara Gravimetri”

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2002. Standar Nasional Indonesia Nomor 01-6683 tentang "Naget Ayam (Chicken Nugget)"

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2014. Standar Nasional Indonesia Nomor 01-6683 tentang "Naget Ayam (Chicken Nugget)"

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2015. Standar Nasional Indonesia Nomor 3820 tentang "Sosis Daging"

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2015. Standar Nasional Indonesia Nomor 8173 tentang "Pakan Ayam Ras Pedaging (broiler) - Bagian 3 : Masa Akhir (Finisher)"

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2018. Standar Nasional Indonesia Nomor 8418 tentang "Minuman Susu"

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2009. Standar Nasional Indonesia Nomor 7549 tentang "Pakan Buatan Untuk Udang Vaname (Penaeus vannamei)"

Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2019. Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 6989 tentang “Air dan Air Limbah - Bagian 3 : Cara Uji Padatan Tersuspensi Total (Total Suspended Solid/ TSS) secara Gravimetri”

Nielsen, S.Suzanne. 2017. Chapter 10 : Moisture Content Determination from Food Science Text Series. West Lafayette : Department of Food Science of Purdue University 

Presiden Republik Indonesia. 2021. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lampiran VI terkait “Baku Mutu Air Nasional”

Previous Article

INKUBASI STEM CELL

Friday, 11 August 2023
VIEW DETAILS

Next Article

Metode Kjeldahl Untuk Uji Nitrogen Pada Batu Bara

Wednesday, 23 August 2023
VIEW DETAILS