Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Analisis Coliform pada Air Limbah

Analisis Coliform pada Air Limbah

Monday, 11 May 2020

Tahukah Anda pentingnya analisis Coliform pada pengolahan air limbah? Salah satu pengontrolan kualitas air limbah secara biologis yang penting untuk dilakukan yaitu dengan menganalisis keberadaan Coliform, guna memastikan bahwa air limbah yang dibuang ke lingkungan tidak tercemar oleh bakteri Coliform. Berdasarkan hasil penelitian, bakteri Coliform dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan gastroenteritis. Zat etionin yang dihasilkan oleh bakteri Coliform juga dapat menyebabkan kanker. Analisis Coliform pada air limbah dapat dilakukan dengan dua metode pengujian yaitu Most Probable Number (MPN) dan Milipore membran-Filter. Sesuai dengan standard baku mutu air limbah domestik yang diatur dalam P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 untuk kadar maksimum total Coliform adalah 3000 jumlah/100 mL. Oleh karena itu, pengolahan dan pengontrolan kualitas air limbah sangat penting untuk dilakukan.    

Air limbah yang berasal dari rumah tangga, perdagangan, perkantoran, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, biasanya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan/kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan hidup jika dibuang secara langsung ke lingkungan sekitar. Pemantauan kualitas air pada saluran pembuangan limbah domestik, industri dan badan air penerima limbah industri pada dasarnya memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Mengetahui karakteristik kualitas limbah cair yang dihasilkan
  2. Membandingkan kualitas limbah cair dengan baku mutu kualitas limbah domestik, industri, dan menentukan beban pencemaran menurut Kep.No.51/MEN-LH/10/1995 dan P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016
  3. Menilai efektivitas instalasi pengolahan limbah domestik dan industri yang dioperasikan
  4. Memprediksi pengaruh yang mungkin ditimbulkan oleh limbah cair tersebut terhadap komponen lingkungan lainnya.

Oleh karena itu, pembuangan air limbah, baik itu air limbah domestik maupun industri perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan.

 

Pengolahan Air Limbah

Pengolahan air limbah bertujuan untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Sistem pengolahan air terdiri atas beberapa proses sebagai berikut.

  • Sistem pengumpulan (Collection system)

Sistem pengumpulan saluran air limbah akan mengalirkan air limbah domestik dan industrial yang melalui serangkaian saluran perumahan, perkantoran, dan lokasi industri ke fasilitas pengolahan air limbah untuk pemrosesan dan pembuangan.

  • Pengolahan Primer (Primary treatment)

Pengolahan primer (Primary treatment) terdiri dari penyaringan dan penghilangan kotoran pada air limbah yang akan diproses. Skrining adalah proses membuang sampah, kain, dan puing-puing lainnya dengan melewatkan air melalui layar mekanis atau drum yang berputar. Partikel padatan anorganik seperti kerikil dan pasir dihilangkan dengan mengurangi kecepatan air limbah sehingga partikel padatan anorganik tersebut dapat mengendap ke dasar dan dihilangkan melalui gravitasi. Kerikil dan pasir disaring dan dicuci, kemudian ditimbun/dipadatkan sebelum dikumpulkan di tempat sampah. pengolahan primer ini sangat penting untuk fasilitas pemulihan sumber daya air modern, karena partikel padatan dan puing-puing dapat merusak proses solid handling termasuk mekanisme penjernih primer, penyemprot aerasi, dan membran.

Selama pengolahan primer, proses ini memungkinkan padatan anorganik mengendap melalui gravitasi, sementara lemak dan minyak akan mengapung ke permukaan. Padatan padat disebut sebagai lumpur primer, dan sering kali mengental dalam proses thickening pada solids handling sebelum disalurkan ke digester anaerob. Sedangkan lemak dan minyak yang mengapung dikumpulkan dari permukaan dan biasanya ditambahkan langsung ke digester anaerob. Proses primary treatment akan menghilangkan sekitar 70% dari padatan dan 45% Biochemical Oxygen Demand (BOD) dari air limbah yang disaring.

  • Pengolahan Sekunder (Secondary treatment)

Pengolahan sekunder (Secondary treatment) akan menghilangkan bahan organik terlarut, nutrisi seperti nitrogen dan fosfor, dan sebagian besar padatan tersuspensi yang lolos dari pengolahan primer. Tahap pengolahan ini merupakan proses secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.

Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (ponds/ lagoons treatment).

Apabila air limbah telah melalui secondary treatment, maka air limbah yang telah diolah dapat dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan.

  • Pengolahan Tersier (Tertiary treatment)

Pengolahan tersier (Tertiary treatment) dilakukan jika setelah primary dan secondary treatment masih terdapat zat tertentu dalam air limbah yang dapat berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat. Umumnya zat yang tidak dapat dihilangkan adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam-garaman.

Pengolahan tersier meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacuum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.

  • Desinfeksi (Disinfection) 

Desinfeksi (disinfection) atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Mekanisme disinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Beberapa metode desinfeksi seperti penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet (UV), atau dengan ozon (O3).

Proses desinfeksi umumnya merupakan proses akhir dari pengolahan air limbah sebelum air limbah yang telah diolah dibuang ke lingkungan. Namun hal ini juga perlu dilakukan pengontrolan apakah air limbah yang telah dibuang telah memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup. Dengan demikian, salah satu parameter yang penting untuk dianalisis adalah total Coliform pada air limbah.

 

Analisis Coliform pada Air Limbah

Bakteri Coliform merupakan golongan mikroorganisme yang umumnya digunakan sebagai indikator, yang mana bakteri ini dapat menjadi sinyal atau penanda untuk menentukan bahwa air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak, karena densitasnya  berbanding  lurus  dengan  tingkat pencemaran air. Bakteri ini dapat mendeteksi patogen pada air seperti virus, protozoa, dan parasit. Selain itu, bakteri ini juga memiliki daya tahan yang lebih tinggi daripada patogen serta lebih mudah diisolasi dan ditumbuhkan. Ciri-ciri bakteri Coliform antara lain bersifat aerob atau anaerob fakultatif, termasuk ke dalam bakteri gram negatif, tidak membentuk spora, dan dapat memfermentasi laktosa untuk menghasilkan asam dan gas pada suhu 35 – 37 °C. Contoh bakteri  Coliform  antara  lain Escherichia coli,  Salmonella spp.,  Citrobacter,  Entherobacter, dan  Klebsiella.

Bakteri Coliform dapat di bedakan menjadi dua golongan yaitu bakteri Coliform golongan fekal, misalnya E. coli dan bakteri Coliform golongan non fekal, misalnya E. aerogenes. E. coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan maupun manusia, sedangkan E.aerogenes biasanya di temukan pada hewan atau tanaman-tanaman yang telah mati. Coliform fekal (disebut juga; coliform feses atau fecal coliform) adalah, bakteri fakultatif-anaerob berbentuk batang, gram negatif, dan non-sporulasi. Coliform fekal mampu tumbuh dan menghasilkan asam dan gas dari laktosa dalam waktu 48 jam pada 44 ± 0,5 ºC.

Adapun cara pengujian Coliform pada limbah adalah sebagai berikut:

 1. Most Probable Number (MPN) Coliform

Pengujian Coliform pada limbah dengan metode Most Probable Number (MPN) terdiri dari uji presumtif (penduga) dan uji konfirmasi (peneguhan). Pengujian MPN Coliform diawali dengan membuat pengenceran terhadap sampel limbah dengan menggunakan dilution water, kemudian hasil pengenceran ditumbuhkan dengan menggunakan Lauryl Tryptose Broth sebagai media tumbuh dan diinkubasi pada suhu 35 ± 0,5 ⁰C selama 24 ± 2 jam. Setelah itu, dilakukan uji konfirmasi total Coliform dengan menggunakan Brilliant Green Bile Broth sebagai media tumbuh dan diinkubasi pada suhu 35 ± 0,5 ⁰C selama 72 ± 5 jam. Sedangkan uji konfirmasi terhadap Coliform fekal dilakukan dengan menggunakan EC medium broth sebagai media tumbuh dan diinkubasikan pada suhu 44,5 ± 0,2 ⁰C selama 24 jam. Selanjutnya pengamatan tabung positif Coliform dapat dilihat dengan adanya gas di dalam tabung.

2. Milipore membran-Filter

Pengujian Coliform pada limbah dengan metode milipore membran-filter juga terdiri dari uji-uji presumtif (penduga) dan uji konfirmasi (peneguhan). Pengujian Coliform dengan metode membrane-filter dilakukan dengan cara sampel air limbah disaring dengan menggunakan kertas membran filter, kemudian membran diberikan media tumbuh m-Endo broth dan diinkubasi pada suhu 35 ± 0,5 °C selama 22 - 24 jam. Setelah itu, dilakukan pengamatan koloni Coliform dibawah mikroskop. Setelah ditemukannya terdapat koloni Coliform, maka selanjutnya dilakukan uji konfirmasi seperti pada metode MPN Coliform.

Pengujian Coliform  pada air limbah dengan metode milipore membrane-filtrasi membran relatif lebih cepat. Namun metode ini sebaiknya digunakan untuk sampel air limbah yang tingkat kekeruhannya rendah dan tidak cocok untuk sampel air limbah dengan tingkat kekeruhan tinggi. Selain itu, metode MPN dan milipore membran-filter juga dapat digunakan pada pengujian sampel air minum, air kran, air kolam, air sungai, air rekreasi, dan lainnya.

 

Referensi:

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep.No.51/MEN-LH/10/1995. 1995. Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor: P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016. 2016. Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/5099c1d958ba3deb6270dea7d2bc8bf6.pdf

http://nunktralala.blogspot.com/2014/09/metode-tahapan-dan-karakteristik-proses.html

https://sea.hach.com/industries/wastewater

Previous Article

MENGHITUNG KOLONI DENGAN COLONY COUNTER

Wednesday, 06 May 2020
VIEW DETAILS

Next Article

Analisa Total Nitrogen pada Minyak Bumi

Tuesday, 19 May 2020
VIEW DETAILS