Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Monitoring Desinfektan

Monitoring Desinfektan

Thursday, 16 June 2016

        Desinfektan kimia merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi dengan membunuh jasad renik (bakterisid), terutama pada benda mati. Pada proses desinfeksi dapat menghilangkan 70-90% jasad renik.
        Kriteria suatu desinfektan yang ideal adalah bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar, berspektrum luas, aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur, dan kelembaban, tidak toksik pada hewan dan manusia, tidak bersifat korosif, bersifat biodegradable, memiliki kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap, tidak meninggalkan noda, stabil, mudah digunakan, dan ekonomis. (Siswandono, 1995; Butcher and Ulaeto, 2010). desinfektan dapat di golongkan menjadi beberapa 6 kelompok, yaitu :

a. Senyawa turunan aldehid memiliki gugus aldehid (COH) pada struktur kimianya, misalnya formaldehid, paraformaldehid, dan glutaraldehid. Biasanya golongan ini digunakan dalam desinfektan baju, peralatan klinis. Namun senyawa tersebut berpotensi sebagai karsinogenik.

b. Senyawa turunan alkohol bekerja dengan mendenaturasi protein dari sel bakteri dan umumnya dibuat dalam campuran air pada konsentrasi 70% - 90%, misalnya etanol (C2H5OH), isopropanol (C3H7OH), biasanya digunakan sebagai antiseptik kulit dan sebagai pengawet.

c. Senyawa pengoksidasi, contohnya adalah hidrogen peroksida, benzoil peroksida, karbanid peroksida, kalium permanganat, dan natrium perborat. Biasa digunakan sebagai antiseptik dan keratolitik untuk pengobatan jerawat.

d. Fenol, senyawa ini paling aktif sebagai desinfektan, biasanya di gunakan dalam campuran detergen atau sabun

e. Turunan halogen dan halogenofor digunakan sebagai antiseptic dan desinfektan. Klorin dan klorofor terutama digunakan untuk mendesinfeksi air, seperti air minum dan air kolam renang, limbah industry. Contohnya, klorin dioksida, natrium hipoklorit, kalsium hipoklorit, dan triklosan

            Tambahan desinfekatan yang sekarang banyak digunakan adalah Ozone. Ozon (O3) merupakan gas tri atomik, sebuah allotropi oksigen yang dapat ter- bentuk akibat rekombinasi diantara atom-atom oksigen. Ozone merupakan desinfektan yang sangat reaktif dalam menginaktifasi  mikroorganisme, biasanya digunakan sebagai desinfektan pada air minum. Penggunaan desinfektan yang berlebih dapat mengakibatkan pengeluaran budget pada industri yang sangat besar. Selain masalah budget juga masalah dalam hasil samping yang di berikan oleh deinfektan. Contoh klorin ketika digunakan sebagai desinfektan klorin akan membentuk DBP’s (Desinfektan By Products) yang bersifat karsinogenik.

Untuk mengetahui  kemampuan dari desinfektan dilakukan beberapa uji, diantaranya adalah :

a. Uji koefisien fenol

Koefisien fenol merupakan kemampuan suatu desinfektan dalam membunuh bakteri dibandingkan dengan fenol. Uji ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas suatu produk (desinfektan) dengan fenol baku dalam kondisi uji yang sama. Penentuan koefisien fenol adalah untuk mengevaluasi kekuatan anti mikroba suatu desinfektan dengan memperkirakan efektivitasnya berdasarkan konsentrasi dan lamanya kontak terhadap mikroorganisme tertentu.

b. Uji pembawa (carrier test)

Uji pembawa merupakan metode yang telah lama digunakan. Pembawa yang digunakan pada uji ini adalah sutera yang dikontaminasi dengan inokulum mikroorganisme uji. Setelah dikeringkan, pembawa dimasukkan ke dalam larutan desinfektan dengan waktu kontak tertentu, kemudian diinokulasi dalam media pertumbuhan. Tidak adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan kekuatan desinfektan uji (Borneff, et al., 1981; Jiang, et al., 2010).

c.Uji suspensi

Uji suspensi merupakan metode pengujian desinfektan yang paling sederhana. Metode ini dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Uji suspensi secara kualitatif dilakukan dengan mengambil satu sengkelit suspensi mikroorganisme dan dimasukkan ke dalam larutan desinfektan. Suspensi kemudian diinokulasi pada media pertumbuhan. Kekuatan desinfektan ditunjukkan dengan ada tidaknya pertumbuhan mikroorganisme (Reybrouck, 1992; Jiang, et al., 2010).

d. Uji kapasitas

Uji kapasitas adalah metode yang dilakukan untuk mengukur kemampuan desinfektan membunuh mikroorganisme tertentu dengan meningkatkan jumlah mikroorganisme secara bertahap. Kapasitas desinfektan ditentukan berdasarkan jumlah bakteri yang masih mampu dibunuh (Kelsy and Sykes, 1969; Tafti, et al., 2012).

e. Uji praktek

Uji praktek dilakukan dengan mengukur hubungan waktu dan konsentrasi desinfektan terhadap mikroorganisme yang terdapat pada peralatan rumah tangga. Metode ini bertujuan untuk memastikan apakah efektivitas desinfektan memiliki korelasi dengan hasil percobaan laboratorium. Uji ini umumnya digunakan untuk desinfektan permukaan (Reybrouck, 1992b; Jiang et al., 2010).

         Setelah melakukan pengujian kemampuan desinfektan, maka desinfektan siap di alirkan kepada sampel. Namun perlu di lakukan pengontrolan desinfektan yang digunakan untuk mencegah terjadinya kebocoran di sistem atau kekurangan supply desinfektan akibat permasalahan di pipa penghubung atau malah terlalu banyak desinfektan yang digunakan mengakibatkan peningkatan cost produksi pada industri.

            Monitoring kadar desinfekatan tidak hanya di lakukan pada inlet desinfektan namun juga pada proses outlet. Terlebih untuk AMDK desinfektan yang digunakan harus di monitoring secara ketat mengingat sampel yang nanti di konsumsi oleh masyarakat. Proses monitoring desinfektan tidak hanya di lakukan dalam skala laboratorium, namun juga di lakukan dalam skala on-line, sehingga nilai desinfektan dapat di monitoring setiap saat dan sesuai dengan kondisi desinfektan saat itu (tidak ada factor error karena sampling, atau penyimpanan sampel).

            Untuk monitoring secara laboratorium, dapat menggunakan spektrofotometer Vis atau colorimeter. Hach memiliki instrument spektrofotmeter Vis DR 3900, DR 1900 dan colorimeter DR 900. Spektrofotometer Vis DR1900 merupakan spektrofotometer vis portable, dapat menggunakan battery untuk operasionalnya, sehingga memudahkan user untuk menguji sampel di lokasi sampling. Spektrofotometer Hach merupakan “complete best package “ dalam melakukan pengujian kadar deinfektan anda. Tidak hanya menyediakan instrument pengukiran, namun cara kerja yang dilengkapi dengan gambar serta reagent telah tersedia, sehingga user dapat dengan mudah mengoperasikan dan melakukan pengujian.

           Sedangkan untuk monitoring kadar desinfekatan secara On-Line Hach menyediakan instrument CL17 atau CLT 10 untuk memonitoring kadar klorin bebas atau klorin total, sedangkan untuk monitoring kadar Ozone,dapat di ukur dengan menggunakan Orbhisphere O3 sensor. Ketiga alat ini mampu memonitoring kadar desinfektan anda secara terus menerus tanpa ada pre treatment khusus, sehingga kadar desinfektan anda dapat termonitoring dengan akurat.-OR-

HACH CL 17HACH CL 17 Chlorine Free & Total   HACH CLT 20 Chlorine Free&Total


Spektrofotometer Vis DR 3900 Spektrofotometer Vis DR 1900

Colorimeter DR 900

Previous Article

Metode Filtrasi Vakum

Tuesday, 31 May 2016
VIEW DETAILS

Next Article

Instrument Pendukung Metode Pemisahan Secara Evaporasi

Thursday, 30 June 2016
VIEW DETAILS