Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Monitoring Klorin sebagai Desinfektan Limbah Cair Industri

Monitoring Klorin sebagai Desinfektan Limbah Cair Industri

Tuesday, 28 January 2020

Limbah cair adalah bahan-bahan pencemar yang berbentuk cair dan tidak terpakai lagi yang merupakan hasil dari suatu produksi atau kegiatan manusia. Limbah cair yang bersumber dari industri yaitu limbah cair yang berasal dari berbagai jenis industri[3]. Zat-zat maupun mikroorganisme yang terkandung didalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, zat-zat yang terkandung antara lain nitrogen, sulfida, amoniak, lemak, garam-garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Rata-rata industri membuang 85-95% air limbah yang merupakan limbah cair dari jumlah air yang dipergunakan dalam proses produksi. Limbah cair yang tidak diolah tersebut dibuang ke dalam tanah, sungai, danau atau laut jika berlebihan dapat menyebabkan pencemaran, dan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang ada, juga dapat menimbulkan penyakit [4]. Sehingga industri yang akan melakukan pembuangan limbah industri wajib untuk melakukan monitoring ataupun pengolahan terhadap limbah sebelum dilakukan pembuangan.

 

Karakteristik Biologis Limbah Cair dan Pengolahannya

Salah satu karakteristik limbah cair adalah biologis. Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air limbah yang dibuang. Parameter yang biasanya digunakan untuk melihat karakteristik biologis limbah cair adalah banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah, seperti virus, bakteri dan mikroorganisme lainnya [4]. Salah satu cara pengolahan untuk mengendalikan karakteristik biologis limbah cair sebelum dibuang adalah dengan penggunaan desinfektan terhadap limbah cair.

Klorin merupakan salah satu senyawa kimia desinfektan yang banyak digunakan untuk mendesinfeksi limbah cair industri. Tujuan dilakukannya desinfeksi adalah memusnahkan mikroorganisme atau setidaknya mengurangi jumlahnya sampai ke tingkat yang memuaskan sebelum limbah cair industri tersebut dibuang. Berdasarkan perhitungan ekonomis, efisiensi dan kemudahan penggunaannya maka penggunaan klorin merupakan metode yang paling umum digunakan. Klorin ketika dilarutkan dalam air akan berubah menjadi asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl-) yang memiliki sifat desinfektan. HOCl dan ion OCl- bersifat sangat reaktif terhadap berbagai komponen sel bakteri. Selanjutnya HOCl dan ion OCl disebut sebagai klor aktif. Namun, klorin juga dapat menjadi toksik dan berbahaya jika kadarnya telah melebihi batas ambang toleransi terhadap limbah cair yang akan dibuang, sehingga perlu dilakukannya monitoring kadar klorin yang digunakan [1, 2].

 

Monitoring Kadar Klorin Secara Laboratorium dan On-line

Proses monitoring desinfektan tidak hanya di lakukan dalam skala laboratorium, namun juga di lakukan dalam skala on-line, sehingga nilai desinfektan dapat di monitoring setiap saat dan sesuai dengan kondisi desinfektan saat itu (tidak ada factor error karena sampling, atau penyimpanan sampel).

Monitoring klorin secara laboratorium, dapat menggunakan spektrofotometer Vis atau colorimeter. Hach memiliki instrument spektrofotmeter Vis DR 3900, DR 1900 dan colorimeter DR 900. Spektrofotometer Vis DR1900 merupakan spektrofotometer vis portable dan colorimeter DR 900, dapat menggunakan baterai untuk operasionalnya, sehingga memudahkan user untuk menguji sampel di lokasi sampling dengan cepat mudah dan akurat.

Sedangkan untuk monitoring kadar desinfekatan secara on-Line Hach menyediakan instrument CL17sc Colorimetric Chlorine Analyzer, dimana Analyzer ini untuk pengujian total klorin (CL17sc Colorimetric Chlorine Analyzer for Total Chlorine) dan free chlorine (CL17sc Colorimetric Chlorine Analyzer for Free Chlorine). Alat HACH CL17sc menggunakan kimia colorimetri DPD untuk memantau konsentrasi residu dan total klorin secara terus menerus. CL17sc merupakan solusi sederhana, dapat diandalkan dan ekonomis serta pilihan yang lebih disukai untuk instrument “high-maintenance” yang membutuhkan frekuensi kalibrasi tinggi. Metode analisa CL17sc “robust” dan tidak terpengaruh oleh perubahan konsentrasi klorin, pH sampel, suhu, arus atau tekanan sehinga menghasilkan akurasi dan reabilitas yang tinggi. Pemeliharaan rutin bulanan untuk CL17sc biasanya dapat dilakukan dalam beberapa menit, termasuk penggantian reagent dan pembersihan sel colorimetri. Tidak membutuhkan waktu khusus. Dalam penggunaan normal CL17sc akan beroperasi tanpa pengawasan selama 30 hari. EPA Compliant CL17sc ini kompatibel dengan US EPA peraturan CFR 141.74.

Gambar 1. CL17sc Colorimetric Chlorine Analyzer 

 

 

 

Referensi:

[1] Rosdiyanti, A., A. K. D. Firdaus., C. Sartika., I. Permatasari., K. L. Tresnami., L. Muharam., M. Widiastuti., M. B. Al-Haq., N. Wildasari., R. S. Mardiyanti., R. Sholihah., dan R. Nurfajrin. 2015. Desinfektan. Makalah Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Limbah Cair. Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan. Bandung

[2] Agung, T. U. 2009. Analisis Kadar Khlorida pada Air dan Air Limbah dengan Metode Argentometri. Karya ilmiah. Departemen Kimia, Program Studi Diploma-3 Kimia Analis, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara. Medan

[3] Purnawijayanti HA. 2001. Sanitasi, Higiene, dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

[4] Zulkifli, DR. Arif. 2015. Pengelolaan Limbah Cair atau Liquid Waste Management. https://bangazul.com/pengelolaan-lingkungan-dan-sumber-daya-alam/. Dipost pada 30 Oktober 2015. Diakses pada 28 Januari 2020 pukul 12:30 WIB.

Previous Article

UJI KUALITAS PAKAN : METODE ENZIMATIK ATAUKAH METODE WEENDE/VAN SOEST?

Monday, 27 January 2020
VIEW DETAILS

Next Article

pH Kolam Air Budidaya Ikan

Tuesday, 28 January 2020
VIEW DETAILS