Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001364624{main}( ).../news-detail.php:0
Pengujian Residu Klorin dalam Air Minum di Lapangan

Pengujian Residu Klorin dalam Air Minum di Lapangan

Friday, 06 August 2021

Apa dampak residu klorin pada Air Minum? Meski klorin berfungsi sebagai zat desinfektan yang baik, namun seluruh analis juga setuju bahwa klorin pun bisa menyebabkan keracunan jika penggunaannya berada di batas wajar, gejala yang ditimbulkan ialah napas sesak, ruam kemerahan di kulit, mual, bahkan muntah. Selain itu, kehadiran klorin bebas dalam air minum berkorelasi dengan tidak adanya sebagian besar organisme penyebab penyakit, dan parameter ini menjadi salah satu dari ukuran kelayakan air minum. Dalam SNI 01-3553 2006 disebutkan bahwa batas maksimal klorin bebas dalam air minum yaitu 0.1 mg/L untuk air mineral. Oleh karena itu, diperlukan uji yang presisi dan akurat untuk melakukan pemantauan (monitoring) terhadap kadar klorin.   

Klorinasi adalah metode desinfeksi air dengan menggunakan berbagai jenis klorin yang sangat populer yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Setiap jenis klorin yang ditambahkan ke air selama proses pengolahan akan menghasilkan pembentukan asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl-), yang merupakan senyawa desinfektan utama dalam air terklorinasi dan dikenal sebagai klorin bebas (free chlorine). Ketika klorin ditambahkan ke air sebagai desinfektan, serangkaian reaksi terjadi saat bahan organik dan logam yang ada di dalam air bereaksi sehingga mengubahnya menjadi senyawa yang tidak efektif untuk kebutuhan desinfeksi. Jumlah klorin yang digunakan dalam reaksi ini disebut kebutuhan klorin air. Setiap konsentrasi klorin yang tersisa setelah permintaan klorin terpenuhi disebut klorin total. Klorin total dibagi lagi menjadi: 

1) jumlah klorin yang kemudian bereaksi dengan nitrat yang ada di dalam air dan diubah menjadi senyawa yang kurang efektif sebagai desinfektan daripada klorin bebas (disebut klorin gabungan); dan

2) klorin bebas (free chlorine), yaitu klorin yang tersedia untuk menonaktifkan organisme penyebab penyakit, dan dengan demikian merupakan ukuran yang digunakan untuk menentukan kelayakan air.

 

Residu Klorin

Setiap jenis klorin yang ditambahkan ke air selama proses pengolahan akan menghasilkan pembentukan asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl-), yang merupakan senyawa desinfektan utama dalam air terklorinasi. 

Suatu Bentuk Klorin + H2O → HOCl + OCl-

Dari keduanya, asam hipoklorit adalah yang paling efektif. Jumlah setiap senyawa yang ada dalam air tergantung pada tingkat pH air sebelum penambahan klorin. Pada tingkat pH yang lebih rendah, asam hipoklorit akan mendominasi. Kombinasi asam hipoklorit dan ion hipoklorit membentuk apa yang disebut 'korin bebas' atau free chlorine. Klorin bebas memiliki potensi oksidasi yang tinggi dan merupakan disinfektan yang lebih efektif daripada bentuk klorin lainnya, seperti kloramin. Potensi oksidasi adalah ukuran seberapa mudah suatu senyawa akan bereaksi dengan yang lain. Potensi oksidasi yang tinggi berarti banyak senyawa yang berbeda dapat bereaksi dengan senyawa tersebut. Ini juga berarti bahwa senyawa akan tersedia untuk bereaksi dengan senyawa lain.

Jumlah klorin yang diperlukan untuk mendisinfeksi air tergantung pada kotoran dalam air yang perlu diolah. Banyak kotoran di dalam air membutuhkan sejumlah besar klorin untuk bereaksi dengan semua kotoran yang ada. Klorin yang ditambahkan pertama-tama harus bereaksi dengan semua kotoran di dalam air sebelum ada sisa klorin. Jumlah klorin yang diperlukan untuk memenuhi semua pengotor disebut 'permintaan klorin'. Jika klorin ditambahkan cukup, akan ada beberapa yang tersisa di dalam air setelah semua organisme dihancurkan, ini disebut klorin bebas. Klorin bebas akan tetap berada di dalam air sampai habis untuk menghancurkan kontaminasi baru. Oleh karena itu, jika kita menguji air dan menemukan bahwa masih ada sisa klorin bebas, ini membuktikan bahwa organisme paling berbahaya di dalam air telah dihilangkan dan aman untuk diminum. Inilah yang disebut dengan pengukuran residu klorin.

 

Pengukuran Residu Klorin 

Mengukur residu klorin dalam pasokan air adalah metode sederhana namun penting untuk memeriksa apakah air yang dialirkan aman untuk diminum. Jumlah residu klorin berubah pada siang dan malam hari. Dengan asumsi jaringan pipa berada di bawah tekanan sepanjang waktu, akan cenderung lebih banyak sisa klorin dalam sistem pada siang hari daripada pada malam hari. Hal ini karena air berada dalam sistem lebih lama di malam hari (saat permintaan lebih rendah) sehingga ada lebih banyak kesempatan untuk air terkontaminasi yang akan menghabiskan sisa klorin.

Residu klorin harus diperiksa secara teratur. Jika sistem baru atau telah direhabilitasi maka periksa setiap hari sampai Anda yakin bahwa proses klorinasi berjalan dengan baik. Setelah itu, lakukan pengecekan minimal seminggu sekali.

Klorin memiliki sifat tidak stabil dalam air, kandungan klorin dalam sampel akan berkurang seiring waktu. Oleh karena itu, klorin harus diukur segera setelah pengambilan sampel dan untuk sampel yang dikumpulkan dalam sistem distribusi, sebaiknya dilakukan analisis di lapangan dengan menggunakan alat uji lapangan (field test kit). Kit uji lapangan didasarkan pada metode kolorimetri untuk mengukur residu klorin dalam air. Metode kolorimetri yang digunakan yaitu N,N-diethyl-p-phenylenediamine (DPD, dimana metode DPD kolorimetri ini paling banyak digunakan untuk residu klorin dan sudah disetujui oleh United States Environmental Protection Agency (USEPA).

Gambar 1. Contoh Alat Uji Lapangan Parameter Residu Klorin dalam Air Minum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

CDC. 2020. Chlorine Residual Testing. Centers for Disease Control and Prevention  

Chlorine Residual Testing Fact Sheet, CDC SWS Project, safewater@cdc.go (www.ehproject.org/PDF/ehkm/cdc-chlorineresidual-updated.pdf)

Reed, Bob. 2004. How to measure chlorine residual in water. Technical Note No.11 of WHO. Loughborough University, Leicestershire, UK.

Safe Water. 2017. What is Chlorination. Drive North: Saskatoon. 

 


 

 

Previous Article

Uji Ketahanan Jamur pada Kertas

Wednesday, 04 August 2021
VIEW DETAILS

Next Article

Uji pH Bahan Kimia Teknis

Wednesday, 18 August 2021
VIEW DETAILS