Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search

( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0001363208{main}( ).../news-detail.php:0
Uji Ketahanan Jamur pada Kertas

Uji Ketahanan Jamur pada Kertas

Wednesday, 04 August 2021

Apa yang terjadi jika kertas berjamur? Tentunya kertas tersebut akan terlihat kusam, timbul bercak – bercak serta bau tidak sedap, mudah sobek atau bahkan berlubang karena terurai oleh jamur. Seluruh analis setuju bahwa jamur merupakan masalah yang sering dijumpai pada saat proses penyimpanan kertas. Oleh karena itu, untuk menjaga kualitas kertas agar tetap baik pada saat masa penyimpanan hingga sampai pada customer, beberapa inovasi dilakukan untuk mencegah tumbuhnya jamur seperti penambahan zat anti jamur (antifungal material) ataupun teknik pelapisan. Namun, efektivitas dari pemberian anti jamur harus diuji sehingga analis mengetahui nilai ketahanan produk kertas yang diuji. Beberapa standar yang dapat digunakan untuk mengetahui sifat ketahanan jamur pada kertas yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 1558 Tahun 2010 dan Tahun 1998 serta TAPPI T 631 om-89.

Jamur adalah mikroorganisme golongan eukariotik yang tidak termasuk dalam kategori tumbuhan. Jamur juga merupakan mikroorganisme pengurai material secara alami. Namun, tumbuhnya jamur seringkali menjadi masalah, baik untuk material yang menjadi inang, maupun pada lingkungan sekitarnya. Kertas adalah material yang seringkali ditumbuhi jamur karena terbuat dari serat selulosa yang mudah mengalami pembusukan ataupun penguraian. Dalam prosesnya, enzim yang disekresikan oleh jamur melembutkan serat selulosa kertas sehingga menyebabkan kertas mudah pecah. Selain itu, asam organik yang dilepaskan oleh jamur juga bereaksi dengan campuran bahan kimia besi yang terkandung dalam kertas dan mengakibatkan memunculkan bintik – bintik atau bercak – bercak pada kertas.

Pertumbuhan jamur biasanya dipicu oleh faktor eksternal seperti suhu ruangan, kelembaban ruangan, pencahayaan ruangan, serta kebersihan ruangan. Kondisi ruangan yang lembab dan hangat serta intensitas cahaya yang rendah atau bahkan gelap akan memicu jamur untuk lebih cepat tumbuh. Meski pada beberapa kasus, jamur juga berfungsi dalam pembuatan kertas, namun banyak juga spesies yang merugikan dan membawa dampak negatif pada proses manufaktur kertas. Dampak negatif dari tumbuhnya jamur pada kertas tidak hanya mengubah warna, bentuk serta bau kertas, tetapi juga dapat menimbulkan kontaminasi silang pada produk jika kertas digunakan sebagai bahan pengemas makanan. Beberapa spesies jamur yang dapat menguraikan (degradasi) kertas ditunjukkan pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Beberapa Jamur yang Menguraikan Kertas

No

Nama Jamur

1

Penicillium citrinium

2

Aspergillus niger

3

Sporotrichum thermophile

4

Trichoderma reesei

5

Penicillium pinophilium

6

Chaetomium globosum

7

Aureobasidium pullulans

 

Proses Penguraian Kertas Oleh Jamur dan Penanganannya

Proses penguraian kertas oleh jamur tidak luput dari peran enzim selulase, yakni enzim yang mengubah selulosa menjadi glukosa. Enzim ini adalah enzim alami yang menguraikan kertas di lingkungan, tetapi enzim ini kerap menjadi masalah bagi industri kertas. Mengapa? Hal ini karena sebagian besar produksi kertas berasal dari kertas bekas yang didaur ulang untuk alasan ekologi dan biaya (cost). Dalam prosesnya, selulosa akan bereaksi dengan enzim selulase dengan mekanisme yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Mekanisme Penguraian Selulosa oleh Enzim

Untuk mengantisipasi hal ini, beberapa manufaktur menerapkan zat anti jamur (antifungal) pada proses produksi kertas. Beberapa contoh bahan yang dapat digunakan sebagai anti jamur pada kertas adalah etanol, kalsium propionat dan paraben, eter selulosa serta garam kitosan. Dalam studinya, Sequira (2010) menyebutkan bahwa kalsium propionat dan paraben mampu mengantisipasi jamur Aspergillus Niger dalam jangka waktu penyimpanan selama 1 tahun. Namun, pemberian jenis zat anti- jamur ini bergantung pada jenis kertas yang akan diuji, dikarenakan kandungan kertas yang berbeda- beda di tiap variannya.

 

Cara Uji Ketahanan Kertas Terhadap Jamur

 

Disebutkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 1558 Tahun 2010 dan 1998 bahwa uji ketahanan jamur ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi antara kertas dan karton berdasarkan ketahanannya terhadap jamur. Pada uji ini dilakukan dengan menggunakan organisme yang spesifik sehingga analis dapat menentukan efektivitas dari perlakukan pemberian anti jamur pada kertas. Di sisi lain, uji ini bersifat subjektif sehingga uji ini tidak sepenuhnya menjamin bahwa lembaran kertas yang telah lulus uji akan bertahan terhadap seluruh organisme yang bersinggungan. Untuk uji yang lebih spesifik yakni untuk mengidentifikasi apakah kertas yang digunakan telah terkontaminasi atau tidak, analis dianjurkan untuk melakukan uji berdasarkan TAPPI T 631 om-89.

Pada prinsipnya, uji ini dilakukan dengan mengaplikasikan organisme spesifik pada sampel lembaran kertas dan menginkubasinya selama 21 hari pada suhu 28 ± 1 °C. Pengamatan dilakukan secara visual di tiap minggunya dengan tujuan untuk mengamati pertumbuhan organisme uji atau jamur lainnya. Organisme yang direkomendasikan pada standar uji ini adalah Chaetomium globosum, Aspergillus niger, dan Aspergillus terreus. Metode penyiapan inokulum yang direkomendasikan pun adalah metode spora-misellum dan metode spore-cloud. Sebelum dilakukan pengaplikasian inokulum pada lembaran kertas, lembaran kerta juga harus dipersiapkan sesuai dengan metode TAPPI T 400, yakni dengan melakukan sterilisasi pada bahan uji dan memotongnya dengan ukuran yang sama secara acak dan diambil sebanyak jumlah organisme yang digunakan, serta menyediakan 1 lembar sebagai kontrol dan menggunakan paling sedikit 3 organisme.

Dalam pengujiannya, dibutuhkan beberapa alat seperti inkubator (incubator), pipet mikro (micro-pipette), autoklaf (autoclave), oven, jarum inokulasi serta peralatan uji mikrobiologi lainnya. Untuk media, terdapat 2 jenis media yang direkomendasikan yakni potato-dextrose agar dan medium padat garam mineral (MSA). Karena pengunaan alat dan bahan dikategorikan sebagai hal yang penting, analis perlu melakukan peninjauan terhadap bahan maupun alat yang hendak digunakan dalam pengujian.

 

Pemilihan Alat Untuk Pengujian

 

Dalam memilih instrumen pengujian seperti autoklaf (autoclave), oven dan inkubator (incubator), terdapat beberapa hal perlu diperhatikan. Adapun hal tersebut mencakup material penyusun alat, range suhu, dan fitur yang ditawarkan. Mengapa? Alasan utama sekaligus tujuan dari pemilihan alat adalah untuk menjaga agar analis dapat memperoleh hasil yang presisi dan akurat. Beberapa tips dalam memilih alat inkubator, oven, serta autoclave dapat dilihat pada Tabel 2 dan contoh tampilan alat inkubator, oven, serta autoclave dapat dilihat pada Gambar 2.

Tabel 2. Tips Pemilihan Alat Inkubator, Autoklaf, dan Oven

Fitur dan Range

Inkubator

Autoklaf (Autoclave)

Oven

Material Penyusun

Material stainless steel lebih disarankan untuk mencegah adanya karat

Material stainless steel lebih disarankan untuk mencegah adanya karat ataupun kontaminasi silang

Material stainless steel lebih disarankan untuk mencegah adanya karat

Range suhu

Pilih inkubator yang dapat mencapai suhu target dengan sensor Pt100

Pilih autoclave dengan range suhu yang sedikit melebihi 121°C, hal ini untuk memberikan ruang pada nilai ketidakpastian dari suatu alat.

Khusus untuk autoclave, sesuaikan spesifikasi tekanan alat dengan kebutuhan.

Pilih oven yang dapat mencapai suhu target dengan sensor Pt100

Volume

Direkomendasikan untuk memilih alat dengan volume sesuai dengan kebutuhan

Direkomendasikan untuk memilih alat dengan volume sesuai dengan kebutuhan

Direkomendasikan untuk memilih alat dengan volume sesuai dengan kebutuhan

Resolusi

Direkomendasikan untuk memilih alat dengan resolusi sekecil mungkin, minimal 0.1 °C

Direkomendasikan untuk memilih alat dengan resolusi sekecil mungkin, minimal 0.1 °C

Direkomendasikan untuk memilih alat dengan resolusi sekecil mungkin, minimal 0.1 °C

Akurasi

Disarankan untuk memilih inkubator dengan nilai ketidakpastian tidak melebihi ± 1 °C

(belum ada sumber yang menyebutkan akurasi autoclave)

Disarankan untuk memilih oven dengan nilai ketidakpastian tidak melebihi ± 2 °C

Display

Pastikan untuk memilih inkubator dengan display suhu dan waktu dalam bentuk angka digital.

 

Jika terdapat fitur touch-pad ataupun touchscreen lebih disarankan

Jika memilih autoclave manual, pastikan terdapat pengukur tekanan dan suhu pada alat, Jika memilih autoclave otomatis, pastikan terdapat display lampu untuk setiap tahap yang dilalui Alat.

Pastikan untuk memilih oven dengan display suhu dan waktu dalam bentuk angka digital.

 

 

Jika terdapat fitur touch-pad ataupun touchscreen lebih disarankan

Fitur lainnya

Usahakan untuk memilih alat yang dilengkapi Alarm,

Akan lebih baik jika alat memiliki program yang dapat diatur oleh analis

 

Gambar 2. Contoh Tampilan Alat (a) Inkubator (b) Autoklaf (c) Oven

 

Referensi :

Badan Standardisasi Nasional. 2010. Standar Nasional Indonesia Nomor 1558 “Kertas dan Karton : Cara Uji Ketahanan terhadap Jamur”

Jerusik, Russell.J. 2010. Review : Fungi and Manufacture, Fungal Biology Reviews 24, Hal 68 - 72

Purwani, Indah. 2014. Fakta Tentang Jamur dan Debu Buku di Perpustakaan : Bahaya Yang Mengancam Koleksi dan Kesehatan Pustakawan, https://www.perpusnas.go.id/magazine-detail.php?lang=en&id=8326 diakses Hari Rabu Tanggal 4 Agustus 2021 Pukul 09.35

Sequeira, Silvia.O.,dkk. 2017. Ethanol As An Antifungal Treatment for Paper : Short-term and Long-term Effects, Studies in Conservation, Volume 62, Number 1, p.33-42, https://www.iiconservation.org/node/6842 diakses pada Hari Selasa Tanggal 3 Agustus 2021 Pukul 09.30

TAPPI T631 om-89 “Microbiologcal Examinationof Process Water and Slush Pulp”

TAPPI T400 “Sampling and Accepting a Single Lot of Paper, Paperboard, Containerboard or Related Product”

Previous Article

Uji Kestabilan Cat dalam Penyimpanan

Tuesday, 27 July 2021
VIEW DETAILS

Next Article

Pengujian Residu Klorin dalam Air Minum di Lapangan

Friday, 06 August 2021
VIEW DETAILS