| ( ! ) Notice: Trying to access array offset on value of type null in /home2/sakaka/public_html/web/news-detail.php on line 100 | ||||
|---|---|---|---|---|
| Call Stack | ||||
| # | Time | Memory | Function | Location |
| 1 | 0.0001 | 363352 | {main}( ) | .../news-detail.php:0 |

Nilai torsi sangat berkaitan erat dengan stabilitas produk dengan kemasan tutup ulir. Nilai torsi dijadikan acuan untuk mengetahui apakah kemasan produk yang hendak diedarkan telah memenuhi syarat untuk menjaga produk tetap stabil dengan spesifikasi yang telah ditetapkan atau tidak. Hal ini karena lingkungan dapat menyebabkan ketidakstabilan produk yang menyebabkan karakteristiknya berubah. Disisi lain, nilai torsi juga menjadi rujukan kemasan tergolong mudah atau sulit untuk dibuka. Baik stabilitas produk maupun kemudahan pembukaan kemasan, keduanya sangat mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen saat menerima produk.
Stabilitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk mempertahankan kondisi dan karakteristik yang telah dispesifikasikan oleh manufaktur. Untuk mempertahankan spesifikasinya, produk dikemas sedemikian rupa agar tidak terkontak langsung dengan ambien sekitar, yang dapat menyebabkan kontaminasi baik secara kimia, fisika, maupun mikrobiologi. Contohnya dalam kasus kapsul yang dikemas dalam botol dengan tutup putar. Dalam hal ini kemasan berfungsi untuk mencegah kontak kapsul dengan kadar air diudara yang dapat mengubah sifat fisik kapsul menjadi lembek, disisi lain kandungan produk dalam kapsul pun juga akan terdampak. Contoh lainnya pada sediaan krim kosmetik, dimana kemasan harus tertutup rapat agar zat - zat aktif yang terkandung didalamnya tidak teroksidasi ataupun menguap yang dapat menghilangkan fungsi dari krim tersebut. Dengan demikian pengukuran torsi menjadi penting untuk dilakukan guna menjaga produk tetap dalam kondisi terbaiknya.
Prinsip Uji Torsi dan Cara Kerja Torque Meter
Torsi diukur dengan sensor torque yang sering dikenal dengan alat torque meter, torque transducer, torque cell, torque gauge, ataupun moment sensor. Pengukuran dilakukan dengan menjepit suatu botol sehingga tetap dalam keadaan diam, lalu mengaplikasikan torsi untuk menutup dan membuka botol tersebut. Torsi yang diaplikasikan ini menyebabkan adanya tekanan yang dialami oleh botol dan tekanan tersebut akan dibaca oleh detektor sehingga dapat dikalkulasikan secara otomatis menjadi nilai torsi yang terbaca pada display. Nilai torsi akan muncul dalam satuan Nm (Newton meter).

Gambar 1. Contoh Tampilan Alat Torque Meter (A) Static Torque Meter dan (B) Dynamic Torque Meter
Cara mengoperasikan Alat Torque Meter cukup sederhana, analis hanya perlu melakukan zeroing pada alat sehingga alat memunculkan 0.000 Nm pada display alat. Setelahnya, analis perlu mengoperasikan karet holder untuk mengunci sampel botol atau kemasan yang hendak diukur torsinya. Pada torque meter statis, aplikasikan torsi dengan cara menerapkan gaya putar pada tutup botol sampel. Nilai torsi akan terukur pada display secara otomatis dalam bentuk angka digital. Pada beberapa torque meter, tersedia juga menu yang dapat mendeteksi arah putaran torsi yang digunakan, yakni antara searah (clockwise) dan berlawanan arah jarum jam (Counterclockwise).

Gambar 2. Contoh Tampilan Display pada (A) searah jarum jam (clockwise) dan (B) berlawanan arah jarum jam (counterclockwise)
Uji stabilitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui seberapa stabil suatu produk dan mengetahui umur simpan produk tersebut. Disamping itu, uji stabilitas juga diterapkan untuk mengevaluasi kemasan yang digunakan, apakah kemasan tersebut cocok dengan produk yang hendak diedarkan atau justru berpotensi terjadi reaksi samping antara zat aktif yang terkandung dalam produk dan material packaging yang digunakan dalam kurun waktu tertentu. Bereaksinya zat aktif yang terkandung dalam produk dengan material yang terkandung dalam kemasan ini dapat mempengaruhi nilai torsi kemasan, dengan menaikan atau justru menurunkan torsi. Selain itu, hal ini juga menyebabkan hilangnya integritas kemasan sehingga memicu adanya kebocoran pada kemasan. Disamping itu, uji stabilitas juga menjadi acuan untuk mengevaluasi kecocokan material kemasan dan kekuatan segel produk. Dengan kata lain, uji stabilitas juga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memilih rentang torsi yang sebaiknya diaplikasikan pada kemasan produk yang diedarkan.
Merujuk pada ICH Guideline dan ASEAN Stability Test Guideline, uji stabilitas untuk zona iklim IVB, dapat dilakukan dengan menggunakan metode percepatan (accelerated test) dan metode jangka panjang (long term test). Keduanya dilakukan dengan menyimpan sampel produk pada kondisi tertentu selama jangka waktu tertentu yang disertai dengan pengujian terhadap parameter - parameter kritis produk terkait yang menjadi indikator utama produk tersebut telah terdegradasi. Masing - masing kondisi dan durasi uji dari kedua metode ini ditunjukkan pada Tabel 1.
| Metode Uji Stabilitas | Suhu | Kelembaban | Durasi Penyimpanan |
| Uji Percepatan (Accelerated Test) | 25oC ± 2 oC | 60% rH ± 5% rH | 6 Bulan |
| Uji Jangka Panjang (Long Term Test) | 40oC ± 2oC | 75% rH ± 5% rH | 12 Bulan |

Referensi :
ASEAN. 2018. ASEAN Guideline on Stability Study of Drug Product Revision 2
International Council of Harmonization (ICH). International Conference of Technical Requirements For Registration of Pharmaceuticals For Human Use : Stability Test of New Drug Substances and Products Q1A (R2)
International Council of Harmonization (ICH). International Conference of Technical Requirements For Registration of Pharmaceuticals For Human Use : ICH Guideline Q1E “Evaluation Data For Stability Test”
Kaur, Maninderjit., dkk. 2013. Overview on Stability Studies. International Journal of Pharmaceutical, Chemical and Biological Sciences, 3(4), 1231-1241