Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Uji Pewarna Tambahan pada Makanan dan Minuman

Uji Pewarna Tambahan pada Makanan dan Minuman

Tuesday, 01 December 2020

Tahukah Anda, zat pewarna yang dipakai pada makanan dan minuman dapat berbahaya bagi kesehatan? Zat pewarna ini juga disebut sebagai zat aditif,  yaitu bahan yang ditambahkan dan dicampurkan ke dalam produk makanan dan minuman selama proses pengolahan, penyimpanan, dan pengemasan. Zat ini berguna untuk memberi kesan menarik terhadap makanan dan minuman itu sendiri, serta untuk menggugah selera konsumen untuk mengonsumsi produk tersebut. Penggunaan zat pewarna ini masih diperbolehkan selama pewarna yang digunakan termasuk dalam golongan pewarna makanan dan minuman. Namun dalam penggunaannya, penggunaan zat aditif tetaplah harus dalam pengawasan, yakni penggunaannya sesuai dengan takaran yang dianjurkan. Oleh karena itu,  uji zat pewarna ini perlu dilakukan sebelum produk dipasarkan, hal ini guna untuk menjamin produk yang dipasarkan telah aman untuk dikonsumsi.

Penggunaan pewarna makanan dan minuman di Indonesia diatur secara ketat oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut regulasi, pewarna makanan dan minuman dikategorikan menjadi pewarna alami dan sintetis.

 

Pewarna Alami dan Sintetis pada Makanan dan Minuman

Menurut BPOM, pewarna alami adalah bahan tambahan pangan yang dibuat melalui proses ekstraksi, isolasi, atau derivatisasi (sintesis parsial) dari tumbuhan, hewan, mineral, atau sumber alami lain. Hingga kini, pemakaian pewarna makanan alami dianggap lebih aman dan kurang menimbulkan efek samping.

Beberapa jenis pewarna yang tergolong alami mengandung zat-zat, seperti:

  1. Karoten (Caroten) adalah zat warna yang menghasilkan warna merah tua, kuning, atau jingga yang terdapat pada buah atau sayur, dan warna serupa, misalnya wortel, ubi merah, dan labu. Karoten merupakan pewarna yang larut dalam lemak sehingga baik digunakan untuk mewarnai berbagai produk susu.
  2. Klorofil (Clorophyll) adalah zat warna yang menghasilkan warna hijau. Klorofil terkandung dalam semua tumbuhan yang berwarna hijau, termasuk bayam dan daun mint. Klorofil merupakan aspek penting bagi tumbuhan karena digunakan dalam proses fotosintesis.
  3. Antosianin (Antocyanin) adalah zat warna yang menghasilkan warna ungu dan biru, yang biasanya didapatkan dari buah, seperti anggur, blueberry, dan cranberry. Pewarna ini mampu larut dalam air sehingga paling baik digunakan untuk membuat agar-agar, soft drink, dan sirup.
  4. Selain ketiga pewarna alami tersebut, BPOM juga menyebut pewarna makanan alami yang sudah diolah menjadi produk siap pakai dan memiliki izin edar BPOM. Pewarna tersebut di antaranya adalah kurkumin, riboflavin, karamel, merah bit, hingga titanium dioksida.

Selain itu, pewarna makanan dan minuman sintetis juga aman digunakan, asalkan memang diperuntukkan bagi bahan tambahan pangan dan tidak digunakan secara berlebihan. Terdapat 11 jenis pewarna sintetis yang disebut aman oleh BPOM, yaitu:

  1. Tartrazin CI. No. 19140 (Tartrazine)
  2. Kuning kuinolin CI. No. 47005 (Quinoline yellow)
  3. Kuning FCF CI. No. 15985 (Sunset yellow FCF)
  4. Karmoisin CI. No. 14720 (Azorubine (carmoisine))
  5. Ponceau 4R CI. No. 16255 (Ponceau 4R (cochineal red A)
  6. Eritrosin CI. No. 45430 (Erythrosine)
  7. Merah allura CI. No. 16035 (Allura red AC)
  8. Indigotin CI. No. 73015 (Indigotine (indigo carmine))
  9. Biru berlian FCF CI No. 42090 (Brilliant blue FCF)
  10. Hijau FCF CI. No. 42053 (Fast green FCF)
  11. Coklat HT CI. No. 20285 (Brown HT).

 

Namun, hal yang perlu diwaspadai adalah adanya kecenderungan penggunaan yang salah dengan penggunaan bahan pewarna untuk keperluan lain, misalnya pewarna tekstil yang mengandung bahan kimia berbahaya. Mewarnai makanan dan minuman dengan bahan kimia berbahaya dapat merugikan kesehatan konsumen.

 

Pewarna Makanan yang Berbahaya

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 239/ Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan Sebagai Bahan Berbahaya, termasuk rhodamin B dan kuning metanil. Pelarangan tersebut tentunya berkaitan dengan dampaknya yang merugikan kesehatan manusia.
 

1. Rhodamine B

Pewarna rhodamine B harusnya digunakan sebagai pewarna kertas, tekstil (sutra, wool, kapas), sabun, kayu, dan kulit. Rhodamine B juga sering digunakan sebagai reagensia di laboratorium untuk pengujian beberapa bahan kimia, seperti antimon, kobal, niobium, emas, mangan, air raksa, tantalum, talium dan tungsten yang menggunakan air raksa. Secara fisik, rhodamin B merupakan padatan kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, sedangkan warna yang dihasilkan adalah merah kebiruan yang mencolok. Bila masuk ke tubuh manusia, misalnya lewat makanan, rhodamine B dapat mengakibatkan keracunan hingga menumpuk di tubuh dan menyebabkan gangguan fungsi hati, bahkan munculnya sel-sel kanker hati.

2. Kuning Metanil

Pewarna ini merupakan pewarna pada tekstil dan cat, serta bisa juga digunakan sebagai indikator reaksi netralisasi (asam-basa). Kuning metanil terbuat dari asam metanilat dan difenilamin yang berbahaya jika digunakan sebagai pewarna makanan.Ketika zat kimia berbahaya ini masuk ke tubuh manusia, reaksi bahayanya mungkin tidak akan terasa pada saat itu juga. Namun, penumpukan zat kimia dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan munculnya tumor dalam jaringan hati, kandung kemih, saluran pencernaan, atau jaringan kulit.

 

Cara Uji Pewarna Tambahan pada Makanan dan Minuman

Penjaminan mutu produk makanan dan minuman salah satunya adalah uji warna. Uji warna pada makanan dan minuman dilakukan dengan prinsip pengerjaan sebagai berikut:

  • Penyerapan zat warna sampel oleh poliamida dilanjutkan dengan pelarutan zat warna yang telah bebas dari pengotor dalam NaOH metanolat. Pada pH tertentu dan setelah pekatan, pembandingan zat warna contoh dengan zat warna standar dilakukan secara kromatografi kertas. Uji warna secara kromatografi kertas menggunakan benang wol yaitu dengan penyerapan zat sampel benang wol yang telah berwarna. Kemudian larutan zat warna dalam ammonia yang telah dipekatkan diidentifikasi secara kromatografi kertas dengan zat warna makanan sebagai standar.
  • Sampel yang berupa cairan akan dimasukkan ke dalam kolom poliamida sepanjang 2 cm. selanjutnya zat pewarna yang terserap dicuci dengan aseton dan air panas untuk menghilangkan pengotor (gula, asam dan sebagainya). Kemudian dilakukan elusi dengan NaOH metanolat untuk melepas zat pewarna. Selanjutnya pH sampel diatur hingga menjadi pH 5 – 6 dengan cara menambahkan larutan asam asetat metanolat. Setelah itu, larutan metanolat diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator (rotavapor) yang disambungkan dengan water chiller dan vacuum pump untuk mempercepat proses penguapan, kemudian dilanjutkan dengan melakukan identifikasi warna secara kromatografi kertas.
  • Selain itu, untuk sampel yang berbentuk padatan atau pasta dapat dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu dan selanjutnya dimasukkan ke dalam kolom poliamida. Nilai pH diukur dan diatur dengan menambahkan pelarut. Hasil larutan kemudian diproses dalam rotavapor yang disambungkan dengan water chiller dan vacuum pump (contoh gambar alat, dapat dilihat pada Gambar 1). Selanjutnya, warna diidentifikasi secara kromatografi kertas.

Gambar 1. Rotary evaporator (rotavapor), water chiller, dan vacuum pump.

Dari penjabaran diatas, telah dibahas bahwa berbagai bahan pewarna yang digunakan sebagai pewarna makanan dan minuman. Namun tingkat bahaya yang ditimbulkan bergantung pada takaran yang digunakan dan perlu diuji tingkat keamanannya.

 

Referensi:
(Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 472/ Menkes/ Per/ V/ 1996 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi Kesehatan).

 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 239/ Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan Sebagai Bahan Berbahaya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2006. Bahan Berbahaya yang Dilarang untuk Pangan. Website resmi BPOM. https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/139/BAHAN-BERBAHAYA-YANG-

Previous Article

Winlog Software : Permudah Monitoring Kondisi Selama Proses Pengiriman

Tuesday, 24 November 2020
VIEW DETAILS

Next Article

Produk Kecantikan : Uji Stabilitas Produk dengan Oxitest

Friday, 18 December 2020
VIEW DETAILS