Sumber Aneka Karya Abadi - Your trusted partner for laboratory instrument

Search
Metode Kjeldahl untuk Penentuan protein pada Beer

Metode Kjeldahl untuk Penentuan protein pada Beer

Wednesday, 23 January 2019

Beer adalah salah satu produk fermentasi alkohol yang dibuat dengan menggunakan bantuan ragi (yeast). Bahan utama lainnya yang digunakan untuk membuat beer adalah gandum, buah hop dan air. Namun terdapat beberapa jenis beer yang mengandung zat tambahan lainnya untuk mempertahankan kekhasan produk yang dimiliki.

Proses pembuatan beer pada umumnya terdiri dari beberapa tahap, seperti malting, brewing, mashing, cooling, aging process, serta fermentasi kedua1. Pada prosesnya, monitoring protein haruslah dilakukan secara rutin. Hal ini karena proses akan sangat menentukan citarasa dari produk yang dihasilkan. Monitoring pertama yang harus dilakukan terhadap protein adalah pada saat proses brewing (pemasakan bir)2. Hal ini sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan dari yeast yang digunakan. 

Peran yeast sangatlah berpengaruh terhadap kadar gizi yang ada pada Beer. Salah satu yang berkaitan terhadapnya adalah kadar protein dan asam amino yang terdapat dalam beer3. Menurut penelitian sebelumnya, protein dan asam amino yang terdapat dalam beer juga berfungsi sebagai penstabil Foam (busa) yang terbentuk4. Namun bila terlalu banyak protein saat proses fermentasi berlangsung, maka foam yang terbentuk akan semakin banyak dan akan berdampak negatif bagi produk akhir. Oleh sebab itu monitoring protein dalam pembuatan beer haruslah dilakukan.

Berdasarkan AOAC Official method 920.53, monitoring protein dapat dilakukan dengan metode kjeldahl yang terdiri dari 3 tahap yaitu :

  1. Digestion (pemanasan sampel dengan katalis)

    Pada tahap ini, sampel dipanaskan pada suhu tinggi dalam waktu tertentu dengan adanya penambahan Asam sulfat pekat (95% - 98%), metal atau katalis metalloid (Hg, Se, Cu), K2SO4, Na2SO4. Pada proses ini terjadi dekomposisi produk dengan hasil akhir ammonium sulfat. Proses ini dapat dibantu dengan menggunakan alat DK6 series yang ditunjang dengan SMS Scrubber dan JP Pump.

 

  1. Distilation (distilasi)

Tahap ini merupakan tahap lanjutan dari tahap digestion, hasil ammonium sulfat diolah pada proses ini dengan penambahan H2O dan NaOH 30% serta Asam Borat sehingga menghasilkan larutan ammonia. Praktis untuk tahap ini, dapat digunakan alat distilasi UDK 139.

 

  1. Titration (Titrasi)

Tahap akhir dari metode ini adalah titrasi yang dapat menggunakan alat digital titrator Titroline 5000. Hasil dari tahap 2 adalah larutan yang bersifat basa, sehingga Titrant yang digunakan adalah HCL atau H2SO4 0.1N.

 

Dari Uraian diatas, gambar rangkaian alat yang dapat digunakan pada metode ini ditunjukkan pada Gambar 1. Fungsi dari penggunaan JP Pump dan SMS Scrubber adalah untuk menetralisir gas toksik yang dihasilkan dari proses digesti sampel.

 

 

Gambar 1. Rangkaian Alat untuk proses monitoring protein

 

Penggunaan alat digital memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan alat manual, perbedaan keduanya ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan Penggunaan alat manual dan digital

Parameter

Alat digital

Alat Manual

Waktu

Lebih singkat

Membutuhkan waktu yang cukup lama

Penggunaan reagen

Lebih hemat

Reagen yang dibutuhkan lebih banyak dalam sekali analisis

Keamanan 

Lebih aman :

- Uap panas yang dihasilkan dapat diolah dengan menggunakan SMS Scrubber dan JP Pump,

penambahan reagen menggunakan alat pada tahap destilasi dan 

Lebih beresiko

Susunan Alat lebih praktis Membutuhkan waktu untuk menyusun alat

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Singh, Kavindra., Atul Anand Mishra, dan Amit Kumar Yadav. 2016. Study on Beer Production from Selected Varieties of Barley. International Research Journal of Engineering and Technology (IRJET), volume 3

  2. VELP Scientifica. 2013. Application Note : N/Protein Determination in Beer

  3. Blasco, Lucía., Miquel Viñas, dan Tomás G.Villa. 2011. Proteins influencing foam formation in wine and beer: the role of yeast, International Microbiology (14), hal 61-71

  4. Gorinstein, S., dkk. 1999. Proteins and amino acids in beers, their contents and relationships with other analytical data, Food chemistry (67), hal 71-78

  5. Howitz, Dr. William. dan Dr.George W.Latimer,Jr. 2006. Official Methods of Analysis of AOAC INTERNATIONAL 18th Edition, 2005. Gathersburg : The Association Official Agricultural Chemist.

Previous Article

Koagulasi dan Flokulasi dalam Pengolahan Limbah

Tuesday, 15 January 2019
VIEW DETAILS

Next Article

Total dan Derajat Keasaman dalam Susu Segar

Tuesday, 29 January 2019
VIEW DETAILS